Beranda News Nusantara Rusuh Wamena, 22 Warga Sipil Tewas

Rusuh Wamena, 22 Warga Sipil Tewas

1486
BERBAGI
Warga mengungsi di Mapolres Jayawijaya saat terjadi aksi unjuk rasa yang berakhir rusuh di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019). - Antara/Marius Wonyewun
Warga mengungsi di Mapolres Jayawijaya saat terjadi aksi unjuk rasa yang berakhir rusuh di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019). ANTARA FOTO/Marius Wonyewun/wpa/foc.

TERASLAMPUNG.COM — Hingga Selasa, 24 September 2019, warga sipil yang tewas dalam kerusuhan di Wamena, Papua, bertambah menjadi 22 orang. Jumlah itu kemungkinan masih akan bertambah, karena angka 22 barulah versi polisi.

Polda Papua menyebutkan jumlah korban meninggal dari masyarakat sipil terkait aksi yang berujung anarkis di Wamena, Papua, mencapai 22 orang. Satu orang dilaporkan dalam keadaan kritis dan 72 orang lainnya mengalami luka-luka. Mirisnya, di antara para korban ada beberapa yang tewas di dalam rumahnya karena dibakar massa.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Ahmad Mustofa Kamal mengungkapkan korban kritis dan luka-luka mendapat perawatan intensif di rumah sakit setempat. Kamal menjelaskan, dari para korban yang meninggal dunia, terdapat ada satu keluarga yang tewas karena terjebak di dalam rumah yang dibakar massa anarkis.

“Sampai saat ini, total korban meninggal dunia ada 22 orang, 1 kritis di RS dan 72 orang luka-luka akibat aksi anarkis itu,” tuturnya, Selasa (24/9/2019).

Menurut Kamal, aksi anarkis itu telah merusak banyak fasilitas umum di antaranya Kantor Urusan Agama (KUA), Kantor PLN, Kantor Bupati, Kantor Kejaksaan, 150 ruko, 80 mobil dan 30 motor.

Untuk menghindari amukan massa aksi, menurut Kamal, seluruh warga sudah mengungsi ke Polres Jayawijaya, Kodim 1702/Jayawijaya, Gedung DPRD dan Gedung Oikumere Osso Wamena.

“Mereka mengungsi untuk menghindari provokasi dan serangan susulan dari massa aksi,” kata Kamal.

Aksi anarkis berawal dari informasi di media sosial mengenai seorang guru yang melontarkan ujaran rasial kepada murid sekolah di wilayah Papua.

Polri, dijelaskan Kamal, sudah mengkonfirmasi ihwal video itu kepada guru bersangkutan dan hasilnya tidak ada ujaran rasial apa pun seperti potongan video yang viral di media sosial tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat agar tenang dan tetap menjaga kesatuan dan keamanan di Papua,” ujar Kamal.

Bisnis

Loading...