Beranda Views Bahasa Salah Kaprah Pemakaian Kata “Launching”

Salah Kaprah Pemakaian Kata “Launching”

8729
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Kalau kita cermati pemakaian bahasa di media (terutama media online), tampaklah tebaran kata “launching”. Pada umumnya berita-berita yang memakai kata launching adalah berita yang dibuat orang humas lembaga dan dikirim kepada para wartawan (rilis). Wartawan dan media yang malas, akan meloloskan begitu saja kata itu. Maka, jadilah ada judul berita seperti ini misalnya: “Gubernur Lakukan Launching Program Abakadabra”, “Penyair X akan Launching Buku Baru Bartajuk Cinta tak Berbalasa”, dan sejenisnya.

Lebih konyol lagi, ada media yang menulis judul, misalnya, “Gubernur Lakukan Lounching Program Abakadabra”.

Pemakaian kata launching dalam bahasa Indonesia merupakan salah satu bentuk salah kaprah yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebab, bahasa Indonesia sudah punya padanan kata launching yaitu peluncuran. Kalau ada gubernur meresmikan program baru, cukuplah ditulis “Gubernur Meluncurkan Program Abakadabra” atau “Peluncuran Program Abakadabra Berlangsung Meriah” atau “Gubernur Meresmikan Program Abakadabra”.

Pada banyak konteks, kata peluncuran atau launching sebenarnya maksudnya adalah peresmian. Namun, seiring dengan makin banyaknya kata launching, kata peresmian atau meresmikan menjadi tersingkir. Para pejabat, wartawan, orang awam pun kemudian lebih senang dan lebih sering memakai kata launching untuk maksud peluncuran atau peresmian.

Salah kaprah itu, bisa jadi, memang disengaja atau karena penggunanya tidak tahu arti kata launching dalam bahasa Indonesia. Disengaja, karena si pemakai akan merasa “gagah”, keren, dan berkelas karena memakai bahasa Inggris. Ini sama halnya dengan orang yang suka memakai kata perform ketimbang tampil, performance daripada penampilan, dan coach dibanding pelatih.

Tidak tahu, karena mereka malas mencari tahu dan pasrah menerima apa adanya. Ini sama persis dengan ratusan bahkan mungkin ribuan media online di Indonesia yang beritanya cuma mencontek persis atau copy paste berita rilis yang dikirim oleh lembaga yang sudah meneken kontrak kerja sama pemberitaan. Jangankan cuma satu kata launching, di negeri ini banyak media online yang memuat berita rilis sama persis dari judul, titik koma, hingga kutipannya.

Memang belum ada hasil penelitian yang cukup meyakinkan bahwa memakai kata dan istilah asing akan membuat si pemakai lebih hebat atau lebih keren. Sebab itu, ada baiknya kita menghindari memakai kata dan istilah asing dalam tulisan atau praktik komunikasi.

Kata asing bisa dipakai dalam bahasa Indonesia sepanjang kata tersebut memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Itu pun harus dijelaskan apa arti kata asing itu. Dalam penulisan, kata asing itu harus ditulis dengan huruf miring (italic). Dalam judul berita atau judul tulisan ilmiah, kata asing itu ditulis di dalam tanpa kutip/tanda petik dua (“……..”).

 

Loading...