Beranda Ruwa Jurai Lampung Selatan Ruwat Laut Pantai Keramat Lampung Selatan Berlangsung Meriah

Ruwat Laut Pantai Keramat Lampung Selatan Berlangsung Meriah

236
BERBAGI
Nelayan Desa Suak saat akan melarungkan bahan (kepala kambing) dan lainnya yang sudah dipindahkan ke kapal untuk dibawa ke tengah laut di Pantai Keramat, Sabtu (25/1/2020).

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Warga Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Bahari menggelar acara adat ruwat laut, di Pantai Keramat, Sabtu (25/1/2020). Acara yang rutin digelar tiap tahun ini berlangsung meriah.

Acara tersebut, dihadiri Camat Sidomulyo, Rendy eko Supriyanto, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung Selatan, DPD HSNI Provinsi Lampung, beberapa Kepala desa (Kades) Kecamatan Sidomulyo serta para tokoh adat, tokoh agama dan tokoh pemuda Desa Suak.

Pantauan di lokasi, gelar acara Festival Bahari ini, menarik banyak perhatian ratusan warga, baik orang tua maupun anak-anak dari beberapa desa di Kecamatan Sidomulyo seperti Desa Banjarsuri, Sukabanjar, Siringjaha dan Budidaya. Mereka datang berbondong-bondong ingin melihat prosesi kegiatan.

“Ruwat Laut kali ini diikuti sekitar 200 nelayan lokal yang tergabung dalam kelompok Nelayan Bahari Desa Suak. Selain dihadihari kelompok nelayan lokal, hadir pula  beberapa orang nelayan dari kelompok nelayan Telukbetung, Bandarlampung. Mereka berpartisipasi dalam acara adat ‘Ruwat Laut’ tersebut yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).

 

Ada  satu Jolen yang dikirab atau diarak oleh warga dan pemangku adat desa setempat, untuk dibawa menuju ke pesisir pantai Keramat. Kemudian bahan yang akan dilarungkan ke laut, dipindahkan ke kapal nelayan yang telah disiapkan untuk dilarung ketengah lautan di pantai Keramat tersebut.

“Kegiatan yang dipusatkan di Pantai Keramat ini sebenarnya merupakan kegiatan adat nelayan ‘Ruwat Laut’ yang rutin dilakukan setiap tahunnya meski hanya dilakukan ala kadarnya mengadakan syukuran doa bersama,” kata Kepala Desa Suak, Juli Wahyudin kepada teraslampung.com saat ditemui seusai acara ‘Ruwat Laut’, Sabtu (25/1/2020).

Menurutnya, acara ruwat laut yang selama ini dilakukan, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur para nelayan dimana hasil laut tersebut selama ini selalu mereka ambil terus. Bentuk tujuan lainnya, yakni menjalin persaudaraan anatar nelayan serta memotivasi warga karena potensi laut di Desa Suak ini harus dikembangkan untuk menjadi objek wisata.

“Kegiatan ruwat laut ini ke depannya akan berganti nama menjadi Festival Bahari. Nantinya akan dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah even menarik di Desa Suak,”ujarnya.

Pada acara ‘Festival Bahari’ tersebut juga, kata Juli Wahyudin, akan diadakan pentas kesenian dan lainnya yang ditampilkan.

“Dengan begitu Festival Bahari ini bisa mengikat kerukunan dan persaudaraan antar nelayan di Desa Suak dan juga dapat meningkatkan kesejahteraan para nelayan,” kata July.

Dikatakannya, upacara adat “Sedekah Laut” yang menjadi bagian dari kegiatan “Festival Bahari”, dapat menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi para wisatawan.

“Jadi upacara adat ‘Ruwat Laut’ yang akan menjadi ‘Festival Bahari yang akan mulai digelar tahun depan, akan kita jadikan kegiatan even rutin tahunan dan pastinya akan menjadi kembanggaan khususnya para nelayan yang ada di Desa Suak. Selain itu juga, dapat menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi para wisatawan dari luar daerah,”

Sementara perwakilan dari DPD Himpinan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Lampung, Husairi Suwandi mengatakan, pihaknya sangat mensupot kegiatan adat Kelompok Nelayan Baharu Desa Suak ‘Ruwat Laut’ ini. Apalagi kedepannya, acara tersebut akan dikemas lebih menarik lagi berganti nama menjadi ‘Festival Bahari’ yang dipelopori Kepala Desa bersama Kelompok Nelayan Bahari Desa Suak.

“Desa Suak ini sendiri, bukan hanya sebagai perikanan tangkapnya saja yang berpotensi. Akan tetapi potensi alamnya juga, sangat mendukung untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata melalui kegiatan ‘Festival bahari’,”ujarnya.

Menurutnya, Kelompok Nelayan Bahari di Desa Suak ini, termasuk masih dalam kategori nelayan kecil karena kapasitas kapalnya yang digunakan, masih dibawah 7 GT.

“Nelayan ini banyak jenisnya, dibedakannya dari jenis tersebut yakni dari alat tangkapnya. Seperti jenis alat tangkap pancing dan alat tangkap jarring, berbeda juga dengan jenis jaring payang dan lainnya,”kata dia.

Husairi menguatarkan, ada beberapa hal kesejahteraan nelayan, dan itu juga tertuang berdasarkan Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) nomor 42 Tahun 2019 tentang Kartu Kusuka, bahwa pelaku usaha perikanan dan kelautan diharuskan memiliki kartu tersebut. Karena sebagai legal standing atau bukti kalau dia sebagai pelaku usaha perikanan dan kelautan.

Pelaku usaha perikanan dan kelautan, kata Husairi, sebelumnya didominasi nelayan perikanan tangkap dan itu juga dikembangkan termasuk perikanan pemasaran (pedagang ikan), perikanan pengelolaan atau perikanan budidaya dan juga petambak garam.

“Jadi ada lima kategori yang masuk dalam pelaku usaha perikanan dan kelautan. Artinya, dari hulu ke hilir semua steakholder dijadikan satu melalui Kartu Kusuka tersebut,”ungkap Ketua DPC HNSI Kota Bandarlampung ini.

Dia menambahkan, untuk mendapatkan Kartu Kusuka ini, prinsipnya bisa dilakukan secara perorangan. Ketika nelayan itu bisa membuka website KKP, maka bisa mendaftar langsung melalui website tersebut.

“Intinya mudah nelayan bisa mendapatkan Kartu Kusuka ini, akan tetapi tergantung SDM nya juga. HNSI sebagai wadah organisasi berbasis sosial kemasyarakatan dari nelayan, mendorong dan memfasilitasi untuk mendaftarkan nelayan melalui pendampingan HNSI dan penyuluh perikanan dari Dinas KKP Kabupaten/Kota,”terangnya.

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaKontes Mencuri Hati Berhadiah Rp 500 Juta dari LINE Webtoon
Artikel berikutnyaSup Kelelawar, Virus Corona
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya