Beranda Views Inspirasi Riko Stefanus, Penyelamat Lumba-Lumba Teluk Kiluan

Riko Stefanus, Penyelamat Lumba-Lumba Teluk Kiluan

1130
BERBAGI
Oyos Saroso H.N.

Seandainya tidak ada kerja keras seorang pemuda bernama Riko Stafanus (40), para wisatawan asing dan wisatawan lokal mungkin tidak akan bisa menikmati indahnya bercengkerama dengan lumba-lumba di Teluk Kiluan. Maklum, teluk yang berada di wilayah Kabupaten Tanggamus itu selama ini memang nyaris tidak pernah terdengar. Teluk Kiluan tidak seterkenal Teluk Lampung di Bandarlampung atau Teluk Tomini di Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

Berkat usaha keras Riko Stefanus menyelamatkan habitat penyu dan lumba-lumba di Teluk Kiluan, kawasan wisata yang masih “perawan” itu kini banyak dikunjungi wisatawan asing dan domestik.

Sejumlah wisatawan mengaku tarian lumba-lumba Teluk Kiluan lebih eksotis dibanding lumba-lumba Pantai Lovina di Bali. Kalau lumba-lumba di Pantai Lovina hanya sejenis dan jumlahnya hanya
ratusan, di Teluk Kiluan terdapat dua jenis lumba-lumba (lumba-lumba hidung botol atau Tursiops truncatus dan  lumba-lumba hidang panjang atau Stenella longirostris) dengan jumlah ribuan ekor.

Selain momen Kiluan Fishing Week yang  biasa digelar pada bulan Agustus, dengan menyewa sebuah perahu pada hari-hari biasa para wisatawan juga menikmati tarian ikan lumba-lumba yang berlompatan. Dengan menyewa perahu nelayan, wisatawan bisa berjam-jam bercengkerama bersama ribuan lumba-lumba yang bergantian terus menari di udara.

Pintu masuk teluk berupa selat sempit yang membatasi Selat Sunda dengan perairan teluk. Di Teluk Kiluan berdiam penduduk Dusun Bandung Jaya merupakan bagian dari Desa Kelumbayan. Ada sekitar 200 Kepala Keluarga mendiami pantai TelukKiluan, dengan pekerjaan utama nelayan dan pekebun. Hasil laut perairan Teluk Kiluan seolah menjadi “ladang emas” bagi penduduk Bandung Jaya.

Belasan tahun lalu jangankan ada wisawan datang ke Teluk Kiluan. Nama Teluk Kiluan pun asing bagi warga Lampung. Maka, ketika Yayasan Ekowisata Cikal mempromosikan
wisata di Teluk Kiluan yang dihuni ribuan lumba-lumba banyak warga Lampung heran. Lebih heran lagi ketika mengetahui bahwa sudah banyak wisatawan asing yang lebih dulu menikmati eksotisme lumba-lumba Teluk Kiluan.

Sebelum diselamatkan oleh Riko bersama nelayan setempat, lumba-lumba di Teluk Kiluan memang nyaris punah karena setiap hari diburu para nelayan besar dari PulauJawa. Kini, lumba-lumba tersebut menjadi hiburan para wisatawan sekaligus mendatangkan uang bagi para nelayan setempat.

“Sejak beberapa tahun terakhir banyak nelayan di sekitar Teluk Kiluan yang menjadi pemandu wisata. Mereka juga bersama-sama kami di Yayasan Ekowisata Cikal Indonesia menyelamatkan lumba-lumba dari serbuan para pemburu,” kata Riko.

Riko pun kemudian mulai menyelamatkan lumba-lumba bersama warga sekitar Teluk Kiluan. Awalnya Riko sangat shock ketika menyaksikan lumba-lumba di sekitarTeluk Kiluan selama ini menjadi sasaran para pemburu liar.

Baca Juga: Di Teluk Kiluan Kita Bisa Mengintip Penyu Bertelur

“Padahal, ikan lumba-lumba itulah yang selama ini menjadi teman bagi para nelayan tradisional di sepanjang Teluk Kiluan hingga Teluk Semangka di Kabupaten Tanggamus.  Lumba-lumba Teluk Kiluan menjadi petunjuk bagi para nelayan untuk mencari ikan. Biasanya di daerah yang banyak ikan lumba-lumbanya akan banyak ikan-ikan besar yang biasa ditangkap para nelayan,” ujarnya.

Menurut Riko, para nelayan tradisional di sekitar Teluk Kiluan tidak pernah menangkap ikan lumba-lumba. Sebab, menurut kepercayaan para nelayan, lumba-lumba adalah teman sejak zaman nenek moyang mereka dulu. Para penangkap ikan lumba-lumba biasanya nelayan dengan kapal besar yang berasal dari Banten dan Jakarta.

Lumba-lumba hasil tangkapan para nelayan besar asal Pulau Jawa itu dipakai sebagai umpan untuk memancing ikan hiu. Setelah ditangkap , lumba-lumba dipotong-potong dalam ukuran sekitar 5-10 cm2 kemudian dicantelkan pada ratusan mata pancing.

“Kalau itu dibiarkan lama-lama lumba-lumba di Teluk Kiluan akan punah,” kata ayah dua putra itu.

Menyadari ikan lumba-lumba lama kelamaan akan habis jika diburu tiap hari, lima tahun lalu Riko mengajak para nelayan lokal untuk melakukan upaya penyelamatan. Caranya, antara lain dengan melakukan pengamanan dan pengusiran terhadap para pemburu lumba-lumba.

