Beranda News Nasional Remotivi Sebut Protes Prabowo ke Media Justru Membingungkan

Remotivi Sebut Protes Prabowo ke Media Justru Membingungkan

78
BERBAGI
Calon Presiden RI Prabowo Subianto (kedua kanan) saat menghadiri Sidang Pleno Ijtima' Ulama dan Tokoh Nasional II di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Minggu, 16 September 2018. Peserta Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional II untuk memberikan dukungan kepada calon Presiden dan Wakil Presiden yang telah diputuskan dalam rapat tersebut. TEMPO/Muhammad Hidayat

TERASLAMPUNG.COM — Koordinator Divisi Penelitian Lembaga Pusat Kajian Media dan Komunikasi Remotivi, Muhamad Heychael, menyebut protes calon presiden Prabowo Subianto terhadap media dan wartawan ihwal pemberitaan Reuni 212 justru membingungkan.

Prabowo sebelumnya memprotes media yang disebutnya tidak menyiarkan acara Reuni 212. Dia juga menyoal pemberitaan media yang tak menyebut bahwa orang yang hadir mencapai jutaan hingga belasan juta.

Heychael mengatakan, menurut pengamatan lembaganya, stasiun-stasiun televisi sebenarnya ikut menyiarkan acara tersebut. Namun siaran itu memang tak berlangsung hampir sepanjang acara seperti yang dilakukan sebuah stasiun televisi swasta.

“Sejauh pengamatan kami menyiarkan, memang tidak semuanya seperti TV One yang bisa dibilang seharian,” kata Heychael kepada Tempo, Rabu malam, 5 Desember 2018.

Heychael menuturkan, Remotivi mengamati siaran-siaran sejumlah stasiun televisi berbentuk berita pendek yang ditayangkan beberapa kali. Dia pun berujar, stasiun televisi tidak memiliki kewajiban untuk menyiarkan acara itu seperti TV One yang menayangkannya seharian.

Menanggapi protes Prabowo yang menyoal acara Reuni 212 tak menjadi berita utama alias headline koran nasional, dosen di Universitas Multimedia Nusantara ini berujar, lagi-lagi media tak memiliki kewajiban untuk menjadikannya headline. Redaksi, kata Heychael, jelas memiliki pertimbangan dan bebas menentukan apa yang layak dimuat serta menjadi berita utama. “Itu bukan mandatori, apa mandatori-nya untuk jadi headline?”

Ketiga, ihwal jumlah peserta Reuni 212. Heychael mengatakan hal ini menjadi persoalan sejak demonstrasi pada 2 Desember 2016. Heychael merujuk pada perkiraan yang dibuat BBC Indonesia dua tahun lalu.

BBC menganalisis berdasarkan luas ruang dan kepadatan orang tiap meter persegi. Hasilnya, jumlah peserta aksi 2 Desember 2016 diperkirakan 500 ribu orang. Namun panitia mengklaim jumlah peserta mencapai tujuh juta. Perbedaan ini pun memicu perdebatan di media sosial.

“Justru aneh kalau wartawan yang harusnya bekerja berdasarkan fakta dipaksa untuk mengakui angka yang enggak masuk akal,” ujar Heychael.

Prabowo sebelumnya mengungkapkan protesnya karena media-media kondang di Indonesia tak memberitakan kegiatan Reuni 212. Dia juga tak terima ada pemberitaan media yang menyebut jumlah massa yang hadir tak sampai belasan juta.

“Hampir semua media tidak mau meliput sebelas juta lebih orang yang kumpul,” kata Prabowo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu, 5 Desember 2018.

Prabowo juga menyinggung media cetak yang tak menulis kegiatan itu. Salah satunya, Prabowo memprotes Koran Tempo yang tak menulis perihal itu. “Di tempo.co ada? Tapi koran enggak ada kan,” kata Prabowo.

Di media sosial, politikus pendukung Prabowo juga membuat perbandingan antara headline koran-koran nasional pada hari Senin, 3 Desember. Politikus Partai Demokrat, Jansen Sitindaon, misalnya, mengunggah foto headline koran-koran nasional di akun Twitternya sembari menuding media sulit berlaku adil.

Ada enam koran nasional yang difoto, yakni Republika, Kompas, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Jawa Pos, dan Koran Tempo. Dari enam, hanya dua media, yakni Republika dan Rakyat Merdeka yang memuat berita utama ihwal Reuni 212.

Tempo.co

Loading...