Saudaraku, Tersenyumlah

  • Bagikan

Oleh Jauhari Zailani

Saudaraku, hendaklah perbanyak senyum.  Tampilkan wajah berseri jika ketemu saudaramu. Tersenyum akan membuat dirimu berbahagia. Dengan tersenyum dan wajah berseri, akan menyenangkan dan menentramkan dirimu, dan tentu saja saudara yang kau temui.

Mari kita biasakan tersenyum, untuk mengantarkanmu ke surga: senyummu di hadapan saudaramu menjadi sedekah bagimu. Sungguh Rasulullah sang teladan kita, selalu menambah wajah tersenyum. Bukan sekedar bibir.

Dikisahkan oleh Jarir bin Abdullah bahwa “Rasulullah tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliau selalu memandangku dalam keadaan tersenyum… “.
Wajah Rasulullah yang selalu tersenyum menunjukkan cinta kasih kepada manusia, kepada sahabatnya, kepada umatnya.

Ini menunjukkan betapa sayang rasul kepada umat manusia. Ini menunjukkan akhlak mulia Rasul. Dan ini menjadi tanda dan ciri khas Islam, adalah agama yang ramah dan berakhlak. Tersenyum menjadi adab Islam, menjadi akhlak Islam. Nabi Muhammad diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak.

Sebagai orang Islam sudah semestinya kita mengikuti teladan Rasulullah. Karena kelakuan kita, menjadi wajah Islam. Karena senyum di bibir kita, wajah berseri yang kita tampilkan, wajah yang ramah dan menyenangkan menjadi wajah Islam.

Saudara-saudara muslimin-muslimat, mari tersenyum. Tampakkan wajah berseri, bukan saja kepada sesama muslim, tetapi kepada semua manusia.

Mari tersenyum dan berwajah berseri dengan istri atau suami, kepada anak-anak kita. Jangan lupa kepada tetangga. Bahkan harus tersenyum kepada tetangga yang nonmuslim.

Para sahabat nabi, mencontohkan betapa mereka begitu sayang kepada makhluk ciptaan Allah, mereka begitu kasih tidak saja kepada manusia, bahkan kepada hewan dan tumbuhan. Mereka lakukan karena takutnya kepada Allah.

Suatu hari, Umar bin Khattab menangis meraung sedih tak henti-hentinya. Karena kuda yang dipakai oleh sahabatnya mati. Alkisah, ketika sahabatnya sibuk bekerja membantu Umar, begitu sibuknya sang sahabat hilir mudik melayani dan menjalankan perintah sang khalifah.

Suatu hari, sang kuda yang acap dipakai itu mati. Umar bin Khattab mengangis karena takut, jangan-jangan dirinya menjadi penyebab kematian sang kuda. Takut, sang kuda minta pertanggung jawaban kepadanya di pengadilan kelak.

Contoh lain dari Abu Bakar Siddik. Beliau suatu kali dalam perjalanan di atas kuda. Oleh suatu sebab beliau terjatuh, Beliau menangis. Sahabat yang ada di sekitarnya sibuk menghibur dan hendak mengobati, karena mengira beliau kesakitan.

Abu Bakar menangis bukan karena sakit jatuh dari kuda. Ia menangis  karena ada rumput yang tercabut saat jatuh. Abu Bakar menangis karena takut rumput itu akan mengadu kepada Allah.

Saudaraku, mari perbanyak senyum. Karena senyum adalah sedekah. Rasulullah bersabda, “Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau mengajak yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (HR. Tirmidzi).

  • Bagikan