Sabar

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Diksi satu ini mengingatkan nama seorang pramuwisma yang selalu setia bertahun tahun mengabdi di kantor, dan sebentar lagi akan purnabakti karena memang sesuai perundangundangan pada batas usia itu harus pensiun. Namun, di tempat lain pada diksi yang sama dilabelkan kepada seorang teman yang memiliki perilaku “usus panjang” sebagai kata ganti untuk “sabar”.

Teman ini memiliki karakter sangat sabar dan sangat santun untuk banyak hal, sehingga sering diminai pendapat oleh teman teman lain jika menghadapi persoalan kehidupan. Beliau ini berpenampilan sangat tenang bahkan nyaris tanpa ekspresi jika menemukan kegembiraan atau kesulitan sekalipun. Kelompok tertentu melabeli penampilan ini sebagai penampilan “sultan” banget.

Menurut salah seorang ulama besar masa kini yaitu almukharom M. Quraish Shihab,  dalam satu narasi yang dikutip pada 17 Sept 2021, pengertian sabar sebagai “menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik (luhur)”. Terutama dari rasa gelisah, cemas, dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan. Ternyata diksi yang hanya lima huruf itu memiliki penjelasan yang panjang, konfergensif, serta lugas.

Begitu pentingnya sikap sabar bagi setiap manusia, Allah menyebut kata sabar dalam Alquran sebanyak 70 kali dan tertuang dalam 16 Ayat. Ini menunjukkan juga bahwa pada sisi ini manusia memiliki kelemahan; oleh karena itu perlu diingatkan atas kelemahan itu berkali kali. Mengingat lima hurup ini memang mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit dalam pelaksanaannya.

Sikap dan sifat sabar sendiri diperintahkan melekat kepada manusia dengan tidak melihat stratifikasi sosial, jenis kelamin, atau pembeda apapun lainnya; karena perintah yang universal ini sering manusia terjebak pada negosiasi pramgmatis. Oleh karena itu Sabar selayaknya berdampingan dengan Syukur; bahkan keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama. Sabar dimaknai dari sisi syukur, dan syukur dijalankan dengan penuh kesabaran.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana membumikan keduanya ? ini bukan persoalan sederhana, karena semenjak jaman kenabian sampai hari ini; kedua hal itu sulit sekali dibumikan, baik oleh para ulama apalagi umaro. Hal ini disebabkan karena dinamika kehidupan personal yang sangat beragam.

Ada tipe manusia sekalipun dinyinyiri sampai langit ke tujuh, karena kematangan kepribadiannya; yang bersangkutan tidak menunjukkan reaksi apa pun. Namun, ada yang baru disentil sedikit sudah seperti per yang lompat sana lompat sini, mencari pembelaan, minimal pembenaran untuk dirinya.

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rhimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam: Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain “(Syarh Tsalatsatul Ushul, hlm. 24).

Ternyata sabar untuk pertama dan kedua, banyak di antaranya yang sukses menjalankannya. Namun pada tataran tiga, justru banyak yang mengalami gagal paham; karena memahamkan suatu peristiwa itu adalah takdir, tidak semudah kita menemukenali persoalan awalnya. Karena keberterimaan terhadap takdir memerlukan kesiapan dan kematangan pribadi; yang terkadang sulit diterima oleh nalar dan pikiran manusia biasa.

Oleh karena itu, mari teman yang sedang meniti takdir menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang sabar mendengarkan keluhan yang dipimpin; karena jangan jangan keluhan itu adalah lampu lalu lintas sosial yang sedang memberikan pertanda pada anda. Sebaliknya kepada yang berada pada posisi dipimpin juga harus bersabar, tolong dipahamkan kepada diri kita bahwa pemimpin itu bukan hanya memikirkan kita seorang, akan tetapi memikirkan sekian banyak orang yang menjadi tanggungjawabnya, tentu dengan beragam mau dan kehendak.

Protes itu boleh dan sah sah saja; karena para Nabi pun pernah protes kepada Sang Maha Pencipta. Hanya bentuk protesnya itu yang harus dipikirkan masak-masak, sehingga dapat menimbulkan kesabaran orang mendengarkan protes kita dengan cara yang seksama.

Tidak semua ketidaksetujuan kita tampilkan dengan bahasa fisik, namun lebih kepada bahasa “rasa”, sebab kedudukannya lebih tinggi makhomnya serta menunjukkan ketinggian budaya dan kematangan personal dari pelakunya.

Sabar sendiri adalah salah satu bentuk dari bahasa rasa tingkat tinggi. Tidak salah jika orang tua dahulu mengatakan bahwa “Wong kang sabar luhur wekasane” (orang yang sabar akan mulia akhirnya); adalah benar adanya. Apalagi kalau kita nukil dari ajaran agama, Innallaha ma a sobirin, yang terjemahan bebasnya orang sabar kekasih Allah; maka sebenarnya tidak harus ada anggota Dewan memukul wartawan, anggota satuan pengamanan memukul nenek-nenek. Karena semua bekerja dalam lingkup kesabaran sebagai manusia.****

 

 

 

  • Bagikan
You cannot copy content of this page