Sada Lanang

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Sada lanang adalah disebutkan dalam dongeng Ande-Ande Lumut sebagai jimat yang diberikan oleh Bango Thongthong kepada Kleting Kuning. Sedangkan makna lain adalah salah satu jimat di Indonesia yang dipercaya dapat mendatangkan kewibawaan dan kekuatan bagi pemiliknya. Sada lanang merupakan lidi pertama yang jatuh dari pohon kelapa atau aren. Sada lanang adalah sebutan sehari-hari dalam masyarakat Jawa untuk sejenis lidi kelapa yang diisi dengan mantra. Terjemahan bebasnya sada itu lidi, lanang itu laki laki. Maksudnya satu batang lidi.

Ada versi lain berkaitan dengan sada lanang,  yaitu berkaitan dengan keris. Keris  yang berpamorsada lanang dipercaya bagi sebagian masyarakat Jawa khususnya, sebagai pusaka pegangan Raden Mas Said ( Sunan Kalijaga ). Keris ini, sering tampak terselip di pinggang depan Sang Sunan. Menurut dari beberapa sumber, selain seorang wali, sastrawan, dan budayawan Raden Mas Said juga memiliki keahlian membuat senjata keris.

Di dunia perbatuan dikenal juga istilah sada lanang, yaitu batu akik sada lanang. Yaitu sebuah batu akik permata ataupun batu mustika yang memiliki ciri khas tanda garis seperti angka 1. Batu akik jenis ini sering juga disebut dengan Batu Mustika Sada Sak Ler atau maknanya lidi sebatang.

Biarkan urusan mantra memantra dan bebatuan  itu menjadi bagian dari budaya yang tidak kita bahas di sini. Di samping bukan fokus yang dimaksud, juga penulis tidak memiliki ilmu tentang itu. Adapun yang ingin dijadikan fokus bahasan adalah sada lanang yang diterjemahkan sebagai lidi yang hanya satu.

Filosofi yang terkandung dalam konteks ini adalah sekuat apa pun kita,segagah apa pun kita, sesakti apa pun kita; jika kita mengerjakan sendiri semua urusan dunia ini tidak akan selesai. Bahkan urusan akhirat pun kita masih memerlukan orang lain. One man show, kata orang bule, adalah pekerjaan yang mustahil untuk di lakukan. Apakah benar demikian?Justru ini yang digugat oleh generasi milenial.

Perlambang yang ingin disampaikan diibaratkan sebuah lidi oleh orang orang bijak masa lalu itu adalah kita diharuskan bekerjasama dengan orang lain jika ingin sukses. Setajam apa pun lidi jika hanya satu, membunuh lalat pun tidak mungkin bisa. Sebaliknya, jika digabung dengan lidi lidi yang lain, seluas apa pun halaman akan bersih jika disapu menggunakan himpunan tadi.

Namun, semua itu akan berlalu pada pertengahan abad ini; karena hampir semua pekerjaan di dunia ini akan dikerjakan oleh sedikit orang, bahkan mungkin hanya satu orang saja. Pertengahan abad ini akan membalikkan filosofi tadi bahwa sendirian pun jika mampu kenapa harus beramai-ramai. Penguasaan akan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa mendatang akan memaksa orang untuk menguasai sejumlah pengetahuan dengan bekerja secara mandiri.

Adanya inteligensi buatan disambung keberadaan big data, membuat dunia semakin ringkas, dan menuntut penyesuaian diri yang cepat bagi para penghuni planet bumi ini. Arah dan gelombangnya semakin hari semakin terasa saat ini, ternyata Sodo Lanang memang harus terjadi dan menjadi. Oleh karena itu, banyak lembaga dituntut untuk merevolusi dirinya sendiri agar selamat dari seleksi alam.

Kemampuan beradaptasi model mimikri tampaknya merupakan salah satu pilihan; oleh karena itu bentuk bentuk pengerahan massal pada era ini sudah tidak zamannya lagi, kecuali bagi mereka yang gagap teknologi. Di samping tidak ekonomis atau malah pemborosan, juga sangat merepotkan semua pihak. Kecuali memang ada niatan untk memboroskan agar mendapatkan keuntungan personal dari keborosan tadi. Apalagi disertai dengan muatan politik praktis; sehingga aturan ditabrak, termasuk pemanfaatan asset negara untuk kepentingan pribadi dan golongan atau kelompoknya.

Penyiapan generasi masa depan bukan hanya melalui perubahan kurikulum, perbaikan sistem; justru yang lebih penting adalah kemampuan beradaptasi pada segala medan perjuangan hidup yang perubahannya begitu cepat dan drastis.

Penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama itu ada celah kosong yang harus segera diisi oleh kita sebagai generasi yang mengantarkan; yaitu ideologi kebangsaan yang selama ini menjadi jiwa dan semangat sebagai warganegara. Tanpa itu akan terjadi kekosongan yang membahayakan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sada lanang – sada lanang yang berdiri masing masing itu harus diikat dalam satu ideologi bernegara yang kokoh dan utuh, agar negara ini tetap ada sampai kapanpun. Belajar dari negara-negara di kawasan Balkan, Uni Soviet, dan juga dari dalam negeri Majapahit, Mataram, Sriwijaya; mereka pernah berjaya di muka bumi ini, dan hancur akibat ketidakadaan ideologi negara yang kuat yang dijadikan tataaturan perilaku bernegara yang bersifat mengikat warganya.

Sekarang kita punya tetapi tidak diberdayakan secara maksimal, bahkan cenderung sayup-sayup mulai ditinggalkan. Kesalahan itu bukan pada generasi sekarang, tetapi ada pada kita sebagai generasi antara. Mumpung masih ada waktu dengan semangat sada lanang, mari kita rajut negeri ini dengan Pancasila dan Bhineka Tuggal Eka. Kedengarannya klasik, namun jika kita terlambat, maka hancurlah negeri ini.

Selamat menikmati kopi panas!

  • Bagikan