Beranda Kolom Sepak Pojok Rekom, Mahar, dan Budaya Latah

Rekom, Mahar, dan Budaya Latah

373
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Seiring dengan ramainya pemlihan kepala daerah (pilkada), ata “rekom” tiba-tiba sering menjadi bagian dari topik utama diskusi dan ngerumpi kelas kafe di sejumlah daerah di Indonesia. Yang mencomot dan memakai kata itu tidak peduli dari mana asal kata itu dan apa artinya. Mereka mengartikan rekom sama saja dengan rekomendasi.

Sederhananya, rekom dianggap sebagai penyingkatan kata rekomendasi. Dengan asumsi itu, orang yang mengucapkan kata “rekom” meyakini bahwa lawan bicaranya atau bahkan masyarakat luas sudah tahu bahwa kata itu sama maknanya dengan rekomendasi.

Lucunya, ada juga media online dan koran yang menulis rekomendasi dengan menyingkatnya menjadi rekom. Dan tak ada protes atau kriitik terhadapnya.

Ya, rekom jelas lebih singkat dan mudah diucapkan ketimbang kata rekomendasi. Rekom hanya terdiri atas dua suku kata, sedangkan rekomendasi lima suku kata.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) rekom tidak punya lema.Kata rekom tidak tercantum dalam kamus bahasa kita. Sedangkan rekomendasi menurut KBBI berarti: (1)  hal minta perhatian bahwa orang yang disebut dapat dipercaya, baik (biasa dinyatakan dengan surat); penyuguhan; (2)  saran yang menganjurkan (membenarkan, menguatkan).

Pak Bedul memberikan rekomendasi kepada Pak Suto Blawong menjadi calon kepala daerah berari Pak Bedul memberikan kepercayaan kepada Pak Suto Blawong untuk menjadi calon kepala daerah. Dalam aturan main, rekomendasi untuk Pak Suto Blawong diwujudkan dalam bentuk surat. Surat kepercayaan akan pilihan Pak Bedul kepada Pak Suto Blawong disebut surat rekomendasi. Praktiknya, sering disebut rekomendasi saja.

Rekom adalah bahasa lisan sebagai manifestsi kemalasan seseorang untuk mengucapkan sebuah kata yang dinilainya terlalu panjang.

Kata yang juga bernasib sama dengn rekom adalah perpus dan lab. Sejak 29 tahun lalu, saya sudah sering mendengar kawan-kawan saya sesama mahasiswa mengucapkan kata perpus. Jauh sebelum era 80-an, kata lab juga sudah sering dipakai untuk menunjuk pada kata laboratorium.

Bagaimana dengan mahar? Nah ini, kata mahar pada beberapa hari terakhir menjadi makin hot (baca: panas dan menarik) karena beredarnya video rekaman seorang tajir yang diminta uang untuk bisa direkomendasikan menjadi calon gubernur Jawa Timur. Ia menyebut dengan intonasi cukup jelas kata “mahar” untuk menunjuk pada uang setoran kepada ketua partai. Dalam tulisan ini yang penting bukanlah soal benar-tidaknya uang setoran itu, tetapi pemakaian kata “mahar”.

Mahar menurut KBBI adalah  pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan akad nikah; mas kawin.

Pada perkembangannya kemudian, mahar juga berarti harga jasa atau harga barang yang dijual. Seseorang yang ingin benda bertuah,misalnya, biasanya akan dimintai mahar. Para paranormal atau dukun juga sering menyebut mahar untuk mengganti istilah uang jasa. Mahar menjadi alat penghalusan kata.Ia telah mengandung makna peyorasi, jauh dari makna semula (mas kawin).

Begitulah praktik berbahasa kita. Kita,orang Indonesia, biasanya akan lebih suka pada yang singkat, gampang, instan, dan terhanyut arus budaya latah. Kata Rekom, perpus, lab, serta penggunaan kata mahar di dunia politik dan bisnis (jasa) adalah bentuk budaya latah.

Latah satu (orang) latah semua. Satu orang memakai kata mahar bukan dalam konteks perkawinan yang lain akan ikut juga, lalu menjadi massal, dan dianggap sebagai benar.

Dalam politik: satu partai minta “mahar”, mungkin yang lain (diam-diam) (minta) dan menerima juga. Sayangnya, yang memberi “mahar” biasanya tidak berkoar-koar.