Beranda Teras Berita Rektor UGM Temui Kapolda, Florence Dibebaskan dari Tahanan

Rektor UGM Temui Kapolda, Florence Dibebaskan dari Tahanan

214
BERBAGI
Florence Sihombing, (dok)

YOGYA, Teraslampung.com – Untuk sementara, Florence Sihombing, mahasiswa UGM asal Sumatera Utara yang ditahan Polda DIY karena menghina Yogya, dibebaskan, Senin, 1 September 2014, pukul 14.50 WIB.

Florence meninggalkan tahanan Polda DIY ditemani Heribertus Jaka Triyana, Sekretaris Komite Etik Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Kedua orang tua Florence turut menjemput Florence di Polda.

Begitu keluar tahanan, Florence kembali meminta maaf kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X dan masyarakat Yogyakarta atas tindakannya yang mencaci dan menghina masyarakat Yogyakarta di media sosial Path.

“Pertama-tama, saya kembali meminta maaf atas kesalahan kata-kata yang saya sampaikan kepada warga Yogyakarta, kepada Sultan, untuk mau memberikan maaf kepada saya,” kata Florence di Polda DIY, Senin, 1 September 2014.

Heribertus mengatakan, pembebasan sementara Florence karena Fakultas Hukum UGM mengajukan penangguhan penahanan kepada polisi terhadap mahasiswa S2 Notariat itu. Pimpinan  Polda DIY kemudian mengabulkannya.

Direktur Kriminal Khusus Polda DIY, Komisaris Besar Kokot Indarto, menyatakan sebelum Florence dibebaskan Rektor UGM telah menghadap Kapolda. “Semangatnya ingin melakukan komisi etik internal. Dalam penangguhan penahanan, ia dapat sewaktu-waktu dipanggil,” kata Kokot, Senin (1/9).

Menurut Kokot, penangguhan penahanan itu tidak menghentikan proses hukum bagi Florence. Florence juga masih dikenai wajib lapor ke Polda DIY setiap Senin dan Kamis.
Sidang Etik

Setelah dikeluarkan dari tahanan, Florence Sihombing masih harus menghadapi sidang komite etik di Fakultas Hukum UGM tempatnya menempuh studi S-2 Kenotariatan. Menurut Dekan Fakultas Hukum UGM, Paripurna, sidang komite etik terhadap Florence, tetap akan dilakukan.

Semula sidang etik akan digelar pada Senin (1/9), setelah Florence keluar dari tahanan.Namun, kemudian ditunda 2 hingga 3 hari ke depan. Namun terkait sanksi yang akan diberikan, Paripurna mengatakan belum mengetahui karena sidang belum berlangsung.

Paripurna mengatakan, penangguhan penahanan Florence dilakukan setelah dirinya datang langsung ke Polda DIY. Menurutnya, Florence tidak perlu ditahan karena ada jaminan tidak akan merusak barang bukti, tidak melarikan diri dan tidak mengulangi perbuatannya.

“Apalagi, status Florence adalah mahasiswa. Kami menandatangani jaminan bahwa Florence tidak akan merusak barang bukti dan sebagainya,” kata dia, Senin (1/9).

Menurut Paripurna, pihak UGM meminta maaf atas perbuatan Florence yang berkicau menghina warga Yogya di Path. “Kami juga mencari solusi dan sepakat dengan Kapolda ada terbuka kemungkinan untuk membawa kasus ini tidak ke hukum tapi ke ranah etika,” jelasnya.

Sementara itu,  Direktur Kriminal Khusus Polda DIY,  Kombes Pol Kokot Indarto, mengatakan penyidik akan mendatangkan psikolog untuk membaca profil Florence. Terkait anggapan bahwa tindakan yang dilakukan Polda DIY terlalu berlebihan, Kokot mengatakan Polda DIY berusaha membangun budaya hukum, bukan budaya opini yang merupakan pendapat perorangan.

“Kalau cuma opini semua orang bisa, tapi kami bertindak berdasarkan hukum. Kalau sudah berhubungan dengan medsos mau tidak mau harus tahu batasan dan larangannya,” katanya. (Dewira

Baca: Florence tak Layak Ditahan dan Harus Dibebaskan
Baca Juga: Willy Pramudya: “Flo, Wajahmu adalah Paradoks Negerimu. Juga Wajah Kami…”