Beranda Teras Berita Rusak Alat Peraga Kampanye, Tiga Mahasiswa Fisip Unila Divonis Satu Bulan...

Rusak Alat Peraga Kampanye, Tiga Mahasiswa Fisip Unila Divonis Satu Bulan Penjara

437
BERBAGI
Virtual Product March 2019

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Sidang putusan pencurian alat peraga kampanye (APK) terdakwa mahasiswa jurusan Adminidtrasi Negara FISIP Unila di Pengadilan Negeri, Tanjungkarang, Rabu (11/11).

BANDARLAMPUNG-Ketiga terdakwa yang merupakan mahasiswa Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Lampung (Unila), Ditho Nugraha, Nuri Widiantoro, dan Taufik Imam Ashari kasus pencurian Alat Peraga Kampanye (APK) di vonis satu bulan penjara dalam sidang putusan di
Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Rabu (11/11) siang.

Mereka dinyatakan terbukti bersalah melakukan perusakan alat peraga kampanye milik pasangan calon Kepala Daerah Kota Bandarlampung nomor 1 (Muhammad Yunus-Ahmad Muslim) dan nomor 2 (Herman HN-Yusuf Kohar). Selain itu, ketiganya divonis dengan pidana penjara selama satu bulan dan pidana denda Rp 100 ribu.

Menurut majelis hakim yang diketuai Nelson Panjaitan menilai, bahwa perbuatan ketiga terdakwa dinyatakan terbukti secara sah bersalah dan memenuhi unsur kesengajaan dengan merusak Alat Peraga Kamapanye (APK). Dalam dakwaan jaksa penuntut umum (JPU), ketiganya melanggar Pasal 69 huruf g UU No.8 Tahun 2015 Jo Pasal 187 ayat 3 Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.1 Tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota Jo Pasal 55 ayat 1
KUHP.

“Alasan penasehat hukum, bahwa Undang-Undang itu baru dan belum disosialisasikan. Tapi tidaklah menghapus kesalahan perbuatan dari ketiga terdakwa. Karena perbuatan itu tidak dibenarkan, mengambil barang yang bukanlah miliknya. Karena itulah, kami menilai tidak adanya alasan pembenar dan pemaaf ketiga terdakwa”kata Nelson, Rabu (11/11).

Dalam pertimbangannya, kata Nelson, hal yang memberatkan perbuatan para terdakwa, yakni telah menghilangkan informasi yang seharusnya informasi itu diketahui masyarakat. Yakni tentang visi misi, serta program dari pasangan calon yang nantinya akan memimpin masyarakat Kota Bandarlampung.

“Sementara yang meringankan, ketiga terdakwa, bahwa ketiganya masih berstatus mahasiswa dan menyesali perbuatannya,”terangnya.

Atas putusan itu, baik Jaksa Penuntut Umum (JPU) maupun ketiga terdakwa, menyatakan pikir-pikir selama satu minggu. Sebelumnya, JPU menuntut ketiganya selama dua bulan dan denda Rp250 ribu.

Ketiga terdakwa menjalani sidang putusan tersebut, secara terpisah dan mendapat vonis hukuman yang sama dari majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang.

Usai persidangan, kuasa hukum ketiga terdakwa mahasiswa pencuri alat peraga kampanye, Hanafi Sampurna, mengatakan dalam sidang putusan tersesbut majelis hakim yang memvonis kliennya dengan pidana penjara sela satu bulan tidaklah bijak. Ia mengaku kecewa atas putusan tersebut, dalam perkara ini seharusnya kliennya dibebaskan.

“Kami berharap dalam vonis tadi, majelis hakim akan memutuskan bebas. Kasus yang menimpa ketiganya inikan, kasusnya hanya sepele. Mestinya hakim bijak dalam memutuskan, apalagi mereka ini masih berstatus mahasiswa dan menjalani kuliah,”kata Hanafi kepada wartawan, Rabu (11/11).

Menurut Hanafi, kliennya itu tidak memiliki niat untuk bermaksud merusak APK 2 pasangan calon Kepala Daerah Bandarlampung. Tujuannya cuma untuk alas tidur saja, tidak ada maksud lain. Selain itu juga, ketiganya sudah meminta maaf kepada pasangan calon itu dan mereka dimaafkan.

Dikatakannya, dengan hukuman tersebut, ini bisa mengganggu perkuliahan ketiga kliennya. Ia juga mengaku sangatlah heran, kasus yang hanya sepele ini bisa sampai ke persidangan. Menurutnya, banyak kasus pidana pemilu yang lebih besar, tapi kenapa tidak sampai diproses hukum dan lanjut sampai ke persidangan.

“Ya sebelum pelaksanaan Pilkada ini, pernah ada juga kasus penyimpangan dalam Pemilu. Tapi kenapa kasusnya tidak sampai diproses hukum, kenapa yang sepele diproses. Ini sudah jelas, bahwa hukum ini hanya tajam dibawahnya saja tapi tumpul keatasnya,”jelasnya.

Untuk langkah lanjutan pasca putusan tersebut, selaku kuasa hukum dari ketiga kliennya, ia mengaku masih pikir-pikir.

Seperti diketahui, ketiga terdakwa tidak dilakukan penahanan sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Diuraikan di persidangan, pada Sabtu (3/10) sekitar pukul 02.00 WIB, ketiga terdakwa melakukan malam keakraban (Makrab) mahasiswa di Natar, Lampung Selatan kekurangan alas tidur.

Ketiganya yang merupakan panitia Makrab mencari alas tidur yakni spanduk, namun belakangan
ketiganya diamankan warga lantaran mencopot APK Pilkada Kota Bandarlampung milik pasangan calon nomor urut 1 dan 2.

Ketiganya lalu diamankan di Polsek Natar. Sementara pengakuan dari ketiga terdakwa, saat mengambil spanduk mereka tidak tahu kalau spanduk itu ternyata APK Pilkada Kota andarlampung.

Loading...