Beranda News Nusantara Satu Korban Penembakan dalam Kerusuhan Tolikara Meninggal

Satu Korban Penembakan dalam Kerusuhan Tolikara Meninggal

209
BERBAGI
Seorang korban penembakan aparat keamanan di Karubaga, Tolikaran, Papua, dirawat di RS Dok 2. (Foto: tabloidjubi.com)

JAYAPURA, Teraslampung.com — Edi Wanimbo (15 tahun), salah satu korban penembakan pada keruruhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua. akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Dok 2, Jumat petang Waktu Indonesia Timur (WIT). Edi meninggal dengan peluru masih bersarang di perutnya.

Presiden Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), Pdt. Dorman Wandikbo, mengatakan penembakan terjadi sekitar pukul 7‎ pagi WIT, bertepatan dengan Hari Idul Fitri dan kegiatan Seminar dan KKR Pemuda GIDI.

Selain Edi, ada tiga  korban lainnya yang dirujuk ke rumah sakit Wamena dan enam di Rumah Sakit Dok 2 Jayapura.

“Dia anak yang baik, kami hanya ingin dia bisa selesai sekolah dan menjadi orang baik, dapat kerja yang baik,” kata tante Edi Wanimbo, saat ditemui tabloid Jujur Bicara (JUBI), media sindikasi teraslampung.com di Papua, Jumat (17/7/2015).

Di tengah-tengah isak tangis keluarga, korban lain, Yulianus Lambe, yang menderita luka tembak di paha kiri, mengatakan sangat kecewa dengan tindakan aparat yang gampang sekali menembak masyarakat sipil, termasuk dirinya.

“Mereka (tentara) bikin seperti kita ini bintang, main tembak saja seenaknya. Mereka tidak perlakukan kami dengan manusiawi,” kata Yulianus. Mahasiswa UNCEN itu menghadiri Seminar dan KKR Pemuda internasional, yang berlangsung sejak 15-18 Juli 2015.

Pendeta Wandikbo menjelaskan, mula terjadi penembakan, ketika beberapa pemuda mendatangi mushola Karubaga. Tujuannya, untuk meminta warga di mushola agar tidak menggunakan toa (pengeras suara) saat melakukan sembayang. Pasalnya, hal tersebut mengganggu pelaksanaan seminar dan KKR Pemuda GIDI yang sedang berlangsung di Karubaga, untuk seminggu ini.

“Untuk itu, kami sudah keluarkan surat pemberitahuan sebelumnya dan diketahui semua pihak. Kapolres sudah Ok, Bupati, juga pihak gereja,” ucapnya.‎

‎“Memang hari ini adalah hari idul fitri, harinya mereka. Tapi, saya sebagai pimpinan (umat GIDI) di Toli sudah kasi surat tertulis, dalam rangka hari pemuda, tidak boleh lakukan kegiatan itu karena ada kegiatan seminar dan KKR. Tapi sekarang polisi dan tentara main tembak anak-anak.” tambahnya.

Pendeta Wandikbo menyesalkan tidak ada tindakan dari aparat kepolisian, padahal kesepakatan untuk tidak menggunakan pengeras suara telah dilakukan sebelum seminar pemuda itu dilakukan.

Sebelum kegiatan Seminar dan KKR di Tolikara pihak gereja sudah mengeluarkan surat pemberitahuan bahwa tidak ada aktifitas lain. Hal ini sudah diketahui oleh Kapolres Tolikara bersama Bupati Tolikara dan Presiden GIDI (Gereja Injili Di Indonesia).

tabloidjubi.com

Loading...