Risma Marah Lagi

  • Bagikan

Fadli Pangestu

Sebuah video berdurasi 3 menit 9 detik yang berisi Bupati Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) Amon Djobo marah terhadap Menteri Sosial Tri Rismaharini, beredar di grup media social akhir Juni lalu. Dalam video itu terlihat Amon marah terkait bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) oleh Kementerian tersebut.

Namun, kemarahan sang Bupati yang meledak-ledak tidak disampaikan secara langsung kepada Menteri Sosial Tri Rismaharini, namun kepada pejabat Kemensos yang hadir di Alor.

Peristiwa tersebut pun akhirnya menjadi gosip seantero nusantara. Peristiwa itu ditanggapi oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan dengan mencabut dukungan kepada Amon Djobo untuk pencalonan Bupati periode berikutnya. Risma sendiri merupakan elite PDI Perjuangan.

Kini yang menjadi perbincangan adalah kemarahan mantan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang meluapkan amarahnya kepada petugas PKH, dari video yang beredar. Ia berdiri dari tempatnya duduk sebagai pembicara, lalu berjalan dan mendatangi petugas PKH yang menyampaikan masalah terkait tugasnya. Mungkin karena tata bahasa yang diterjemahkan oleh Risma sebagai sebuah kesalahan fatal,  sehingga memantik emosinya. Pada dasarnya sepertinya Risma sendiri seorang yang temperamental, ‘disenggol’ sedikit langsung ngegas. Terlalu banyak video momen Risma sedang marah yang dapat ditemukan di media sosial.

Petugas PKH seorang pria yang berpakaian rapi berwarna merah itu dihardik, ditunjuk-tunjuk di depan orang banyak. Ia hanya diam saja. Risma seperti ingin melahapnya. Entah bagaimana perasaan anak-anak atau keluarganya menyaksikan anggota keluarganya yang pergi dari rumah untuk bekerja mendapat perlakuan ala preman di pasar.

Kemudian dapat kita bayangkan apa yang bakal terjadi jika momen Bupati Alor Amon Djobo saat meluapkan kemarahannya soal PKH pada Juni lalu itu langsung dihadapan Risma secara face to face, kemungkinan besar baku hantam dapat terjadi diantara keduanya.

Kalau pun mereka baku hantam mungkin akan menjadi peringatan kepada pemerintah, lebih selektiflah menempatkan orang untuk posisi penting. Kemarahan tidak pernah menyelesaikan persoalan, dan gaya bu Risma yang sering menghumbar kemarahan di kota Surabaya saat memimpin kota itu sepertinya tidak cocok ditarik dalam kancah kepemimpinan nasional, terlalu apa kalilah!

terasbatam.id

  • Bagikan