Beranda Kolom Sepak Pojok Ringan Sama Dijinjing, Berat Pikul Saja Sendiri

Ringan Sama Dijinjing, Berat Pikul Saja Sendiri

3355
BERBAGI
Ilustrasi/Supriyanto

Oyos Saroso H.N.

“Saya merasa diperas oleh Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan!” entak Bang Combro, pagi tadi, di warung kopi Mbak Caca.

“Kok merasa begitu Bang?” tanya Mbak Caca.

“Jelas saja!” entak Bang Combro lagi,”tanpa ba-bi-bu lagi saya sebagai peserta BPJS kelas dua dengan iuran Rp55 ribu per bulan harus bayar Rp110 ribu atau dua kali lipat.Naiknya semena-mena, sesuka-sukanya, seenak perutnya sendiri. Padahal, selama ini saya rajin bayar tak sekalipun memanfaatkan kartu BPJS!”

“Nah….itu sih salahmu sendiri….” Parto Klete yang baru datang ikut nimbrung. “Kenapa pula kau tak pernah memanfaatkan BPJS sedangkan kamu rajin bayar iuran tiap bulan?”

“Karena aku jengkel!” tukas Bang Combro,”jengkel karena pelayanan bertele-tele…”

“Nah, itu salahmu. Padahal, di luar sana ada lho peserta BPJS dari golongan gelas menengah bisa memanfaatkan kepersertaan BPJS dengan baik. Mereka bisa operasi besar, kemoterapi, dan lain-lain. Kalau ditotal sudah ratusan juta biaya pengobatannya ditanggung BPJS!” kata Parto Klete.

“Wah, kalau begitu Bang Combro ini sekelas wali. Dia ingin membantu negara yang sedang kesusahan dengan rajin membayar iuran tanpa peduli ia sendiri tak pernah dapat manfaat…..” Mbak Caca nambahi nerocos, sambil menyediakan kopi untuk Parto Klete.

“Kalau sekelas wali ya seharusnya jangan protes dan menggerutu dong….” timpal Parto Klete.

“Bukan menggerutu, saya cuma empet saja sama pemerintah! Sudah tahu ada karut marut masalah BPJS yang disebabkan salah kelola, ini masih diberi kepercayaan saja. Keuangan defisit, lalu peserta BPJS seperti saya yang diperas. Jumlahnya orang seperti saya banyak brooooo!”

“Hahaha…. kamu saja yang aneh…” Parto Klete menyela. “Bukankah dari dulu memang sudah begitu? Rakyat kecil seperti kita ya cuma harus manut, menurut saja apa maunya pemerintah. Jadi,meskipun kita rasanya seperti diperas, janganlah merasa diperas. Dengan begitu hidup akan terasa ringan…”

“Ringan sama dijinjing berat sama dipikul, ya Mas Parto?” celetuk Lim Ban Pit.

“Itu zaman perjuangan dulu!” potong Bang Combro.

“Kalau sekarang?” Lim Ban Pit penasaran.

“Ringan sama dijinjing, berat silakan pikul sendiri!” ceplos Bang Combro.

 

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaSuap PLTU Riau-1, Mantan Dirut PLN Sofyan Basir Divonis Bebas
Artikel berikutnyaOPD di Lampung Didorong Manfaatkan Teknologi Informasi
Oyos Saroso HN alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta/UNJ). Mengawali karir jurnalistik sejak 1992 sebagai penulis freelance. Tulisannya berupa opini, esai, puisi, dan resensi dipublikasikan di Republika, Media Indonesia, Kompas, Suara Karya Minggu, Harian Terbit. Bergabung dengan Harian Lampung Post pada 1996-1999, Harian Trans Sumatera (1999-2002), dan The Jakarta Post (2002-2015). Selama beberapa tahun ia menjadi editor majalah "Sapu Lidi" terbitan Komite Anti Korupsi (KoAk) Lampung. Beberapa puisinya terkumpul di sejumlah antologi bersama.