Beranda Headline Sarung dan Pilgub Lampung yang Banal

Sarung dan Pilgub Lampung yang Banal

8888
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Mat Prenjak nyap-nyap di warung kopi Mbak Caca Marica Hehe usai shalat tarawih di musala.Pokok soalnya bukan pinggang yang “mrengkel” karena habis menyelesaikan 23 rakaat shalat tarawih plus witir. Ia nya-nyap tanpa jelas kepada siapa karena habis bertengker dengan bininya.

Sang bini –eh, maksudnya sang istri–ngotot untuk menerima selembar sarung dan mukena dari salah satu pasangan calon (paslon) Gubernur-Wakil Gubernur Lampung. Sementara Mat Prenjak ngotot menolak karena sudah telanjur menjadi paslon yang menurutnya lebih siip.

“Lha kalau cuma sarung dan mukena, berapa sih harganya? Mosok suara istri saya cuma ditukar dengan begituan. Paling banter harganya tujuh puluh ribu!” entak Mat Prenjak, usai menyerupuk kopi nasgitel.

“Terus kesimpulannya diterima apa enggak?” tanya Mbak Caca.

“Karena istriku mata duitan, ya diterima!”

“Katanya sarung dan jilbab…kok sampeyan bilang istrimu mata duitan? Lagian sampeyan itu aneh. Sama istri sendiri kok kejam begitu…”

“Ya maksudku sarung dan mukena itu kan belinya pakek duit… Padahal di rumah saya kan yang laki-laki cuma saya sendiri. Lha nanti sarungnya buat apaan kalau saya ogah make?” cerocos Mat Prenjak.

“Begini saja,” sela Mat Rujak’i,”bagaimana kalau sarung itu buat saya saja?”

“Walah….dasar mata duitan juga kamu Jak!”

“Katanya sampeyan nggak mau sarung pemberian paslon. Kalau sarung itu nggak sampeyan pakai itu kan mubazir. Mubazir itu kawannya setan!” Mat Rujak’i tidak mau kalah.

“Halah…lha cuma sarung murah saja kok.Jelek. Aku biasa pake sarung Gajah Duduk. Lha ini gajah ndlosor!” ujar Mat Prenjak.

“Mau gajah ndlosor kek, gajah jongkok kek….pastinya paslon cagub Lampung itu keluar dana besar untuk membeli sarung. Ada setengah juta sarung dijadikan alat peraga untuk shalat Ied. Hebat kan?”

“Nah itu! Setengah juta sarung alat peraga! Inilah sebabnya ada pengamat yang menyebut pilgub Lampung itu paling binal!” pekik Mbak Caca Marica.

“Apa?! Apa itu Pilgub Binal?” tanya Mat Prenjak dan Mat Rujak’i,nyaris serempak.

“Banal keles…. Banal itu artinya kasar,tidak elok,sangat norak..” ujar Karto Marmut yang sejak tadi cuma diam di pojokan.

“Menurutmu, kenapa Pilgub Lampung bisa binal,eh, banal?”  tanya Mat Rujak[i.

“Karena penyelenggara dan pengawasnya melempem kayak kerupuk kecemplung ke air! Dan itu sudah didesain oleh aturan ‘dari sononya’!”

“Maksudnya?” desak Mat Rujak’i.

“Lihat saja aturan yang dibikin KPU. Dalam Peraturan KPU disebutkan bahwa sarung, jilbab, dan sejenisnya yang dibagikan kepada calon pemilih disebutnya sebagai ‘alat peraga’! Asal nilainya tidak lebih dari Rp 100 ribu, bagi-bagi sarung, jilbab, celana dalam, dan kutang tidak melanggar. Ini adalah ketololan yang jelas mencolok mata!”

“Aih…masa sih KPU disebut tolol.Mereka pastinya orang pintar dan pilihan!” protes Mbak Caca.

“Justru karena pintar itulah maka bikin alasan yang canggih. Yang lucu dan aneh pun bisa diubah jadi wajar karena sesuai aturan yang mereka bikin. Padahal, menyebut oleh-oleh dan sogokan berupa barang dengan istilah ‘alat peraga’ berarti KPU sudah memberikan celah yang sangat lebar bagi paslon yang punya cukong tajir untuk mengebom calon pemilih…”

“O….kini saya tahu kenapa Pilgub disebut binal…”ujar Mat Rujak’i.

“Banal!” teriak Mbak Caca Marica.

 

Loading...