Beranda Hukum Kriminal Satu Korban Kabur, Jual Beli ABG untuk Dipasok ke Eks-Lokalisasi Pemandangan Terbongkar

Satu Korban Kabur, Jual Beli ABG untuk Dipasok ke Eks-Lokalisasi Pemandangan Terbongkar

443
BERBAGI
Kapolsekta Panjang, Kompol Sofingi menginterogasi tersangka Wito dan Intan, Senin (15/5/2017).

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Terbongkarnya bisnis gadis di bawah umur untuk dipasok ke eks-Lokasisasi Pemandangan, Panjang, Bandarlampung karena korban berinisial MS (15 tahun) berhasil kabur.

Tidak lama kemudian, Suwito Saputra alias Wito (37) dan Satinah alias Mama Intan (40), tersangka jual-beli anak di baru gede (ABG) diringkus polisi.

Kapolsekta Panjang, Kompol Sofingi, mengatakan korban berinisial MS bersama ketiga korban anak lainnya berinisial AN (16), NR (17) dan AR (18) dibawa oleh tersangka Intan dari Banyumas, Jawa Tengah. Tersangka Intan ini, merupakan bibi dari korban MS. Keempat korban dibawa Intan ke rumah bordir tersangka Wito di lokalisasi eks Pemandangan, Panjang.

“Para korban dijadikan pekerja seks komersial (PSK) dan dijanjikan akan mendapatkan bayaran dalam setiap minggunya setelah melayani para pelanggannya lelaki hidung belang,”ujarnya, Senin (15/5/2017).

Sofingi mengutarakan, selama sembilan hari berada di rumah bordil milik tersangka Wito,  ponsel milik para korban disita tersangka Wito agar tidak bisa menghubungi keluarganya.

“Selasa (9/5/2017) sekitar pukul 14.00 WIB, korban MS memberanikan diri kabur dari rumah bordil pergi menuju ke Mapolsekta Panjang. Ia  melaporkan kejadian yang dialaminya,”ungkapnya.

Mendapat laporan dari korban MS, kata Sofingi, saat itu juga petugas langsung mendatangi ke rumah bordir tersebut.

Di lokasi kejadian perkara, petugas menemukan tiga korban lainnya berinisial AN (16), NR (17) dan AR (18) yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah menjadi korban perdagangan orang. Petugas menangkap Wito dan menyita barang bukti berupa, uang sebesar Rp 6,7 juta, empat unit ponsel dan buku catatan penghasilan korban yang dipaksa dijadikan sebagai pekerja seks komersial (PSK).

“Dari keterangan Wito, keempat korban anak-anak yang dijadikan PSK tersebut direkrut oleh tersangka Intan yang berada di Banyumas, Jawa Tengah,”terangnya.

Untuk menangkap Intan, petugas memancing Intan untuk datang ke Lampung di tempatnya Wito. Pada keesokan harinya, Rabu (10/5/2017) lalu sekitar pukul 17.00 WIB, begitu Intan sampai di rumah bordir milik tersangka Wito petugas langsung menangkapnya.

“Intan mangakui yang telah merekrut anak-anak tersebut, untuk dijadikan sebagai pekerja seks komersial. Dari perekrutan tersebut, tersangka Intan mendapat bayaran sebesar Rp 1 juta/anak,”jelasnya.

Dikatakannya, pihaknya mendapatkan laporan, bahwa orangtua para korban melaporkan hilangnya anak-anak mereka diduga menjadi perdagangan orang (traficking) di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) di Jakarta. Setelah petugas menangkap tersangka Wito dan Intan, para korban menghubungi keluarganya.

“Para korban sudah dijemput orangtua mereka, dengan didampingi LPAI dari Jakarta. Saat ini keempat korban dalam penanganan LPAI, untuk rehabilitasi pemulihan psikisnya,”pungkasnya.

Loading...