Saya Kehilangan Presiden

  • Bagikan

Dahta Gautama *

HARI-HARI ini pikiran saya sedang payah. Saya menjadi lelaki pencuriga yang sangat tak aduhai. Kabar di koran bikin saya sepi, tayangan televisi bikin gelisah. Harga-harga tak mau turun, orang-orang di jalan raya gemar marah.

Sungguh, saya “orang biasa”. Tak ingin memikirkan ini-itu, apalagi urusan negara. Tapi saya punya televisi, koran juga di antar saban hari. Saya juga melihat tetangga berjalan tergesa-gesa, listrik di teras mereka padam setiap petang. Suara anak-anak mereka lemah, suara orangtua mereka kencang, ketika menerima telpon, terdengar sampai ke dalam toilet rumah saya.

Apakah, hari-hari ini, sedang terjadi sesuatu? Sungguh, saya tak pernah memikirkan, apa-apa. Saya juga tak yakin benar, apakah negara saya, punya Presiden. Namun di jalan raya, ada polisi. Mengatur lalu lintas dengan teliti. Apakah polisi Presiden?

Saya menjadi sangat resah, ketika ternyata saya lupa pada Presiden. Dalam pikiran saya, Presiden jumlahnya banyak. Saya beranggapan Presiden adalah orang-orang yang sangat kuat. Mungkin polisi, KPK, jaksa, hakim, wartawan? Entahlah, apakah maling motor yang nembak perut teman saya, juga

Presiden? Sebab dia hebat, sanggup membunuh dan merampas.

Satu minggu lalu, adik sepupu saya, uangnya di rayu tukang ojeg. Ongkos untuk jarak 7 km, Rp50 ribu. Jika tidak ada uang sebesar itu, kata si tukang ojeg, dia pasti mendadak lupa cara mengendarai sepeda motor. Apakah tukang ojeg juga Presiden? Sebab dia bisa mengatur kantung sepupu saya, yang orang desa itu. Barangkali, sepupu saya juga Presiden, sebab dia punya uang Rp50 ribu untuk jarak 7 km. Gampang saja keluar duit sebesar itu untuk 7 km. Entahlah, saya punya dugaan, Presiden adalah orang yang memiliki uang. Namun sepupu saya cuma orang desa yang penakut dan mudah di atur. Nah, pikiran saya berkembang, baru saja, saya juga yakin, bahwa orang penakut dan mudah di atur, barangkali Presiden juga.

Pikiran saya terus mengembang biak, hari-hari ini. Namun payah bergerak kemana-mana. Pertama, saya memikirkan, siapa Presiden? Kedua, nasib sepupu? Sebab sampai hari ini, usai ia menelepon soal ongkos ojeg Rp50 ribu, dia tak pernah sampai ke rumah saya. Ketiga, saya menjadi sangat curiga, bahwa Presiden sebenarnya tak pernah ada. Sebab, di televisi saya tak pernah melihat
Presiden berpidato, di koran saya tak pernah membaca Presiden berbicara sesuatu.

Saya tak menemukan apa-apa, kecuali orang-orang yang hilir mudik dan sibuk dengan rencana-rencana? ***

* Orang biasa

  • Bagikan
You cannot copy content of this page