Beranda Ruwa Jurai Lampung Selatan Ribuan Warga Sidomulyo Antusias Nobar Film G 30 S – PKI

Ribuan Warga Sidomulyo Antusias Nobar Film G 30 S – PKI

442
BERBAGI
Nobar film G 30 S -PKI di Lapangan Sidomulyo, Lampung Selatan

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Sekitar 4.000-an warga dari berbagai desa di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang digelar oleh Komando Rayon Militer (Koramil) 421/07 Sidomulyo bersama pemerintah Desa Sidorejo dan Uspika setempat yang digelar di lapangan sepak bola, Sabtu (30/9/2017) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

“Nobar ini atas inisiasi Koramil Sidomulyo dan kami sebagai pemerintah desa, untuk menggelar nobar film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI tersebut. Hal ini dilakukan, agar jangan sampai paham-paham komunis atau radikal yang memang dilarang di Indonesia kembali ada. Untuk itu kami beserta warga dan Koramil Sidomulyo nobar film tersebut,”kata Kepala Desa (Kades) Sidorejo, Tommy Yulianto kepada teraslampung.com dilokasi nobar, Sabtu (30/9/2017) malam.

Menurutnya, ada sekitar 4000 lebih warga dari berbagai Desa di Kecamatan Sidomulyo, yang datang nobar film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI yang digelar malam ini.

“Mayoritas paling banyak menonton adalah kalangan anak-anak muda, mereka antusias menyaksikan film tersebut karena ingin mengetahui sejarah,”ujarnya.

Tommy sapaan akrabnya mengatakan, kegiatan nobar film tersebut, diharapkan masyarakat lebih mewaspadai paham-paham komunis (PKI) yang belakangan ini santer diperbincangkan. Meski ada yang pro dan kontra mengenai film tersebut, namun menurut pria yang sudah dua periode menjabat sebagai Kepala Desa Sidorejo ini, film tersebut bisa menjadi pembelajaran sejarah yang kelam untuk kita semua agar tidak terulang kembali.

“Terlepas ada pro dan kontra, ambil sisi positifnya saja. Sebagai warga, jangan sampai kejadian yang tergambar di film tersebut terulang lagi. Ini jadi pembelajaran bagi generasi muda, untuk terus menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang selama ini sudah terjaga dengan baik,”ungkapnya.

Dikatakannya, nobar film G30S/PKI yang sudah bertahun-tahun tidak lagi diputar di stasiun TV nasional tersebut, tentunya menjadi pengingat dan pelajaran bagi masyarakat di desa akan bahanyanya paham komunis. Selain itu juga, menjadi kewaspadaan bagi kami sebagai pejabat pemerintah desa, terhadap paham-paham tertentu yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

“Film ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua, supaya kejadian kelam itu jangan sampai terulang lagi. Harapannya, film sejarah ini bisa ditonton lagi setiap tahunnya jadi tidak hanya kali ini saja,”terangnya.

Sementara Katman (45) mengatakan, sebagai warga ia sangat mengapresiasi Koramil Sidomulyo bersama pemerintah desa serta Uspika yang telah berinisiatif menggelar nonton bareng (nobar) film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI tersebut. Karena film tersebut, sudah tidak lagi diputar di stasiun televisi selama beberapa tahun belakangan ini. Sehingga anak-anak generasi muda sekarang ini, tidak mengetahui mengenai sejarah yang pernah terjadi pada waktu itu.

“Anak-anak muda sekarang inikan benar-benar banyak yang nggak tau mas. lha anak saya sendiri saja, nggak tau apa itu PKI dan bagaimana sejarah pada waktu yang terjadi. Saya berharap, pemerintah bisa memutar lagi film itu di layar kaca (televisi). Ya supaya anak-anak muda ini tahu mengenai sejarah, dan juga untuk mengenang dan menhormati jasa-jasa pahlawan yang telah gugur pada waktu itu,”ucapnya.

Pantauan teraslampung.com, selain anak-anak dan pelajar, para orangtua juga banyak berdatangan memadati lapangan sepak bola Sidomulyo untuk nobar film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI karya sutradara ternama, Arifin C Noor yang sempat menjadi perbincangkan (perdebatan) dari berbagai kalangan masyarakat. Selain masyarakat umum, para prajurit TNI Koramil Sidomulyo yakni Bintara pembina desa (Babinsa) bersama keluarganya turut menyaksikan film tersebut.

Ribuan warga tampak serius menyaksikan film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI berdurasi kurang lebih empat jam di layar lebar berukuran 5×2 meter, yang terpasang di tengah-tengah lapangan sepak bola Sidomulyo hingga film tersebut usai hingga pukul 23.40 WIB.