Beranda News Obituari Sastrawan Ajip Rosidi Wafat

Sastrawan Ajip Rosidi Wafat

191
BERBAGI
Ajip Rosidi. Foto: Tempo.co

TERASLAMPUNG.COM — Sastrawan dan perintis Penghargaan Anugerah Sastra Rancage, Ajip Rosisi (82), wafat di Rumah Sakit Tidar,Magelang, Jawa Tengah, Rabu malam (29/7/2020) pukul 22.20 WIB.

Kabar meninggalnya tokoh sastra Indonesia dan sastra Sunda itu disampaikan orang dekat Ajip yang juga pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Hawe Setiawan.

“WARTA SUNGKAWA. Telah wafat: sastrawan, budayawan, Kang AJIP ROSIDI malam ini, Rabu, 29 Juli 2020, sekitar pukul 22.20 WIB di Rumah Sakit TIDAR, Magelang. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun,” tulisa Hawe, di linimasa Facebook.

Sejak 23 Juli 2020 lalu Ajip dirawat di RS Tidar di Magelang setelah terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Ungkapan simpati dari para sastrawan dan seniman Indonesia membanjir di media sosial sejak tokoh sastra itu dirawat di Magelang.

Sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938 itu sangat besar jasanya bagi kesusasteraan Indonesia.

Meskipun bukan tamatan perguruan tinggi jurusan sastra, Ajip termasuk tokoh sastra yang sangat dihormati di Indonesia karena banyak karya sastra maupun buku telaah tentang sastra yang ditulisnya. Buku tentang sejarah kesusasteraan Indonesia yang ditulis Ajip menjadi salah satu buku wajib para mahasiswa jurusan sastra Indonesia di Indonesia.

Ia juga menjadi pengajar sastra-budaya di perguruan tinggi di Indonesia. Sejak 1967 Ajip hingga pertengahan era 1990-an Ajip mengajar sastra Indonesia di perguruan tinggi di Jepang.

Pada 31 Januari 2011 Ajip menerima gelar doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Dikutip dari wikipedia.org, pada umur 12 tahun, saat masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat, tulisan Ajip telah dimuat dalam ruang anak-anak pada harian Indonesia Raya.

Sejak SMP Ajip sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955). Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971).

Ia mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).

Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979).

Ajip juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981). Ia menjadi anggota DKJ sejak awal (1968).

Pria yang masih tampak sehat pada masa tuanya itu juga pernah menjadi anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) pada 1954 dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960).

Ia juga menjadi salah seorang pendiri Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin (1977). Karena tahu persis perjuangan membangun Taman Ismail Marzuki (TIM) dan PDS H.B. Jassin yang berada di kompleks TIM itulah Ajip termasuk sangat vokal menyuarakan penolakan pembangunan hotel di TIM. Menurut Ajip, kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan keliru karena akan ‘mengubah’ TIM sebagai pusat kebudayaan menjadi kawasan bisnis (hotel).

Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancagé setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.

Lewat Yayasan Kebudayaan Rancage,Ajip memberikan anugerah Rancage kepada para sastrawan terbaik yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, dan Banjar setiap tahunnya.

Loading...