Roman Berlatar Lampung: Gan San Hok dan “Ratoe dari Gedong Ratoe” (1)

  • Bagikan
Arman AZ
  
Istilah “Roman
Melayu Tionghoa” diperkenalkan Nio Joe Lan dalam Sastra Indonesia-Tionghoa (1962). Secara umum, maksudnya adalah: roman
yang ditulis orang beretnis Tionghoa, menggunakan bahasa “Melayu rendah” atau
“Melayu pasar”, disertai bahasa daerah yang jadi latar cerita, dan mengangkat
kisah-kisah Melayu atau antar etnis.
Pada era
kejayaan Balai Pustaka, cerita roman tidak dianggap sebagai bagian dari sastra
Indonesia. Saat itu, BP menjadi lembaga resmi yang “melegitimasi” sebuah karya
bernilai “sastra” atau “bukan sastra”. Di lembaga ini memang bercokol para
pakar bahasa dan sastra. Cerita roman tidak dianggap sastra, alasan standarnya
adalah “mutu bahasa” dan isi cerita. Harganya yang murah pun menyebabkan ia kerap
disebut “roman picisan”
Di luar itu
semua, ternyata ada sebuah roman Melayu Tionghoa yang isinya tentang Lampung, berjudul
Ratoe dari Gedong Ratoe. Penulisnya
bernama Gan San Hok. Roman ini diterbitkan tahun 1935 oleh Drukkerij Hahn &
Co, di Kamp Doro 3 atau Suikerstraat, Surabaya. Bahasanya menggunakan ejaan
lama dan masih bisa dipahami. Roman ini ditemukan Juperta Panji Utama di Perpustakaan
Universitas Leiden.
Nyaris tidak ada
informasi biografi Gan San Hok. Dari penelusuran internet, hanya ditemukan data
bahwa ia juga menulis tiga roman lain, “Detective
Tjoa dan Wanita jang Gagah”, “
Penghidoepan dalem Penghidoepan”, danAnakdara Multimillionaire”. Apakah Gan San Hok pernah tinggal di
Lampung hingga lumayan paham lokus, bahasa, dan adat setempat; atau ia tidak
pernah ke Lampung namun dapat referensi tentang Lampung dari pihak lain?
Membuka roman
ini, Gan San Hok menyertakan kutipan puisi-prosa karya R.N. Soeroto, Melatiknoppen­, dalam bahasa Belanda dan
terjemahan Melayu. Noto Soeroto nama yang kurang familiar di Indonesia. Dalam
buku Di Negeri Penjajah, Orang Indonesia
di Negeri Belanda 1600-1950
, Harry A. Poeze (2014) bisa dibaca biografinya. 
Ia lahir tahun 1888, berangkat ke Belanda tahun 1906 dan lama menetap di sana. Ia
terlibat aktif mengupayakan kemerdekaan Indonesia dari negeri jauh, sempat jadi
ketua Perhimpunan Hindia, mengikuti pendidikan militer saat PD I, mendirikan
organisasi seni budaya dan penerbitan. Ia sangat menyukai karya-karya Tagore. Tahun
1915 ia terbitkan 24 sajaknya dalam buku Melatiknoppen,
Gedichten in Proza (Kuncup Melati, Sajak-sajak Prosais)
disusul
buku-bukunya yang lain.
***
Ratoe dari Gedong Ratoe
mengangkat kisah cinta Abdoelkadi dan Soenantri yang penuh liku, duka, bahkan
meminta korban nyawa. Suatu ketika, Abdoelkadi singgah di tempat temannya (Moesa)
di Gedong Ratoe setelah lama mengembara ke Palembang dan Bengkulu. Abdoelkadi
telah mengetahui nama Soenantri, gadis cantik dari Gedong Ratoe. Abdoelkadi
berusaha mendekatinya, namun dicegah Moesa. Banyak jejaka Gedong Ratoe dan
sekitarnya berusaha memikat Soenantri. Niat mereka bagai menggantang asap karena
Soenantri yang berumur 17 tahun  sudah
dipinang Pangeran Tiang dari Rantau Tidjang, hartawan berumur 50 tahun. Bahkan,
romor beredar, ayah Soenantri (Hadji Abdoelrachman) sudah menerima uang jujur 2000 gulden dari sang
hartawan.
Dalam roman ini,
Abdoelkadi adalah anak Batin Mangoenang, kepala desa dari Negara Ratoe. Dalam beberapa
edisi Lampung Tumbai (5 Juli 2015, 12 Juli 2015, 26 Juli 2015, 2
Agustus 2015, 9 Agustus 2015
), Batin Mangoenang adalah sosok riil atau faktual
yang berdomisili di Negara Ratoe sekitar tahun 1820an. Beliau tokoh penentang pemerintah
kolonial. Sementara dalam roman ini (terbit 1930an), nama “Batin Mangoenang”
hadir sebagai tokoh fiksi. Dari nama dan tempat yang sama persis, dapat diduga penulisnya
memiliki referensi tentang Batin Mangoenang sehingga tertarik menjadikannya
tokoh dalam cerita.

Suatu hari
Pangeran Tiang mengutus saudaranya (Mansoer) untuk membahas rencana pernikahan
dengan Soenantri. Ternyata Mansoer musuh dalam selimut. Ia juga mengidamkan Soenantri
dan dicetuskannya saat ada peluang berdua dengan Soenantri. 
  • Bagikan