“Kami harus mengajak para nelayan lokal bersatu karena para pemburu liar sering mengancam dengan senjata tajam dan senjata api,” kata Riko.

Agar para nelayan di sekitar Teluk Kiluan mendapatkan manfaat ekonomi, Riko kemudian mengajak puluhan warga di enam perkampungan nelayan di sekitar Teluk Kiluan membentuk kelompok ekowisata. Kelompok-kelompok ekowisata itu berada di bawah koordinasi Yayasan Ekowisata Cikal yang diketuai Riko Stefanus.

“Karena sekarang Yayasan Cikal sudah bisa mulai mapan, saya mempercayakan organisasi itu kepada aktivis lain. Saya cukup menjadi pembina sambil terus membantu mempromosikan Teluk Kiluan dan meyakinkan pemerintah daerah bahwa Teluk Kiluan sangat potensial dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata,” ujarnya.

Selain melakukan perlindungan terhadap lumba-lumba, kelompok-kelompok wisata binaan Riko juga berusaha melakukan konservasi penyu hijau dan penyu sisik yang hidup di sekitar Teluk Kiluan.

Simak: Menikmati Eksotisme Lumba-lumba Teluk Kiluan

“Tujuan perlindungan terhadap lumba-lumba dan konservasi sebenarnya tidak semata-mata untuk melestarikan satwa-satwa tersebut, tetapi juga membangun usaha ekowisata bersama. Kami mengelola ekowisata secara bersama-sama dengan harapan penduduk setempat juga bisa menikmati hasil jerih payah mereka melestarikan lingkungan,” kata dia.

Selain mengusir  pemburu lumba-lumba secara bersama-sama, usaha yang dilakukan Riko bersama nelayan setempat adalah melakukan penyuluhan kepada warga Kiluan untuk menghentikan mengonsumsi telur penyu. Sebab, selama ini habibat penyu sisik dan penyu hijau di Teluk Kilaun terancam karena masih banyak warga yang mengambil telur-telur penyu di Pantai Pasir Putih, di dekat Teluk Kiluan.

“Mereka mengambil telur penyu untuk direbus lalu dimakan sebagai tambahan gizi. Bagi warga Kiluan hal itu biasa. Namun, kalau kebiasaan tersebut terus berlanjut, lama kelamaan habitat penyu di Kilaun akan habis. Meskipun seekor penyu bisa bertelur ratusan butir, kalau setiap bertelur dicuri warga, perkembangbiakannya akan terganggu. Apalagi aksi perburuan penyu untuk dijual ke Bali juga masih sering terjadi,” ujar Riko.

Setelah lima tahun merintis usaha ekowisata dan konservasi satwa bersama para nelayan, kini hasilnya sudah bisa dirasakan para nelayan. Misalnya, sudah ada kepedulian dari sebagian besar penduduk dusun di sekitar Teluk Kiluan untuk menyelamatkan penyu. Mereka tidak lagi mengganggu telur-telur penyu. Selain itu, kini mereka sering mendapatkan job untuk menjadi pemandu wisata bagi warga asing maupun wisatawan lokal untuk menikmati keindahan atraksi lumba-lumba.

“Selain mencari ikan di laut, para nelayan tradisional di Teluk Kiluan sekarang juga mulai menyewakan kapalnya untuk berlayar bagi wisatawan. Mereka juga ada yang menyewakan rumahnya sebagai tempat menginap wisatawan dengan ongkos sangat murah,” kata pria yang sering mengajak kedua anaknya bermain-main di Teluk Kilaun bersama lumba-lumba ini.

Selain bisa menikmati eksotisme ‘tarian’ lumba-lumba, para wisatawan juga bisa mengintip penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan penyu hijau (Chelonia mydas) naik ke darat. Penyu-penyu itu akan menggali lubang di pasir, bertelur, lalu menimbun ratusan telur itu dengan pasir.

“Wisatawan juga bisa berkemah di sekitar pantai yang masih perawan sambil menikmati ikan bakar,” ujarnya.

Meskipun belum ada dukungan dari pemerintah daerah, Riko mengaku akan tetap terus mengajak warga Kiluan mengembangkan ekowisata sambil melakukan konservasi. Ia harus rela merogoh koceknya sendiri untuk mewujudkan cita-citanya.

Menurut Riko usaha konservasi sekaligus mengembangkan wisata pantai bukanlah pekerjaan ringan. Kendalanya tidak hanya minimnya dana, tetapi juga kenekatan para pemburu liar.

“Para pemburu penyu sisik dan lu ba-lumba biasa memakai bom ikan untuk menangkap binatang buruannya. Akibatnya, banyak terumbu karang yang rusak. Lobster dan ikan-ikan hias yang harganya sangat mahal pun ikut mati,” kata dia.

Yayasan Ekowisata Cikal saat ini sedang mempersiapkan kerangka rencana umum tata ruang wilayah (RUTRW). Rencana ini dimaksudkan agar ke depan pengembangan Teluk Kiluan dapat bersinergi dengan program-program dari pemerintah dan swasta untuk menjadikan Teluk Kiluan sebagai wilayah ekowisata di Kabupaten Tanggamus dan Lampung Provinsi pada umumnya.

Selain program penyelatan lumba-lumba, program konservasi yang telah dilakukan oleh Yayasan Ekowisata Cikal di Teluk Kiluan antara lain rehabilitasi terumbu karang, rehabilitasi hutan mangrove, dan penangkaran penyu sisik yang sudah mulai punah.

 

Loading...