Beranda Video RENDRA: SAJAK SEBATANG LISONG

RENDRA: SAJAK SEBATANG LISONG

243
BERBAGI

Sajak karya Rendra ini, “Sajak Sebatang Lisong”, seolah sudah menjadi konvensi bagi para pengelanggara lomba baca puisi: sering menjadi puisi wajib. Sajak protes ini maknanya sangat mudah dipahami. Biasanya menjadi favorit bagi anak-anak muda yang sedang belajar puisi.

Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935, dengan nama asli Rendra (Willibrordus Surendra Broto Rendra). Publik sastra mengenalnya sebagai WS Rendra. Ketika memeluk agama Islam, nama WS di depan namanya kepanjangannya diubah menjadi Wahyu Sulaiman, sehingga menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Namun, dalam perkembangannya kemuudian, ia lebih akrab dipanggil Rendra. Orang-orang terdekatnya menyapanya sebagai “Mas Willy”.

Sejak remaja hingga akhir hayatnya, Rendra bersetia pada dunia kebudayaan. Ia wafat di Citayam, Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun.

Dalam dunia panggung sastra Indonesia, Rendra terkenal sebagai “Si Burung Merak. Julukan itu populer karena saat membacakan puisi-puisinya di atas panggung penampilan Rendra sangat elok, menawan. Dan, faktanya, memang, Rendra saat di atas panggung seperti sedang berlenggak-lenggok layaknya burung merak.

Ia mendirikan Bengkel Teaterdi Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik,pada Oktober 1985 ia  kemudian ia memindahkan markasnya dari Yogya ke sebuah perkampungan di pinggiran Jakarta, yakni di daerah Citayam, Depok, Jawa Barat. Nama Bengkel Teater pun diganti menjadi Benngkel Teater Rendra.

 l

Loading...