‘Remuk Njero’

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada suatu kesempatan seorang sohib yang mantan petinggi koran terkenal daerah ini  dan juga mantan orang nomor dua di satu kabupaten Lampung mengirimkan guntingan koran nasional yang berisi tulisan dari tokoh terkenal di Republik Indonesia yang kita cintai ini: Buya Syafii Ma’arif. Buya Syafii adala mantan Ketua Umum Perserikatan Muhammadiyah. Penulis lebih senang menyejajarkan tokoh ini dengan Buya Hamka; bahkan lebih pas jika diberi label mereka berdua ini adalah “dua raga satu jiwa beda masa”.

Ketokohan keduanya melampaui generasinya. Hanya saja, Buya Hamka hidup pada masa kegelapan ideologi, sementara Buya Syafii hidup pada periode masa terang benderangnya kebebasan. Oleh karena itu,  kebebasan, kejernihan, keobjektifan penilaian Buya Syafii terhadap kondisi masa kini berdasar pada data dan fakta; menjadi begitu membuat kita terhenyak untuk melihat kenyataan negeri ini lebih jernih. Tulisan ini mencoba melihat dari sisi kecil yang mungkin terlewatkan oleh Buya dalam memotretnya, walau mungkin tidak penting benar, namun paling tidak melengkapi figura agar lebih jelas gambar yang ditampilkan.

Tulisan Buya Syafii yang dimuat harian Kompas edisi 10 November 2021 bertajuk “Mentereng di Luar, Remuk di Dalam”. Dalam opini tersebut Buya Syafii mengulas tentang kondisi mutakhir Indonesia yang terlihat mentereng menurut orang luar, tetapi sejatinya di dalamnya remuk.

Kita semua harus jujur bahwa pembangunan fisik terutama sarana prasarana lalulintas atau transportasi, prasarana yang berkaitan dengan pangan (berupa bendungan, embung, dlsb); ada hampir di setiap pulau yang ada di negeri ini. Banyak rakyat di daerah itu seolah mimpi melihat kemajuan daerahnya; bahkan mereka merasa baru saja merdeka. Bahkan ada di suatu daerah yang tidak pernah memimpikan bahwa daerahnya akan memiliki sarana prasarana seperti yang mereka lihat dan rasakan.

Setiap pimpinan negeri ini datang ke suatu daerah, pasti daerah itu akan disulap seperti negeri seribu satu malam. Inilah yang menurut saya mental peninggalan Orde Baru yang tidak pernah hilang, bahkan sekarang seperti mendapatkan persemaian subur kembali.

Kekhawatiran inilah yang dirisaukan oleh Buya Syafii; namun tampaknya pimpinan negeri ini sudah mencium kebiasaan ini; maka sering sekali membuat acara di luar skenario panitia, atau pemerintah setempat. Tentu saja kebiasaan begini lama lama terbaca; dan diantisipasi lebih awal semua peluang dan kemungkinan oleh tuan rumah; caranya menyusun agenda dengan skenario berjilid atau berseri. Sehingga semua menjadi rapi jali; dan terkandang menjadi geli karena seperti kita menipu diri sendiri.

Kerisauan Buya Syafii yang melihat perintah istana sering dibelokarahkan oleh para petinggi di daerah; dengan menggandeng pihak ketiga sebagai kelompok yang sangat berkepentingan. Secara kasat mata hal itu tampak samar; namun sebenarnya gelombang di bawah sana lebih dahsyat. Bisa di bayangkan seorang kepala daerah karena ingin terkenal daerahnya, atau menjadi moncer, menggunakan payung atas nama even olahraga Asia Tenggara; yang bersangkutan sanggup membelokkan arah pembangunan Masjid, untuk kepentingan yang besar seolah olah, yang di ujung sana ada pundi pundi milik pribadi yang harus dipenuhi. itu sudah amat luar biasa; sekelas Yusuf Muda Dalam yang dulu dituduh korupsi pada perusahaan negara zaman Orla menjelang Orba; tidak berani untuk menilep dana masjid.

Belum lagi kita mendengar dan menyimak suguhan lembaga anti rasuah yang hampir setiap bulan menggiring temuan untuk diberi baju oranye.  Itu pun pemakai baju terlihat asik asik saja, bahkan foto bersama dengan bangga. Ini berarti menunjukkan kegagalan sistem lini tengah dan lini depan serta gelandang kiri kanan, tidak berjalan secara serasi, jika persepakbolahan kita jadikan tamsil.

Lebih tampak lagi jika kita gunakan ibarat; pemimpin negeri ini sebagai pemain orgen, dengan sangat piwai melagukan apa saja dengan dibantu seperangkat pemain lain, seperti bas gitar, dram, dan lainnya. Namun, mereka asyik bermain di atas panggung. Mereka  tidak menyadari suara mereka tidak terdengar oleh penikmat di bawah atau di luar gedung. Karena ada satu organ penting yaitu penata suara yang tugasnya memainkan nanda dan volume dari masing masing banyi alat musik melalui alat di bawah kekuasaannya, sehingga terjadi harmonisasi yang baik. Ternyata petugas ini bermain mata dengan pihak ketiga dalam mengatur bunyi. Pihak ketiga mengatur bunyi mana yang harus keras, lalu bunyi mana yang dihilangkan dengan cara memberikan fasilitas atau imbalan pada juru atur tadi. Sayangnya, pemain di atas panggung di dalam gedung sana tidak menyadari ini semua.

Ini kemampuan Buya Safii memotret kemudian menyampaikan kepada para pemain terutama pemain orgennya; adalah keberanian luar biasa. Dengan cara santun, namun keras; itulah ciri Buya Syafii dalam memilih diksi. Namun bagi  mereka yang memiliki telinga tipis, akan terasa sekali kritikan beliau sebagai umpan balik kepada para pemain musik tadi. Hanya disesalkan, jangan jangan suara kritis Buya oleh pengatur suara tadi justru dibelokkan agar tidak terdengar, atau dikerjain nadanya; menjadi seolah-olah terlewat dari pendengaran.

Tampaknya negeri ini tidak cukup hanya diruwat,  tetapi lebih  harus terus dikawal oleh kita semua sebagai warga bangsa; tidak perduli apa profesi kita, agama kita, suku kita; dan apapun pembeda yang membuat kita beda. Semua itu sah-sah saja sebagai diversity; namun harus tetap dalam kesatuan  dengan bingkai persatuan; sehingga kita menyelamatkan “kapal induk” yang bernama NKRI ini dari kehancuran.

Salam takzim buat Buya Syafii, walau suara ini tidak Buya dengar, namun paling tidak meningkatkan frekuensi suara sehingga amplituddonya meninggi. Semoga negeri ini tidak “remuk njero” (remuk di dalam) dan juga tidak pula “pahit di dalam, manis di luar”.***

 

  • Bagikan