Beranda Views Kisah Lain Saksi Bisu Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau Ini akan Diboyong ke Kantor Pemkot...

Saksi Bisu Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau Ini akan Diboyong ke Kantor Pemkot Bandarlampung

6691
BERBAGI
Lampu suar saksi sejarah dahsyatnya letuhan Gunung Anak Krakatau, berada di Kelurahan Gedung Pakuon, Kecamatan Telukbetung Selatan.
Lampu suar saksi sejarah dahsyatnya letuhan Gunung Anak Krakatau, berada di Kelurahan Gedung Pakuon, Kecamatan Telukbetung Selatan.

TERASLAMPUNG.COM — Walikota Herman HN dalam waktu dekat akan memindahkan lampu mercusuar (lampu suar) yang berada di Kelurahan Gedung Pakuon dan menjadi salah satu bukti dahsyarnya letusan Gunung Krakatua pada 1883 ke Kantor Pemkot Bandarlampung.

“Lampu suar itu bawahnya dah hancur itu, gak apa-apa nanti dibagusin kita pindahkan ke halaman Pemkot Bandarlampung,” katanya, usai meninjau keberadaan lampu tersebut di Kelurahan Gedung Pakuon, Kecamatan Telukbetung Selatan, Rabu 30 Oktober 2019.

Selanjutnya, kata Herman HN, ‘bangkai’ lampu suar yang berusia ratusan tahun itu akan dibuatkan prasasti.

“Ini asli sisa meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Nanti kalau lampu itu sudah pindah di tempat asalnya kita buatkan prasasti,” katanya.

Lampu suar tersebut diyakini merupakan salah satu lampu mercusuar yang pada abad 19 sebelum Gunung Kratatau Tua meletus menjadi sarana membantu navigasi kapal laut di Selat Sunda. Lampu suar itu kemudian terlempar hingga Telukbetung ketika Gunung Krakatau meletus pada 1883 disertai dengan hantaman tsunami.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bandarlampung, Iwan Gunawan, mengatakan  pemindahan lampu suar tersebut akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Kami pindahkan secepatnya. Kami akan koordinasi dengan camat setempat. Kami bertugas soal teknis. Soal urusan non tehnis biar camat yang mengurusnya,” kata Iwan.

Urusan nonteknis yang dimaksudkan Iwan adalah ‘hal-hal di luar kebiasaan’. Menurut warga sekitar, kata Iwan, lampu suar tersebut sebenarnya sudah lama ada yang ingin memindahkan. Namun, karena ada faktor ‘nonteknis’, lampu itu tidak ada yang mampu memindahkannya.

Dari pantauan teraslampung.com, untuk melihat keberadaan lampu suar di Kelurahan Gedung Pakuon, cukup sulit. Untuk sampai tempat itu, dari Jalan W.R. Supratman masuk Gang Kemas Wara kira-kira 150 meter melalu jalan kecil yang hanya seluas 1,5 meter.

Keberadaan lampu suara itu tepat di depan pengimaman Mushola Nurul Iman dan ditempat yang hanya berukurun 1,5 X 1,5 meter.

Menurut Camat Telukbetung Selatan, Ichwan Adji Wibowo, untuk memindahkan lampu itu bisa dilakukan lewat gudang kosong sebelah mushola.

“Alat berat masuknya lewat gudang kosong, jebol tembok sedikit baru bisa lampu itu diambil. Kami juga berupaya tidak hanya lewat tehnis tapi lewat non tehnis,” ujarnya.

Lampu suar bukti dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang ditemukan di Bandarlampung setidaknya ada tiga. Pertama adalah lampu suar yang kini masih dipasang di Taman Dipanggga. Kedua, lampu suar yang kini berada di Museum Lampung, dan ketiga lampu suar di Kelurahan Gedung Pakuon.

Selain tiga lampu suar, sebetulnya ada satu lagi benda bersejarah bukti dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883, yaitu Kapal De Berouw. Bangkai kapal itu dulu pernah berada di Kali Sumur Putri, Telukbetung. Namun, pada tahun 1978 saat terjadi banjir besar, besi bekas kapal De Berouw hanyut hingga Sungai Kuripan. Sesampaai di Sungai Kuripan, bangkai kapal bersejarah itu besinya potong-potong warga dan dijual.

Lampu suar yang berada di Musium Lampung terawat dengan baik. Tidak begitu halnya dengan lampu suar yang dipasang di Taman Dwipangga di depan Markas Polda Lampung.

Kondisi lampu suar di Taman Dwipangga itu saat ini memprihatinkan seiring dengan tergusurnya Taman Dwipangga menjadi lahan parkir. Padahal, sebelum Taman Dwipangga berubah menjadi lahan parkir, setiap sore di taman tersebut selalu ramai pengunjung. Banyak warga menikmati ruang publik sembari duduk santai di bawah rindang pohon Taman Dwipangga.

Dandy Ibrahim

Loading...