Beranda News Anakidah Rumor Sadisme di Korea: Jong-un Bunuh Pamannya dengan Ratusan Anjing

Rumor Sadisme di Korea: Jong-un Bunuh Pamannya dengan Ratusan Anjing

56
BERBAGI
Kim Jong Un

Oyos Saroso H.N./teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Kalau cerita itu benar, maka inilah sadisme baru kekuasaan di Korea Utara. Kim Jong-Un, pemimpin Korea Utara, menghukum mati pamannya sendiri, Jan Song-Thaek, dengan cara membiarkan pamannya menjadi santapan 120 anjing lapar. Jan Song-Thaek dihukum karena dituduh korupsi dan berkhianat.

Aksi anjing yang sebelumnya sengaja tidak diberi makan selama tiga hari itu dikabarkan disaksikan langsung Kim Jong-Un bersama ratusan pejabat senior Korea Utara. Sebelum disajikan untuk ratusan anjing lapar, Jan Song-Thaek dan lima kawannya yang juga dituduh korupsi ditelanjangi.

Kabar yang dilansir Wen Wei Po, sebuah media terbitan Hong Kong pada 12 Desember 2013 lalu, kemudian ditulis kembali oleh media di Singapura pada 24 Desember 2013.

Namun, secara tidak langsung kabar itu terbantahkan oleh sebuah tulisan di Washington Post. Dengan tulisan berjudul “No, Kim Jong Un probably didn’t feed his uncle to 120 hungry dogs”, Max Fisher di Washington Post edisi 3 Januari 2014 menyebut cerita pemimpin Korea Utara membunuh pamannya sendiri dengan sadististis itu sebagai tidak masuk akal.

Salah satu alasan Max Fisher menyebut cerita itu tidak masuk akal adalah yang melansir pertama kali berita itu adalah Wen Wei Po, sebuah media di Hong Kong yang di Hong Kong sendiri kredibilitasnya hanya pada peringkat 19 dari 21 media yang terbit di negara itu.

Kim Jong-Un adalah putra ketiga mantan pemimin Korea Utara Kim Jong-il. Jong-Un mewarisi tampuk kekuasaan setelah ayahnya meninggal pada 17 Desember 2011 lalu.

Sinyal Kim Jong-Un akan menggantikan ayahnya mulai tampak saat putra bungsu Kim Jong-il itu diangkat sebagai jenderal bintang empat dan diberi posisi strategis di partai yang sedang berkuasa di Korea Utara pada September 2010. Padahal, saat itu Jong-Un usianya belum genap 30 tahun dan banyak yang menilai kurang pengalaman di bidang militer dan pemerintahan.


Sumber: washingtonpost,  dailymail, time, cnn