Beranda News Nusantara Remaja di Bali Tewas Tertusuk Keris Saat Pentas Calonarang

Remaja di Bali Tewas Tertusuk Keris Saat Pentas Calonarang

362
BERBAGI
Pementasan Calonarang (ilustrasi/kabarnusa.com)

JEMBRANA, Teraslampung.com — Kasus meninggalnya Komang Ngurah Trisna Para Merta (14), yang diduga tertusuk keris saat memerankan ‘Rangda’ pada pementasan Calonarang di Pura Jati Luwih, Desa Pohsanten, Senin (12/10/2015) dini hari lalu, memasuki babak baru.

Setelah jasad warga  Lingkungan Delod Bale Agung, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana itu diautopsi di Forensik RSUP Sanglah Denpasar, Kamis (15/10) sore, diketahui penyebab kematian korban, diduga akibat tusukan atau tikaman keris saat pentas Calonarang.

“Kami telah melakukan autopsi terhadap korban kemarin sore,” terang dr Ida Bagus Alit, dokter Forensik RSUP Sanglah yang menangani otopsi korban kepada wartawan, Jumat (16/10/2015) .

Menurutnya autopsi dilakukan mulai pukul 16.00-17.00 Wita. Dilakukan pembedahan perut untuk mengetahui organ-organ yang luka, sebagai penyebab kematian korban.

“Untuk hasil autopsi, kami sudah sampaikan kepada penyidk, silahkan konfirmasi ke penyidik,” sergahnya.

Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Gusti Made Sudarma Putra dikonfirmasi di ruang kerjanya mengaku ikut mendampingi proses autopsi terhadap jasad korban.

“Menurut keterangan dokter yang melakukan autopsi luka korban, menembus usus besar dan diduga itu menjadi penyebab kematian korban,” imbuhnya..

Hanya saja, untuk keterangan lebih rinci, pihaknya masih menunggu hasil autopsi secara resmi.

Seni Calonarang di Bali memang sudah menjadi tradisi dan setiap kali dipertontonkan selalu memikat penonton.

Yang menarik dari tradisi ini adalah sosok Rangda yang digambarkan gebal oleh senjata tajam yang tidak mempan, walau ditusuk bertubi-tubi oleh para ‘Nying; dengan menggunakan keris.

Tentu saja, saat adengan penusukan bertubi-tubi ini, orang yang memerankan tokoh Rangda ini telah kerauhan (kesurupan). Calonarang merupakan seni yang sakral dan bernuansa magis.

Sayangnya, pementasan Calonarang di Jembrana oleh salah satu kelompok Calonarang berakhir duka.

Awalnya, pertunjukan ini berjalan mulus. Namun entah kenapa pementasan calonarang di Pura ini justru memakan korban jiwa.

I Komang Ngurah Trisna Para Merta (14), pelajar SMP asal Lingkungan Delod Bale Agung, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, yang merankan tokoh Rangda pada pementasan Calonarang di Pura Jati Luih, Desa Pangkung Jangu, Mendoyo.

Merya  tiba-tiba ambruk setelah ditusuk dengan kris oleh Nying (pemeran tukang tusuk/tikam), Senin (12/10/2015) pukul 00.30 Wita.

“Padahal menurut keterangan bapaknya Ketut Gayada, anaknya saat itu sudah kerangsukan atau kesurupan,“ terang Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Gusti Made Sudarma Putra, Rabu (14/10/2015) malam.

Mengetahui korban (Rangda) jatuh tengkurep menurut Sudarma Putra, para pemain calonarang lainnya berusaha membalikan korban. Sayangnya dari perut korban (Randa) mengeluarkan darah.

“Korban kemudian diajak ke Pura dan kemudian dilarikan ke RSUD Negara untuk mendapatkan pertolongan. Dari pemeriksaan dokter korban mengalami luka tusuk pada lambung sedalam 1 cm,” ujar Sudarma Putra.

Sempat dirawat sehari, korban kemudian dibawa pulang keluarganya. Untuk selanjutnya menjalani perawatan di rumahnya.

Sering Kesurupan
I Komang Ngurah Trisna Para Merta sudah lama menyukai seni Calonarang. Tidak banyak keterangan yang didapat terkait musibah yang menimpa korkan. Pihak keluarga memilih menutupi kasusnya.

Hanya keterangan dari pihak tetangganya yang bisa dihimpun.

Korban tinggal di Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, awalnya sering kerauhan (kesurupan).

Acap kali kesurupan, korban yang bertubuh tambun ini, selalu menyebut-nyebut Tapakan Randa.

“Karena sering kesurupan itulah bapaknya langsung membuatkan topeng Rangda kemudian dipasupati (diupacarai), ujar Iibu Komang (45), salah seorang tetangga korban, Kamis (15/10/2015) .

Sejak itulah korban terus aktif ikut pertunjukan calonarang, memerankan sosok Rangda. Bapak korban serorang pemangku, selalu mendukung kegiatan anaknya.

“Korban memang sering ikut calonarang sebagai Randa. Tapi tidak pernah tampil keluar desa. Biasanya mesolah di Pura Puseh dan Pura Dalem Tegalcangkring,” tutur Bu Komang dan dibenarkan warga lainnya.

Hanya waktu kejadian itulah korban didampingi bapaknya pertama kali tampil di luar desa.

Sebenarnya,. pihak panitia saat itu katanya sudah melarang korban tampil calonarang di Pura Jati Luih, tapi korban tetap memaksa untuk tampil hingga terjadi musibah tersebut.

Mungkin penampilannya tidak direstui Ida Betara di Pura itu atau entah karena apa hingga terjadi musibah tersebut.

“Sekarang pengabenan korban katanya akan dilakukan setelah Karya di Rambut Siwi,” pungkasnnya.

sumber: kabarnusa.com