Beranda News Liputan Khusus Rukmana Menganggap TPA Bakung sebagai Sumber Mata Pencaharian

Rukmana Menganggap TPA Bakung sebagai Sumber Mata Pencaharian

306
BERBAGI
Rukmana, warga Bakung yang setiap hari bekerja memulung barang bekas di TPA Bakung.

TERASLAMPUNG.COM — Bagi sebagian besar orang, sampah adalah sumber penyakit yang harus dihindari. Bau busuk sampah terkadang membuat jijik serta memicu rasa mual dan menyebabkan muntah. Namun, tidak begitu halnya bagi Rukmana, (50), perempuan  pengais sampah di TPA Bakung.

Dalam usianya yang memasuki setengah abad, sebagian besar hari-harinya dihabiskan untuk mencari rezeki dengan memulung barang-barang bekas di antara tumpukan sampah.

Warga Bakung ini mengaku sudah puluhan tahun memulung sampah dari TPA Bakung. Mengenal barang bekas di antara timbunan sampah sejak remaja, Rukmanah hingga kini masih menekuni profesi sebagai pemulung di TPA Bakung.

Berbeda dengan warga lain yang terganggu dengan bau busuk sampah dan kotoran manusia di TPA Bakung, Rukmana justru menganggap TPA Bakung sebagai sumber penghidupannya.

“Saya asli orang sini. Tempat tinggal juga tidak jauh dari sini. Saya memulung di tempat ini sebelum TPA ini dibeli oleh Pemkot Bandarlampung,” katanya, Jumat (31 Agustus 2018).

Nenek yang sudah memiliki cicit ini tetap bersemangat menjalani hidupnya meski sudah renta. Dengan badannya yang kecil dan kurus dia harus terus kerja mengais sampah-sampah yang ada disana.

“Kalau saya mulung paling hanya dapat penghasilan  Rp10 ribu hingga Rp20 ribu/hari, sedangkan suami saya Rp30 ribu/hari. Uang ini untuk menghidupi lima anak serta cucu dan cicit,” katanya.

Soal penghasilan ini, nenek yang selalu bersemangat ini mengakui memang agak menurun saat ini karena makin banyak pemulung yang datang ke TPA Bakung.

Bagi Rukmanah, hidup ini harus terus dijalani, meski banyak cobaan dan halangan yang merintang di depan.

“Saya harus tetap menjalani hidup ini meskipun beban berat di pundak saya dan suami,” katanya.

Hidup sebagai pemulung juga dilakoni Bari (35), keponakan Rukmanah.

Menurut Bari TPA Bakung merupakan tumpuan harapan bagi keluarganya.

“Rumah saya juga di dekat sini. Udaranya memang bau. Tapi itu nggak berpengaruh bagi kami, Kami tetap nyaman nyaman saja,” katanya.

Soal anak sering sakit karena polusi udara yang disebabkan sampah di TPA Bakung, Bari mengaku hal itu menjadi risiko dirinya karena tinggal di dekat TPA.

“Kami menyadari rumah kami dekat TPA Bakung” katanya.

Mas Alina Arifin

Loading...