Sabuk Hijau Hutan Mangrove Pulau Pahawang tidak Jatuh dari Langit

  • Bagikan
Hutan mangrove Pulau Pahawang.

Teraslampung.com — Dibumbui mitos tentang Mpok Awang dan banjir besar yang menenggelamkan sebagian wilayah daratannya, Desa  Pulau Pahawang, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, kini seolah menjelma gadis molek. Hal itu setelah selama belasan bahkan puluhan tahun warga Pahawang membangun kesadaran bahwa melindungi diri sendiri berarti harus melindungi alam sekitar dari kehancuran.

Itulah sebabnya, ketika belasaan tahun lalu Mitra Bentala masuk ke Pahawang untuk mengajak warga melestarikan pohon mangrove, warga Pahawang menyambutnya antusias. Yang tergerak untuk menyelamatkan pohon mangrove tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak sekolah. Di sela hari libur, anak-anak SD Pulau Pahawang rajin turun ke pinggir pantai untuk menanam bibit mangrove. Bibit mereka dapatkan dari kebun budidaya yang dibuat oleh warga bersama Mitra Bentala.

Dengan kerja keras warga dan anaa-anak sekolah yang tergabung dalam Anak Peduli Lingkungan (APL), jumlah tegakan pohon mangrove di Desa Pulau Pahawang makin banyak. Hutan mengrove makin menghijau. Dampaknya, nyamuk pun tidak menyerang perkampungan, ikan-ikan berkecipak di pinggir pantai, dan terumbu karang lestari.

Jika kini hutan mangrove menghijau dan membuat Pulau Pahawang memiliki nilai jual bagi sektor bisnis pariwsiata, tentu saja hal itu bukanlah ‘mengada’ begitu saja. Sabuk hijau itu merupakan hasil kerja keras selama belasan tahun, perjuangan warga dengan keringat dan biaya yang tidak sedikit. Warga harus merawat pohon mangrove dengan telaten dan sabar.


BACA: Hutan Mangrove Pulau Pahawang Terancam Jadi Tinggal Cerita

Mereka pun kini sudah mulai menuai hasilnya, yakni dengan banyaknya wisatawan yang hendak berlibur di Pulau Pahawang untuk menyusuri pinggir pantai sambil menyaksikan hutan mangrove atau menyelam di pantai untuk menemukan eksotisme ikan nemo dan terumbu karang.

Makanya. para aktvis Mitra Bentala dan Walhi mengaku aneh ketika ada seoraang pengusaha yang hendak membuat lokasi wisata tetapi dengan menebang pohon mangrove.

“Kalaupun dia merasa punya lahan, dia tidak bisa menebangi pohon mangrove sesuka hati,” kata Supri Yanto, aktivis Mitra Bentala yang kini aktif di Bidang Advokasi Walhi Lampung.

Oyos Saroso H.N.

  • Bagikan