Beranda Views Opini Risiko Kesehatan Memasuki Kenormalan Baru

Risiko Kesehatan Memasuki Kenormalan Baru

314
BERBAGI
dr. Handrawam Nadesul (Foto: Istimewa)

Handrawan Nadesul

Dalam tulisan saya membela kesehatan atau ekonomi terkesan saya beropini mengorbankan kesehatan. Yang hendak saya ungkap, bahwa oleh karena kita tidak mungkin memilih keduanya, maka salah satu bukannya dikorbankan, melainkan melepaskan tetap dengan sikap memelihara yang sudah dikerjakan terhadap kesehatan, sambil memutuskan strategi baru, yakni mulai melepaskan masyarakat mulai bergerak. Tujuannya agar ekonomi pemerintah mulai berputar kembali dan ekonomi dapur setiap warga bangsa masih mengepul. Pemerintah dan rakyat yang mengais nafkah untuk makan sehari terlalu miskin untuk tetap berlama-lama tinggal di rumah. Maka bijak memutuskan membolehkan mereka kembali beraktivitas yang produktif sekurangnya untuk menolong diri mereka sendiri. Tentu keputusan ini bukan tanpa risiko kesehatan.

Apa saja risiko itu? Keluar rumah dan memasuki dunia publik berarti meningkatkan kemungkinan tertular, kendati protokol medis dipatuhi. Masyarakat selain perlu patuh perlu terus mendapat edukasi, bagaimana persis penularan bisa berlangsung dan terjadi di tempat publik. Apa yang perlu mereka lakukan dan tidak lakukan selama berada di luar rumah.

Bahaya juga semakin terungkap, misal penularan berpotensi lewat AC (aircon), lewat kabin pesawat, bahwa ganasnya penularan Covid-19 (super contagious) juga lewat aerosols, lewat microdroplets bukan saja sebagaimana dikira di awal dulu penularan hanya lewat droplet. Lebih besar risiko, kemungkinan, dan probabilitas masyarakat tertular. Selengkap-lengkap perlindungan diri dengan alat dan cara, masih tetap ada celah tertular melihat temuan mutakhir, bagaimana Covid tertular. Termasuk di kamar ganti dan toilet petugas kesehatan, serta menumpuknya Covid di lantai rumah sakit. Bahkan di depar pagar rumah sekalipun, ketika berhadapan dengan tukang sayur, tukang ojek, pembawa paket serta semua orang yang keluar masuk rumah.

Makin banyak orang atau pihak yang mulai keluar rumah makin besar kemungkinan mereka membawa pulang Covid-19 memasuki rumah. Orang sudah berumur tidak cukup duduk manis dan tidak keluar rumah, kalau masih ada orang yang keluar masuk rumah dari aktivitas di tempat publik. Sopir pribadi yang pulang setiap hari, bukan tak mungkin membawa Covid-9 dari istri, anak, atau sesiapa yang bertemu di jalan sepanjang pulang dan pergi dari ke tempat majikan. Demikian pula asisten rumah tangga, yang bersinggungan dengan tukang sayur, semua pengunjung, ada kemungkinan tertular, lalu membawa Covid-19 ke dalam rumah. Lansia yang patuh tidak keluar rumah berisiko menjadi korban penularan dari yang orang rumah yang sudah mobilitasnya mulai banyak.

Risiko kesehatan mereka yang mulai keluar rumah selalu ada, karena semakin banyak orang hadir di tempat umum semakin besar udara di sekitar tercemar Covid-19. Selama test Covid-19 pendeteksi masih belum seluruh masyarakat, selalu ada orang pembawa Covid-19 yang lolos di tempat publik. Apabila mereka tergolong, orang tanpa gejala (OTG), atau ODP (orang dalam pemantauan) bahkan bisa saja pasien dalam pengawasan yang lolos di tempat publik juga. Mereka semua ini sumber penular potensial yang menambah risiko penularan di luar rumah. Seberapa bahaya risiko itu bila tetap patuh menaati protokol medis?

Tergantung seberapa besar kemungkinan, probabilitas kita berada apakah berdekatan dengan orang pembawa Covid-19, seberapa besar cearan udara, cemaran semua permukaan di tempat kita berada, dan seberapa menumpuk Covid-19 di lantai tempat kita beraktivitas. Hal lain seberapa efektif masker yang kita pakai melindungi kita dari masuknya Covid-19. Hanya masker N95 yang paling melindungi, dan bukan masker bedah warna hijau (surgical facemask) apalagi masker kain (cloth facemask). Dua masker ini masih memungkinkan Covid-19 lolos menembusnya.

Tentu, masih bermasker, apapun maskernya masih lebih baik daripada tanpa masker. Masih ada efek perlindungannya. Risiko itu pula yang secara teoretis menjadi berkah (blessing indisguise). Andai benar masih ada Covid-19 yang lolos memasuki hidung dan mulut, jumlahnya kecil saja. Jumlah virus menentukan derajat sakit, atau hanya memicu tubuh memproduksi zat antinya, yang kita kenal sebagai memperoleh kekebalan secara alami.

Kita hanya berharap, risiko medis setingkat itu yang akan terjadi pada masyarakat ketika memasuki kehidupan normal baru. Ada keuntungan yang terpetik dari risiko medis yang mau tidak mau harus dihadapi.

Semoga memang itu yang terjadi.

*Dokter dan Sastrawan

Loading...