Beranda Views Kopi Pagi Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono

229
BERBAGI
Sapardi Djoko Damono saat acara Meet and Greet film Hujan Bulan Juni di Jakarta 1 November 2017. Tempo/ Fakhri Hermansyah
Sapardi Djoko Damono saat acara Meet and Greet film Hujan Bulan Juni di Jakarta 1 November 2017. Tempo/ Fakhri Hermansyah

Oleh: Handrawan Nadesul

Penyair Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu pagi (19/7/2020). Tahun 2018 terakhir kali bertemu Mas Sapardi Djoko Damono ketika ia menjadi salah seorang pembedah buku puisi saya Untukmu Aku Bernyanyi, di Kampus Atma Jaya Jakarta. Namun, pertemuan lewat WA masih berlangsung sampai bulan Juni akhir kemarin, masih soal penyakitnya. Bahkan sampai awal Juli lalu masih ada WA yang dikirimkan kepada saya.

Setelah pulang pertama kali dari RS Eka, yang menyatakan hanya tinggal memulihkan kadar Hb-nya saja. Dan saya menganjurkan agar setiap hari mengkonsumsi telur, dan Mas Sapardi, begitu saya biasa memanggilnya sejak dulu, tidak mau dipanggil Prof, mengaku bahwa telur memang kesukaannya.

Hampir beberapa bulan sekali Mas Sapardi minta saya menuliskan resep untuk keperluan tidurnya. Beberapa kali pula setiap kali mengambil resep ke rumah, ia memberi saya buku puisi terbarunya, dengan catatan. Saya juga beberapa kali berkunjung ke rumah Mas Sapardi untuk membawakan buku, mengundang untuk peluncuran buku, dan sebelumnya pernah meminta Mas Sapardi menuliskan buku puisi Forget Me Not saya ke dalam bahasa Inggris. Naskah terjemahan karya Mas Sapardi itu belum saya terbitkan.

Ellan vital Mas Sapardi luar biasa. Ia sebetulnya sudah tak sanggup duduk berlama-lama mengetik, namun kegiatan itu masih terus ditekuni, semangatnya yang kuat mengalahkan rasa nyerinya duduk berlama-lama. Ada saja yang dituliskannya, yang selama ini Jun Kurniawan Junaedhie, menghimpunkannya. Semangat menuliskan puisinya, atau entah potongan rasa apa pun, yang layak kita teladani.

Mas Sapardi menulis tidak menghentak, namun bersahaja, bermain dengan perasaannya, dengan pikirannya yang membumi sekali. Dulu waktu saya masih suka sowan ke kantor majalasa sastra Horison di Jl Gereja Theresia, Jakarta, bertemu Mas Sapardi, kadang Mas Taufiq Ismail, dan Mas GM, ada beberapa pesan ihwal menulis puisi. Katanta: jangan kelewat beremosi. Tanpa menuliskan kara merah, orang merasakan tersirat rasa merah itu. Itulah sastra, katanya.

Tahun 1978 kalau tidak salah, saya berani-beraninya mengupas kumpulan puisi Mas Sapardi berjudul Akuarium di Ruang Budaya Kompas. Saya tidak tahu apa perasaan Mas Sapardi dengan kupasan seorang yang bukan berlatar belakang sekolah sastra, tapi mengupasnya. Agak menyesal juga ketika itu.

Mas Sapardi penyair besar yang bersahaja. Pembawaanya sederhana, cakap bergaul dengan yang lebih muda, dan puisinya bisa akrab dengan sekian generasi di bawahnya, juga anak-anak muda kiwari, manakala terakhir-akhir Mas Sapardi banyak tampil di panggung kampus, dan beberapa kegiatan sastra, ketika ada pihak yang menampilkannya.

Kita sudah selesai dengan sosok Mas Sapardi, dan perasaan itu beberapa kali dituliskannya dalam puisinya, namun kita masih belum selesai dengan apa yang pernah dituliskannya, yang disisakan untuk kita masih bisa menikmatinya seindah puisi “Aku Ingn Mencintaimu”. Puisi indah yang sederhana.

Bahwa puisi yang indah itu bukan puisi gelap (seperti kata Mas GM), tapi puisi yang selain punya makna, indah pula dalam diksi. Sapardi Djoko Damono membuktikan itu dalam semua puisinya.

Selamat jalan, Mas.

Salam dari kami yang ditinggalkan….

* Handrawan Nadesul adalah dokter dan sastrawan

Loading...