Beranda Teras Berita Sampah Tak Selamanya Sampah

Sampah Tak Selamanya Sampah

225
BERBAGI

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu”–Arai, Laskar Pelangi.


Oleh Trisha Adelia

Aktivis Laskar Hijau menjelaskan tata cara pengelolaan sampah. (Foto: Trisha Adelia)

Aku sudah lama sekali ingin ke Jogja. Berkali-kali aku ajak bapakku, tapi ia menolak. Jogja, ya gitu-gitu saja, katanya. Tapi aku tetap kekeuh, aku berikrar dan berdoa, kalau aku tidak dapat ke Jogja bersama keluarga, semoga aku dapat ke sana bersama kawan-kawan.

Dan doaku terkabul. Aku mendapat undangan reuni duta sanitasi di Jogja! Dibayar gratis oleh pemerintah dan mendapat uang saku. Alhamdulillah… pada tanggal 21 Agustus 2014, aku dan para duta sanitasi Lampung berangkat dan mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas pekerjaan Umum (PU) itu selama 4 hari.

Dulu waktu SMP, tahun 2012 aku menang lomba karya tulis sanitasi, dan hanya dengan menulis, ternyata hal itu mengantarkanku mendapat gelar duta sanitasi, walaupun dulu, aku tak paham betul apa itu sanitasi.

Di perjalanan ke Jogja, aku kira aku bersama para duta sanitasi perwakilan Lampung akan berangkat setelah dari Bandara Radin Itten ke Bandara Soekarno-Hatta, kemudian naik travel ke Jogja. Dan di situlah titik di mana aku sadar, betapa sempitnya ilmuku. Aku baru tahu Jogja punya Bandara Adisujipto! Bukan main, padahal aku anak IPS. Akhirnya dengan sengiran lebar, aku menaiki Pesawat Garuda yang menuju Jogja setelah transit.

Dalam reuni itu, bagian paling menarik adalah berkunjung ke Desa Sukunan, Sleman, Jogja untuk kunjungan lapangan salah satu desa yang telah mendapat rentetan penghargaan sanitasi lingkungan. Kesan pertama yang aku tangkap di desa itu adalah : hijau menyegarkan. Kehidupan manusia di Desa Sukunan dengan alam berjalan sinergis. Manusia hidup membutuhkan alam, alam memberi kebutuhan manusia, kemudian manusianya merawat alam.

Bukan hal yang muluk untuk dijumpai, desa itu benar-benar bersih dari sampah anorganik. Semua warga Desa Sukunan sangat mematuhi aturan “Dilarang membuang sampah sembarangan” bahkan, di sana tidak banyak terdapat peringatan yang berbunyi demikian. Desa ini telah mencapai tingkat peringatan lebih keren, “Bagi setiap warga yang membuang sampah tanpa memilah, maka akan dikenakan sanksi yang tegas.” Ya, desa ini memang sudah tertib mengadakan pemilahan sampah. Yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya Beracun). Kemudian sampah-sampah itu oleh warga diolah dan didaur ulang.

“Sampah tidak selamanya sampah” begitulah motto para warga Desa Sukunan. Semua warga di sini aktif ikut serta dalam pengolahan dan daur ulang sampah. Mulai dari para lelaki yang biasanya bertugas mengolah tinja hewan ternak dan urin manusia menjadi biogas, para ibu-ibu yang kreatif “menyulap” sampah menjadi barang baru yang cantik dan bernilai jual, sampai anak-anak yang sudah mengerti untuk ikut membantu dan tidak mengotori lingkungannya.

Desa Sukunan adalah desa. Sesuai namanya, desa ini penuh dengan kesederhanaan. Rumah-rumahnya sederhana seperti desa pada umumnya, namun setiap rumah di Desa Sukunan menghijaukan rumahnya masing-masing dan memiliki biopori (tempat peresapan air) yang merangkap tempat pengomposan sampah organik yang kemudian di biopori itu mereka memproduksi pupuk kompos mereka sendiri. Lebih dari itu, aku–dan mungkin semua para duta sanitasi–merasa hangat dengan sambutan para warga yang ikhlas mengajarkan kami ilmu yang mereka terapkan di kehidupan mereka sehari-hari.

Di sana aku berpikir, bagaimana bisa di Indonesia yang biasanya aku lihat banyak yang acuh tak acuh dengan lingkungannya terdapat wilayah seperti ini. Aku merasa berada di Indonesia bagian lain. Lalu pertanyaan berikutnya muncul di benakku, bagaimana cara desa ini bisa menyatukan warganya untuk sebegini pedulinya terhadap lingkungan?

Jawabanku pun akhirnya terjawab saat aku dan kawan-kawanku mendengarkan “Laskar Hijau” yang berasal dari berbagai daerah. Mereka adalah para “pejabat” di Desa Sukunan. Terlihat sekali di senyum lebar dan sorot mata mereka yang teduh menyiratkan keikhlasan dan berbagi terhadap sesama. Banyak dari mereka yang sukarela membangun desa ini. Sungguh, Laskar Hijau Desa Sukunan ini bukan orang terpandang, bermodal besar dan bergelar panjang. Tapi yang mereka miliki : rasa cinta terhadap sesama dan iman yang tinggi terhadap Tuhan, apabila niat kita baik, maka Tuhan akan memudahkannya.

Salah satu dari pembicara di Laskar Hijau adalah Pak Sandi, ia bagian dari yayasan Nara Kreatif, yayasan yang bergerak dalam bidang peduli lingkungan dan anak jalanan atau yatim dhuafa. Yayasan Nara Kreatif mengajari anak-anak yang sebagian orang menandang mereka sebagai “sampah kota” untuk menjadi mutiara dalam lumpur. Mereka diajari cara mendaur ulang sampah dan berwirausaha menjual produk kreatif hasil olahan tangan mereka. Mendengar pemaparan Pak Sandi, air mataku menitik. Betapa tak tersirat sedikit pun keangkuhan di wajahnya yang terlengkung senyum hangatnya.

Banyak dari kita yang mendalami ilmu, baik itu umum maupun agama. Tapi bukannya seperti padi yang makin merunduk, dengan ilmu itu kita justru makin arogan. Inilah anomali manusia kebanyakan. Tapi tidak jika bersama ilmu itu kita barengi dengan kerendahan hati. Pak Sandi, contohnya. Ia adalah pahlawan sesungguhnya. Dan pahlawan tidak mesti lahir dari keturunan darah biru. Kita, makhluk Tuhan dengan segala kekurangannya juga bisa menjadi pelopor atau pahlawan. Andai kita semua, seluruh lapisan rakyat di Indonesia saling sadar, satu perubahan dari diri kita menjadi lebih baik untuk peduli terhadap lingkungan dan sesama, dapat memberi perubahan masif yang dapat mewujudkan kesejahteraan yang selalu kita impikan.

Semoga aku, kamu, dan kita semua mau untuk lebih peduli. Karena alam ini semakin tua. Dan manusia semakin mendesaki paru-paru dunia.

Salam Hijau!

* Trisha Adelia adalah siswa SMA Negeri 2 Bandarlampung, peserta Workhop Jurnalistik LMC di SMA Bandarlampung, 27-28 Agustus 2014.
Sumber: http://greenadele.blogspot.com/

Loading...