Beranda Kolom Kopi Pagi Sampah dan “Untung Saja Ia Keluarga Kita”

Sampah dan “Untung Saja Ia Keluarga Kita”

394
BERBAGI
Ilustrasi

Oyos Saroso H.N.

Anda pernah menyaksikan seorang pengendara mobil bagus membuang sampah sembarangan ke jalan raya?

Kalau pertanyaan ini diajukan kepada warga Kota Bandarlampung, barangkali, seperempat warga kota ini akan menjawab “pernah”.

Saya pernah punya pengalaman menarik soal kebiasaan menyampah di jalan raya. Kejadiannya sudah agak lama, saat anak bujang dan gadis masih duduk di bangku SD.

Pada suatu siang yang panas, saya dikejutkan dengan kulit buah rambutan yang dilemparkan dari dalam mobil ke jalan raya. Itu terjadi sejak depan Mahan Agung di Jl Dr Susilo Bandarlampung. Karena penasaran, saya ikuti terus mobil itu: tahulah saya, yang membuang kulit rambutan bukan anak-anak. Ia orang dewasa yang menyetir mobiil sedan.

Ia masih terus membuang kulit rambutan hingga mobilnya melintasi Jalan Juanda dan berhenti di sebuah SD di dekat Stadiion Pahoman.

Ketika penyampah itu turun dari mobil, saya perhatikan wajah dan pakaiannya. Perlente. Ia terlihat seperti orang sekolahan. Penampilannya pun terlihat santun.

Bapak perlente penyampah yang menghina tekad Walikota Bandarlampung barangkali masih banyak kawannya. Bukan cuma mereka yang bermobil, tetapi mungkin juga pemotor dan pejalan kaki. Prinsipnya: yang penting mobil saya dan diri saya bersih. Sampah di jalan, itu urusan petugas kebersihan.

Prinsip semacam itu pula barangkali yang membuat pemuda pemberang pengendara mobil membuang sampah di jalan raya di Jl. Pemuda Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat lalu (13/10/2017). Pemuda pemberang nan gagah berani itu tiba-tiba terkenal karena berani menghajar seorang perwira angkatan laut yang naik sepeda motor besama istrinya.

Dari sisi apa pun, pemuda sok jago itu jelas salah: ia membuang sampah keluar mobilnya. Maksudnya hendak menyampah ke jalan raya, tetapi malah kena istri sang perwira. Wajar bila pak perwira marah. Ia memaki pun wajar.

Singkat cerita, mereka bertengkar. Dan hanya dalam hitungan detik, si pemuda turun dari mobil lalu merangsek perwira yang masih memakai baju seragam militer itu. Hanya dalam hitungan menit, video aksi “gagah berani” dan sok hebat itu tersebar di dunia dan menjadi viral.

Sang perwira, yang belakangan diketahui bernama Lettu Satrio, banyak mendapatkan dukungan dari warganet. Sedangkan pemuda pemberang dicaci-maki habis-habisan. Tak sedikit warganet yang berharap si pemuda segera diringkus polisi atau tentara. Bila perlu gantian dikasih bogem mentah berkali-kali biar kapok.

Hanya dalam hitungan jam cerita berakhir tak bahagia bagi sebagian warganet: sang pemuda menggelar konferensi pers dan meminta maaf. Video permintaan maaf dalam konferensi pers disebarkan media arus utama maupun media abal-bal — juga warganet.

Bukan permintaan maafnya yang membuat unhappy ending bagi warganet, tetapi cara penyelesaian kasusnya. Itu setelah pihak Mabes TNI AL mengumumkan bahwa pemuda pemberang dan pak perwira yang kena hajar dan dipermalukan di jalan raya itu sudah saling memaafkan. Ternyata, kata pemuda itu masih keluarga anggota TNI.

“Keduanya keluarga besar TNI AL,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana pertama Gig Jonias Mozes Sipasulta,

Tentu saja, berdamai itu sangat baik. Tetapi memaklumi brutalisme dilakukan oleh orang dewasa di tempat umum jelas tidak mendidik.

Untung saja si pemuda itu masih keluarga anggota TNI AL.  Ia masih “keluarga kita” sehingga salah pun masih mendapatkan tempat di hati banyak orang. Akan lain ceritanya jika sang pemuda anak warga biasa.

Penyampah di jalan raya dan mental sampah adalah kisah lain di antara teriakan parau kampanye revolusi mental yang sering kita dengar…

Loading...