Rehabilitasi 49 Gedung SD di Lampura 30 Persen Kelar

  • Bagikan
SDN Sidodadi atapnya nyaris ambruk dan sangat membahayakan keselamatan para siswa.
SDN Sidodadi atapnya nyaris ambruk dan sangat membahayakan keselamatan para siswa.

Feaby|Teraslampung.com

Kotabumi–Rehabilitasi 49 gedung Sekolah Dasar di Lampung Utara yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan tahun 2016 ini telah mencapai tahap 30 persen. Ke-49 SD itu tersebar di sejumlah kecamatan yang ada di daerah tersebut.

“Total sekolah yang mendapat rehabilitasi atau pembangunan gedung yang sumber dananya berasal dari DAK tahun ini berjumlah 49 unit. Saat ini, tahapan pengerjaannya sudah mencapai 49 persen,” kata Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan, Juni Riyadi, Sabtu (26/11/2016).

Menurut Juni Riyadi, rehabilitasi atau pembangunan gedung sekolah yang bersumber dari DAK tahun 2016 ini yang hanya sekitar Rp3,4 Miliar ini, seluruhnya diperuntukkan bagi Sekolah Dasar sebagaimana yang diharuskan dalam Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis penggunaan DAK tahun 2016.

Ke-49 SD yang mendapat bantuan DAK ini, terus Juni Riyadi, telah sesuai mekanisme yang dilakukan ‎oleh tim yang terdiri dari Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU), dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Mekanisme itu di antaranya meliputi survey kelayakan usai proposoal pengajuan rehabilitasi diajukan pihak sekolah diterima dan penentuan besaran alokasi dana yang akan diterima masing – masing sekolah pengaju permohonan perbaikan gedung.

Adapun fokus utama rehabilitasi atau pembangunan dari DAK 2016 ini difokuskan untuk merehabilitasi gedung sekolah baik yang rusak ringan, sedang, atau berat. Selain itu, ‎diperuntukkan untuk pembangunan gedung perpustakaan dan pembangunan ruang kelas baru.

“Besaran DAK yang diterima masing – masing sekolah bervariatif mulai dari Rp60 juta hingga Rp315 juta,” tuturnya.

Juni Riyadi menguraikan, pengerjaan rehabilitasi atau pembangunan gedung sekolah yang telah mencapai tahap 30 persen ini dimulai sejak tanggal 14 Oktober ‎silam. Seluruh pengerjaan rehabilitasi ini harus selesai sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan yakni paling lambat hingga 31 Desember mendatang.

“Tanggal 31 Desember mendatang, semuanya harus sudah selesai. Itu batas waktu yang harus mereka patuhi,” jelas Juni.

‎Meski berpacu dengan waktu, ia optimis pengerjaan rehabilitasi atau pembangunan gedung yang menggunakan sistem swakelola itu akan selesai pada waktunya tanpa mengesampingkan kualitas rehabilitasi itu sendiri. Untuk itu, pihaknya akan selalu mengawasi proses pengerjaan rehabilitasi itu agar hasilnya dapat memuaskan dan selesai tepat pada waktunya.

“Kami akan pro aktif turun ke lapangan supaya kualitas pekerjaannya sesuai standar dan selesai sesuai waktunya,” katanya lagi.‎

  • Bagikan