Beranda Ekbis Ekonomi Rupiah Hampir Tembus 15 Ribu per Dolar AS, Ini yang Dilakukan...

Rupiah Hampir Tembus 15 Ribu per Dolar AS, Ini yang Dilakukan Pemerintah

286
BERBAGI
Ilustrasi

TERASLAMPUNG.COM — Nilai tukar rupiah makin mendekati level Rp15.000 pada perdagangan hari ini, Selasa (4/9/2018) setelah menyentuh level terendah dalam 20 tahun terakhir.

Nilai tukar tukar rupiah ditutup melemah 120 poin atau 0,81% ke level Rp14.935 per dolar AS, setelah pada awal perdagangan dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,05% di posisi Rp14.823.

Mata uang Garuda telah melemah pada perdagangan hari keenam berturut-turut dan mencapai level yang belum pernah terlihat sejak krisis 1998 silam. Pada perdagangan kemarin, Senin (3/9/2018), rupiah ditutup melemah 0,71% atau 105 poin ke level Rp14.815 per dolar AS.

Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai level terendah sejak krisis 1998 ini.

Pada Selasa (4/9/2018), Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memanggil para menteri ekonomi dan kepala lembaga ekonomi. Pemanggilan ini merupakan yang kedua setelah Presiden memanggil mereka pada Senin (13/9/2018).

Dalam pertemuan kedua ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan pada sehari sebelumnya.

“Tapi, tadi jauh lebih banyak bicara mengenai ekspor walau yang lain dibahas juga, misalnya TKDN (tingkat komponen dalam negeri), tapi yang paling dibahas ekspor,” katanya.

Darmin mengatakan pembahasan pada hari ni menjadi semakin rinci, supaya langkah-langkah yang akan diambil menjadi lebih konkret. Pada dasarnya, ujar Darmin, pemerintah ingin fokus dalam hal ekspor. Pemerintah akan mengumumkan kebijakan ekspor dalam waktu dekat.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa langkah paling dekat yang diambil pemerintah adalah menerbitkan PMK dalam rangka mengatur impor barang konsumsi.

Pasalnya, kenaikan dari impor barang konsumsi terutama pada Juli dan Agustus, meningkat tinggi hingga 50% lebih pertumbuhannya.

“Kita akan mengeluarkan PMK besok [Rabu/5 September 2018] pagi yang mendetailkan sekitar 900 hs code dari bahan bahan komoditas impor barang konsumsi, yang utama, yang nilai tambahnya tidak begitu besar namun dia menggerus devisa kita,” tegasnya usai Sidang Paripurna Tanggapan Fraksi RAPBN 2019 di DPR RI, Selasa (4/9/2018).

Pada sisi ekspor, lanjut dia, pemerintah juga akan terus mendorong peningkatan ekspor. Karena walaupun ekspor Indonesia tumbuh, tetapi pertumbuhan ekspor masih lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan impornya.

“Oleh karena itu selain kita kendalikan impor kita juga harus mendorong ekspor, untuk itu kita akan pakai instrumen fiskal seperti kita berikan insentif, kita berikan pelayanan kemudahan bea cukai, kita juga akan memberikan kemudahan termasuk pembiayaan melalui institusi seperti LPEI,” terangnya.

Rupiah memimpin pelemahan mata uang lain di Asia yang juga terdepresiasi. Mengekor rupiah, won Korea Selatan juga melemah 0,41%, sedangkan rupee India melemah 0,3%.

Pelemahan rupiah ini sejalan dengan pergerakan indeks dolar AS yang memperpanjang penguatan karena kekhawatiran tentang kemungkinan eskalasi dalam konflik perdagangan antara AS dan China mendorong investor untuk melepas kepemilikan mata uang negara berkembang.

Indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat menguat 0,4% atau 0,377 poin ke level 95,517 pada pukul 16.16 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar dibuka menguat hanya 0,01% atau 0,006 poin ke level 95,146, setelah pada perdagangan Senin (3/9/2018), indeks dolar ditutup stagnan di posisi 95,140.

Dilansir Reuters, periode komentar publik mengenai proposal AS untuk tarif impor baru pada barang-barang China akan berakhir pada hari Kamis. Setelahnya, Presiden AS Donald Trump dapat menindaklanjuti rencana untuk mengenakan tarif pada barang impor asal China senilai US$200 miliar, meskipun belum diketahui seberapa cepat akan terjadi.

“Dolar tampaknya menjadi mata uang defensif utama pilihan karena kekhawatiran perang perdagangan telah meningkat pekan ini dan itu menyebabkan masalah bagi pasar negara berkembang,” kata Richard Falkenhall, analis valas senior di SEB, seperti dikutip Reuters.

Bisnis.com

Loading...