Beranda Views Kopi Pagi Rusuh Tolikara Membuat Pak Badu Jadi Pahlawan

Rusuh Tolikara Membuat Pak Badu Jadi Pahlawan

181
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Tolikara tiba-tiba ramai dibincangkan orang. Akhir-akhir ini namanya jauh lebih “hits” dibanding Raja Ampat, Aceh, atau Lampung. Tiba-tiba, atas nama agama, orang beramai-ramai ingin menjadi pahlawan. Bahkan, Mang Duile yang sehari-hari tak pernah shalat dan kerjanya memeras orang di pasar ikut-ikutan marah. Akun Facebook Mang Duile penuh dengan hujatan.

“Kita harus berjihad ke Papua!” teriak Mang Duile di sebuah statusnya.

Mungkin jutaan orang seperti Mang Duile. Mereka ikut panas dan terbakar jika rumah ibadah agamanya dibakar. Lucunya, Mang Duile adem ayem saja ketika rumah-rumah ibadah milik penganut Syi’ ah dibakar. Ia juga adem saja ketika masjid di seberang jalan rumahnya selalu sepi karena tak ada remaja masjid yang meramaikannya. Bahkan ketika shalat Magrib di masjid itu hanya setengah saf pun Mang Duile anteng-anteng saja. Pun ketika masjid itu nyaris roboh karena sangking tuawanya….

“Syi’ah bukanlah Islam!” begitu alasan Mang Duile dan sejenis Mang Duile lainnya.

Ini hari kelima mushola di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua terbakar. Orang-orang pusat sudah turun ke Karubaga. Para saksi sudah diperiksa polisi. Namun, belum satu pun ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Apakah akan ada huru-hara tanpa tersangka seperti yang sering terjadi di Indonesia? Entahlah. Yang pasti, di tengah keyakinan pihak Polri bisa mengungkap kasus ini, kini merebak dugaan ada aktor intelektual di balik amuk bernuansa agama itu.

“Ini gara-gara Presiden Jokowi tak becus jadi presiden! Dia malah nonton film komedi sambil ketawa-ketiwi,” ujar Kang Kodrat, TS Pilpres 2014 yang menjadi Komandan Barisan Sakit Hati.

“Ya, semua ini gara-gara Jokowi!” timpal yang lain, sambil memasang foto meme Jokowi yang tampak jelek dan hina sekali.

“Makan tuh presidenmu, wahai para Jokower!” timpal Pak Badu,  seorang anggota Dewan Kota.

***

Sejak banyak orang melek media dan media sosial jadi pujaan hati berjuta-juta penduduk, Indonesia tiba-tiba inflasi orang pintar dan orang suci. Kalau tidak percaya, silakan cek status jutaan akun Facebook dan cuitan jutaan akun Twitter warga negara Indonesia.

Setiap peristiwa nyaris tidak pernah tidak menjadi perbincangan publik. Mulai soal korupsi, tokoh publik mesum, ustad berbini banyak, pengacara beristri 10, selebritas kawin lagi, PSSI bubar, Jokowi jadi presiden, semua dijadikan status di Facebook dan bahan cuitan.

Seorang tukang sate atau tukang parkir dengan ‘seenak udel’ bisa memaki seorang presiden. Seorang wakil rakyat dengan tanpa malu dan nada ringan bisa cengengesan mengecek orang lain yang dianggap lawan politiknya. Lucunya, kerja wakil rakyat selama ini ya cuma cengengesan dan minta upeti dari sejumlah proyek.

Hal serupa juga terjadi saat huru-hara  Tolikara meletus. Orang yang selama ini tak tahu tentang peta buta Papua pun seolah paling tahu tentang persoalan toleransi agama. Hanya berbekal tautan berita media online, mereka sibuk membuat analisis, merangkai kata-kata yang tepat untuk melancarkan hujatan. Tolikara dan Papua pada umumnya seolah menjadi objek empuk untuk dijadikan sasaran amuk. Semua orang non-Muslim di Papua dianggapnya musuh. Lebih celaka lagi, orang-orang Papua dianggapnya orang paling tidak toleran dalam beragama dan paling primitif di Indonesia.

Banyak di antara kita yang lupa bahwa Papua adalah sumber penghidupan bagi Indonesia. Selama puluhan tahun emas Papua dan sumber daya alam dikeruk. Sebagian besar hasilnya masuk ke kantong asing dan sebagian lagi masuk ke Indonesia. Yang masuk ke Indonesia itulah yang kemudian sebagian kecil dikembalikan untuk membangun Papua dan dibagi untuk provinsi lain di Indonesia.

Banyak orang ramai di dunia maya itu tidak tahu bahwa Provinsi Lampung memiliki ketergantungan anggaran lebih dari 30 persen kepada pemerintah pusat. Sementara kabupaten/kota mungkin lebih dari 40 persen ketergantungan anggarannya kepada pemerintah pusat. Tergantung kepada anggaran nasional berarti tergantung kepada Indonesia, Terhantung kepada Indonesia idem ditto dengan tergantung kepada Papua (juga tergantung kepada Aceh, Riau, dan provinsi kaya lainnya).

***

Rusuh Tolikara digerakkan oleh aktor intelektual dari Jakarta, kata berita.

Rusuh Tolikara menambah jumlah orang pintar dan orang suci di Indonesia. Ialah orang pintar dan orang suci yang berteriak bak pahlawan paling berbudi di negeri ini….

Loading...