Beranda Kolom Sepak Pojok Rekonsiliasi: Menyambung Tulang yang Patah

Rekonsiliasi: Menyambung Tulang yang Patah

287
BERBAGI

Muadin Efuari

Benturan sosial yang kuat dan dalam Pilpres 2019, seperti mematahkan tulang belulang tubuh negeri ini. Benturan yang disengaja dan tak di sengaja karena bercampurnya kepentingan ideologis dan kepentingan pragmatis.

Ada dua pilihan tindakan untuk menyambung kan tulang belulang yang patah: operasi besar (medik) atau sangkal putung (nonmedik). Kita pasti berdebat panjang soal pilihan tindakan ini, meski nyeri di tubuh negeri makin berkerenyit sakit katagori patah tulang yang multifaktor. Maka, tindakan operasi besar adalah sebuah pilihan yang paling rasional.

Dalam sebuah kamar operasi untuk menyambung tulang belulang yang patah tak ada teriakan yang dapat didengar dari luar ruang operasi, tak seperti sebagian politisi negeri ini, terus membangun opini untuk mempertebal konsesi.

Para petugas yang akan menyambung tulang yang patah mempersiapkan diri untuk berkonsentrasi agar tidak tergoda dengan munculnya kepentingan pribadi.

Tulang belulang yang patah disambung kan secara cermat dan bijaksana dengan terus menerus menghindari rasa nyeri, tanpa pernah berpikir tentang tindakan amputasi.
Semua tindakan petugas di kamar operasi didasarkan demi sebuah keselamatan dan kemanfaatan bersama.

Seperti dikamar operasi, jika pilihan rekonsiliasi menjadi pilihan dalam menyelamatkan negeri ini maka perlu dipersiapkan oleh orang orang yang amat arif dan bijak, didesain secara detail tanpa banyak wacana.

Tindakan perlu segera dilakukan agar tidak lagi terjadi benturan yang bisa mematahkan tulang punggung hingga melumpuhkan negeri ini.

Loading...