Beranda Ekbis Ekonomi Restrukturisasi Kredit Macet, OJK Pernah Tegur BTN

Restrukturisasi Kredit Macet, OJK Pernah Tegur BTN

149
BERBAGI

JAKARTA, Teraslampung.com – Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Irwan Lubis menyatakan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. pernah
mendapatkan sanksi terkait ketidakberesan laporan keuangan.

Hal ini menyusul temuan OJK dan Bank Indonesia mengenai tidak terpenuhinya
penetapan perhitungan kolektibilitas kredit macet yang direstrukturisasi. Meski
begitu, menurut Irwan, istilah window dressing yang disebut-sebut
belakangan tidak sesuai dengan kasus di BTN.

“Dalam kasus BTN lebih banyak kepada aspek tidak memenuhi penetapan
kolektibilitas kredit restrukturisasi atau kredit macet yang direstrukturisasi
tidak sesuai ketentuan. Penggunaan istilah window dressing itu tidak
pas sebenarnya untuk case BTN ini. Kalau window dressing itu
kan sengaja mengaburkan pencatatan dan laporan keuangan, sehingga berdampak
serius terhadap kondisi keuangan bank,” kata Irwan, di Jakarta, Minggu
(4/5).

Berita Terkait: Kredit Macet: Kejati Panggil Mantan Kepala Cabang BTN Lampung

Dalam kasus BTN, kata Lubis, lebih dominan aspek tidak terpenuhinya penetapan
kolektibilitas kredit restrukturisasi. “Kalaupun kredit macet itu
direstrukturisasi, tetapi restrukturisasinya tidak sesuai ketentuan,” katanya.

Menurut Irwan, ketidakberesan laporan keuangan tersebut dilakukan dengan
merestrukturisasi kredit macet kolektibilitas 5 menjadi lancar. Padahal, untuk
menaikkan kolektibilitas, harus melewati kolektabilitas 4 atau 3 terlebih
dahulu, atau masuk kolektibilitas diragukan atau kurang lancar.

“Hingga saat ini BTN masih terus membenahi laporan keuangannya dan juga
terus diawasi OJK. Ke depan , apabila BTN akan melakukan restrukturisasi kredit
macet harus memperoleh izin dari pimpinan regulator terkait.BI sudah mengambil
tindakan tegas waktu itu,makanya direksi tidak lolos fit and proper test
lagi waktu mau perpanjang. Dan kita di OJK meneruskan dan memastikan supervisory
tersebut,” kata dia.

Berdasarkan laporan keuangan BTN 2013 yang telah diaudit, rasio kredit
bermasalah (non performing loan/NPL)  net bank tersebut mencapai 3,04% dan NPL gross
sebesar 4,05%, tertinggi di antara 3 BUMN lainnya, yakni NPL Bank Mandiri yang
sebesar 0,58%, NPL BNI 0,5%, dan NPL BRI 0,34%.

Nilai kredit macet BTN juga terus membesar setiap tahun. Sejak 2009-2013,
kredit macet yang masuk kolektibilitas 5 naik dari hanya Rp1,06 triliun (2009)
menjadi Rp3,15 triliun. Terus naiknya nilai kredit macet di BTN menimbulkan
kecurigaan bahwa beberapa pengembang, yang selama ini menolak ide akuisisi,
justru merupakan pihak yang membuat kualitas kredit bank tersebut terus
merosot.

Sampai 31 Maret 2014, BTN mencatatkan pertumbuhan yang melambat pada kuartal
I/2014 yakni tumbuh 2% dari posisi Rp334 miliar menjadi Rp341 miliar. Padahal, pada
periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan mencatatkan pertumbuhan laba
hingga 6,71% dari posisi Rp312,8 miliar.

Kaitan rencana rencana akuisisi BTN oleh Mandiri, Irwan mengatakan pihaknya mendukung
jika akuisisi itu berdampak baik bagi Bank Mandiri dan Bank BTN. (Dewi Ria Angela)

Loading...