Rumah Sakit Bukan Mengelola Benda Mati

  • Bagikan

Supriyanto/Teraslampung.com

RSUD Demang Sepulau Raya

GUNUNGSUGIH--Dokter spesialis bedah, dr. Gunawan Hanafi, menegaskan fungsi dokter di rumah sakit adalah memberikan pelayanan. Hal tu harus dinilai sebagai amanah yang harus dimulai dengan kesucian.
Untuk memberikan pelayanan.

“Amanah itu kalau tidak dimulai dengan kesucian, itu tidak ada. Kesucian itu banyak maknanya, misalnya pegawai negeri masuk kerja jam berapa, mulai kerja  jam berapa, tentu ini ada aturan dasarnya,” kata dr. Gunawan Hanafi  pada acara audien antara Bupati Lampung Tengah H.A.Pairin dengan dokter spesialis se-Lampung Tengah, Jumat (10/10).

Dia menilai lucu  pengelolaan rumah sakit Indonesia, karena  pendirian rumah sakit tidak berdasarkan sistem rumah sakit, tetapi umumnya lebih pada keamanan manajemen.

“Kebutuhan yang sebenarnya harus diadakan, belum dilakukan, tetapi keinginan lain sudah dilakukan. Seharusnya, kalau kita berbicara tentang rumah sakit, yang kita kelola itu adalah tubuh Tuhan. Bukan benda mati. Artinya kita harus semaksimal mungkin memberikan pelayanan.”tegas Gunawan.

Yang lebih lucu lagi,  kata Gunawan, Rumah Sakit Umum Daerah Demang Sepulau Raya (RSUDDSR) merupakan rumah sakit pemerintah, mempunyai rasa takut dengan keberadaan rumah sakit swasta lainnya.  Menurut Gunawan,  rasa takut itu seharusya tidak perlu ada.

Dia mengaku bangga dengan Rumah Sakit  Demang Sepulau Raya. Itulah yang menjadi alasannya, mengapa dia tidak berkeinginan praktek pagi di luar selain di Rumah Sakit Demang.

”Ini komitmen saya karena saya pegawai pemerintah. Tetapi permasalahannya, seharusnya Rumah Sakit Demang adalah rumah sakit yang terbaik di wilayahnya, semua pemerintah yang punya, tentunya SDM harusnya yang terbaik. Ini saya kemukakan supaya kita tahu akar permasalahannya untuk membangun yang terbaik,”katanya.

“Bagaimana kita akan bisa eksis, tegasnya,  kalau diri kita sendiri yang merontokkan?” imbuh Gunawan.

Dia mencontohkan,  untuk perbaikan disiplin SDM pegawai negeri harus ada ketegasannya. Lalu ketersediaan rumah dokter apa pun yang masuk ke Demang harus ada. Tetapi, sebagai rumah sakit pemerintah ternyata belum punya rumah dinas dokter rumah sakit.

“Saya sudah hampir sepuluh tahun bertugas di sini, rumah dinas pun tidak ada. Sementara dokter umum di Puskesmas ada rumah dinas. Pada saat saya datang ke sini, saya tanya saya bisa menginap dimana, karena saya tak tahu siapa-siapa di sini. Ini  lucu. Ini tentunya terkait loyalitas kepada negaranya,”katanya .

Kalau sekarang ditanyakan mengapa kunjungan pasien Rumah Sakit Demang turun, kita sebagai pengelola harus introspeksi. Rumah Sakit Demang dan Rumah Sakit Yukum Medical Center (YMC) memiliki status kelasifikasi yang sama. Sedang Rumah Sakit Mulia Husada, Harapan Bunda dan Rumah Sakit AsySyifa’ kelasifikasinya berada dibawah Rumah sakit Demang dan RS YMC.

 ”Yang bisa merujuk hanya Rumah Sakit Asy Syifa, Mulia dan Harapan Bunda. Rumah Sakit YMC tidak boleh merujuk ke Rumah Sakit Demang karena status klasifikasinya sama yakni tipe C. Kalau  mau merujuk harus ke RS Abdul Moeloek Bandarlampung, ini sistim BPJS,”katanya.

Menurutnya, memang RSUD Demang a mempunyai banyak tenaga spesialis, tetapi kerjanya belum maksimal. Belum maksimanya kinerja mereka tentu terkait take and give Rumah Sakit Demang yang belum maksimal. Dalam bekerja, ada hak dan kewajiban, namun seakan-akan kita bekerja tetapi tidak tahu hasilnya.

”Kita yang punya aturan,  yang memeriksa juga kita. Te tapi mengapa kita yang melanggar?B agaimana kita bisa eksis kalau kita berangkat dari ketidakbenaran? Sesuatu yang dimulai dengan tidak benar hasilnya ya begini, bagai memegang bara api,”katanya.

Meski dengan banyak kendala dan keterbatasan, Gunawan tetap meminta agar rekan-rekannya sesama  dokter spesialis berpikiran bahwa mereka adalah generasi yang membangun Lampung Tengah supaya eksis, jangan berpikiran inilah hak saya. Untuk memajukan Demang tidaklah sulit, asal pemerintah daerah mau membenahi semua permasalahan.

”Jangan ragukan kami, jangan ragukan para dokter spesialis. Pasti mereka juga akan senang membantu kalau hak dan kewajibannya benar-benar diperhatiknan,”katanya.

Dia mempertanyakan keberadaan Rumah Sakit Demang sebagai rumah sakit pemerintah yang menginginkan pengelolaannya bagus, mengapa dana operasionalnya tidak ada.

”Bagaimana akan bisa mandiri? Bagaimana akan senang bekerja disitu, kalau kita sendiri yang mengancurkannya?” ujarnya.

Diakui Gunawan, untuk alat-alat untuk bedah Rumah Sakit Demang yang terbaik. Untuk kru juga yang terbaik, tetapi permaslahannya mengapa belum menjadi rujukan. Sebenarnya, ini  pemerintah daerah yang harus mengatur. Rumah Sakit Demang punya dukungan puskesmas yang cukup banyak, punya dukungan masyarakat swasta semua. Artinya, tinggal bagaimana cara mengaturnya.

”Misalnya untuk perusahaan swasta, pelayanan kelas tiga masuk ke Rumah sakit Demang, sedang yang  pelayanan kelas dua ke swasta. Tapi kita sendiri tidak berbuat, bahwa Rumah Sakit Demang ini sebagai pusat rujukan. Kita juga kita tidak berpenampilan sebagai pusat rujukan, itu yang susah,”katanya.

Gunawan mengatakan, karena Rumah Sakit Umum Demang  adalah milik pemerintah, mestinya ada upaya pemerintah  menjadikan Rumah Sakit  Demang sebagai pusat rujukan.

“Bukan hanya menuntut. Seharusnya dari dasar ini pemerintah harus tahu.  Saya juga orang pemerintahan, sedih sekali rasanya, saya sudah mengajak rekan spesialis untuk bekerja maksimal, tetap juga belum mau karena antara hak dan kewajiban yang diberikan tidak seimbang,” katanya.

  • Bagikan