Sabaya Pati Sabaya Mukti

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Para penggemar wayang purwa maupun wayang golek pernah menikmati lakon “Matinya Patih Sengkuni” dan “Gugurnya Duryudana Raja Hastinapura”. Dalam cerita pewayangan, kedua tokoh ini mati dalam akhir peperangan besar Barathayuda secara bersamaan. Patih Sengkuni dibeset tubuhnya melalui anus oleh Bima Sena, dan Duryudana dipukul kaki kirinya menggunakan senjata Gada Rujakpolo.

Menurut cerita konon kedua tokoh tadi pada daerah anus untuk Patih Sengkuni dan paha kiri untuk Duryudana yang tidak terkena minyak jayengkatong atau minyak tala, maka menjadi titik lemah keduanya. Mereka walaupun sudah hancur tubuhnya, tetap berteriak menantang Bima untuk terus berkelahi.

Batara Kresna sang sutradara perang besar itu memerintahkan Bima untuk membeset mulut Duryudana, kemudian badan Sengkuni yang sudah hancur itu di masukkan ke mulut yang sudah dibeset tadi. Baru keduanya gugur sampyuh (mati bersama) dan tidak berteriak teriak lagi menantang berkelahi. Batara Kresna mengatakan kepada Bima bahwa keduanya sudah terikat oleh sumpah mereka untuk Sabaya Pati dan Sabaya Mukti, yaitu untuk selalu bersama baik pada waktu masih hidup maupun saat sudah mati. Menggambarkan kerukunan sampai mati walaupun dudu sanak dudu kadang (bukan saudara bukan sekandung); betapa luhur yang bernama “kebersamaan” (untuk lebih jauh dapat dibaca pada Serat Wulangreh: karya Sri Pakubuwana IV).

Perkembangan terakhir istilah Sabaya Pati Sabaya Mukti sering dipakai oleh Panata Cara (pembawa acara) pada acara “Temu Pinang Nganten” di acara perkawinan dengan adat Jawa. Maknawinya adalah mendoakan agar kedua mempelai tetap menyatu baik dalam keadaan susah maupun senang. Karena dalam pandangan masyarakat Jawa susah dan senang adalah pasangan yang juga tidak dapat dipisahkan, dan merupakan pakaian hidup manusia. Cara menghadapinya adalah tetap bersama sebagai suami istri walau dalam keadaan susah maupun senang.

Tamsil apa yag dapat kita tarik dari makna kata sakral tadi ? Jawabannya adalah hal ini juga seharusnya merupakan hubungan simbiosis mutualisme antara pemimpin dengan yang dipimpin. Pemimpin yang menyatu dengan yang dipimpin merupakan gambaran peneguhan akan kometmen maju bersama.

Adapun adanya keberagaman pendapat, sikap, tanggapan, apapun namanya, itu merupakan sunatullah yang harus diterima sebagai kenyataan oleh yang memimpin. Tidak perlu direspon secara berlebihan untuk dicatat, diingat, dan sebagainya. Karena hal itu menunjukkan kekerdilan pemimpin yang pada akhirnya bersifat dendam kepada yang dipimpin yang tidak sejalan menurutnya, walaupun munurut yang dipimpin itulah cara mereka menyampaikan koreksi kepada pemimpinnya.

Pada konsep Sabaya Pati Sabaya Mukti-nya Pakubuwana IV memberikan perlambang (tanda tanda); bahwa menyatunya pemimpin dengan yang dipimpin itu seperti halnya bilah keris masuk ke sarungnya (bhs Jawa : curiga manjing warangka, warangka manjing curiga). Penggambaran yang ingin disampaikan keris (bahasa Jawa: curiga) itu baru bermakna jika ada sarungnya (warangka). Sebaliknya, sarung (warangka) itu akan memiliki arti jika ada bilah keris di dalamnya.

Artinya, seorang pemimpin itu baru bermakna jika ada yang dipimpinnya; atau berada di tengah yang dipimpinnya; terlepas apakah yang dipimpinnya tadi memilihnya atau tidak saat pemilihan. Akan tetapi, begitu dinobatkan seseorang menjadi pemimpin harus mampu menjadi perekat dan penjembatan dari segala macam perbedaan dari yang dipimpinnya, sehingga menjadi harmoni. Bukan justru sebaliknya: memberi label atau stigma untuk penanda, yang pada akhirnya akan muncul sifat rendahan sebagai manusia yaitu ingin balas dendam.

Sabaya Pati Sabaya Mukti merupakan komitmen batiniah antara pemimpin dan yang dipimpin guna mencapai tujuan yang sudah disepakati bersama. Mengatur peran dari yang dipimpin adalah tugas pemimpin, sementara menaati aturan peran yang sedang dijalani adalah kuwajiban yang dipimpin. Jadi keduanya seiring jalan menuju kemakmuran bersama; karena pemimpin dan yang dipimpin memiliki visi dan misi yang sama. Pemimpin memahami aspirasi yang dipimpin. Yang dipimpin mendapatkan inspirasi dan motivasi dari pemimpinnya untuk melangkah maju bersama dalam kehidupan yang damai, adil dan sejahtera. Karena itu, relasi antara pemimpin dan yang dipimpin harus pas dan selaras. Keselarasan antara pemimpin dan yang dipimpin harus terjadi demi terwujudnya kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan.

Keselarasan itu juga tampak dalam sikap saling mendengarkan dalam semangat dialogis; bukan monolog masing-masing omong sendiri tanpa saling mendengarkan. Pemimpin biasanya paling susah mendengarkan dari yang dipimpin atau bawahan. Oleh karena itu mendengar adalah pekerjaan tersulit bagi banyak pemimpin menurut Jusuf Kalla pada waktu beliau masing memangku jabatan Wakil Presiden. Beliau sanggup berada posisi tidak tenar, karena mengutamakan mendengar aspirasi dari banyak pihak. Oleh karena mau mendengar itulah merupakan modal beliau mendamaikan kelompok yang sedang bertikai, dan sejarah mencatat semua itu sebagai kesuksesan yang sampai hari ini belum ada tandingnya.

Contoh sudah banyak, pelaku sudah tidak kurang dijadikan model; pertanyaan tersisa mampukah kita mensuriteladani semua itu. Jawabannya ada pada pribadi kita masing-masing; karena hanya hati nurani yang mampu menjadi hakim adil dalam hidup ini.***

  • Bagikan