Beranda Ekbis Keuangan Rupiah Loyo, Wapres JK Minta Pengusaha tak Impor Barang Mewah

Rupiah Loyo, Wapres JK Minta Pengusaha tak Impor Barang Mewah

298
BERBAGI
Ilustrasi

TERASLAMPUNG.COM –– Kurs rupiah terus tertekan dollar AS hingga Rp Rp14.935 . Ini merupakan posisi terlemah penutupan rupiah sejak Juni 1998, yang sempat menyentuh Rp 14.750 per dollar AS.

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat untuk membantu pemerintah mengurangi impor. Hal itu penting untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

Salah satu caranya, yakni dengan tidak mengimpor barang-barang mewah.

“Mungkin jumlahnya tidak besar tetapi perlu untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa suasana ini, suasana berhemat,” ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (5/9).

“Suasana kita tidak perlu impor barang mewah, enggak usah Ferrari, Lamborghini masuk, enggak usah mobil-mobil besar, yang mewah-mewah. Tak usah parfum-parfum mahal atau tas-tas Hermes,” sambungnya.

Pemerintah, tutur Kalla, akan berupaya meningkatkan ekspor sumber daya alam dan coba menurunkan impor yang tidak perlu.

Di sisi lain, peningkatan lokal konten juga perlu ditingkatkan sehingga industri tak banyak mengimpor barang.

Selain itu, pemerintah juga meminta agar ekspor dilakukan secara efesien. Sebab, uang hasil ekspor banyak disimpan di luar negeri.

Padahal, kalau dana itu disimpan di bank di dalam negeri atau Bank Indonesia, maka dana itu akan menambah ketersediaan dana di dalam negeri.

“Ya, selama itu disimpan di bank nasional atau di BI enggak apa-apa cadangan kita baik. Itu akan memperkuat rupiah kalau cadangan baik,” kata Kalla.

Sebelumnya, pada akhir Agustus lalu, di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate juga menunjukkan nilai tukar rupiah antarbank melemah ke level Rp 14.711 per dollar AS.

Namun, jika melihat perdagangan intrahari, rupiah pernah diperdagangkan sampai Rp 14.828 per dollar AS pada 29 September 2015 silam. Namun, hari itu, rupiah ditutup di level Rp 14.691 per dollar AS. Sedangkan mengutip kurs tengah Bank Indonesia, posisi JISDOR pada hari yang sama mencapai Rp 14.728.

Bank Indonesia menegaskan tetap berada di pasar valuta asing agar pelemahan rupiah tak cepat dan tajam. “BI juga masuk ke pasar membeli SBN, untuk menjaga market confidence,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah kepada KONTAN, Kamis (30/8) malam.

Hari ini, BI sudah membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp 3 triliun. “BI hari ini sudah beli SBN Rp 3 triliun dan masih akan berlanjut,” kata Nanang kepada KONTAN, pagi ini.

Sampai kemarin, BI sudah membeli Rp 79,23 triliun SBN. Jumlah itu terdiri dari pembelian SBN di pasar sekunder mencapai Rp 22,18 triliun dan pembelian di pasar perdana mencapai Rp 57,23 triliun.

“Dari pasar SBN ada outflows dana asing, oleh karenanya BI masuk pasar SBN untuk mencegah terjadi sell-off,” tambah dia. Dengan begitu, harga SBN relatif terjaga.

Kurs rupiah melemah terutama karena pasar tengah risau dengan kondisi ekonomi ke depan. AS yang berencana menerapkan tarif impor tinggi secepatnya pada produk dari China dikhawatirkan memicu perang dagang global. Krisis peso Argentina juga menyeret mata uang emerging market.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipicu pembelian valas oleh korporasi untuk impor.

Kontan.co.id

Loading...