Beranda Teras Berita Heboh Tokoh Sastra Paling Berpengaruh: Saya Menyesal dan Bertobat kepada Allah SWT

Heboh Tokoh Sastra Paling Berpengaruh: Saya Menyesal dan Bertobat kepada Allah SWT

78
BERBAGI


Ahmadun Yosi Herfanda*

Ahmadun Yosi Herfanda (dok pribadi/FB)

Saya sangat malu dan menyesal ikut menuruti “pesanan” Denny JA lewat
Fatin Hamama untuk menulis puisi esai. Sebab, menulis puisi esai bukanlah
pilihan hati nurani saya sebagai penyair, tapi lebih karena “pesanan” dan
godaan honor yang besar. Saya menyesal, karena telah menulis puisi esai hanya
demi uang – suatu orientasi penciptaan atau motivasi yang rendah dalam
bersastra.


Semula sebenarnya saya sempat menolak keras ketika
diminta Dennya JA lewat Fatin Hamama untuk menulis puisi esai, karena sudah
mencium bakal adanya politisasi sastra dengan gelagat yang kurang sehat. Selain
itu, dengan memenuhi pesanan puisi jenis WOT (wrote on demand) – ditulis berdasarkan pesanan — itu sama saja
dengan “melacurkan diri” dalam sastra.

Saya sempat berdebat keras dengan Fatin
di Tamini Square, disaksikan Mustafa Ismail, Remy Novaris DM, dan Dad Murniah,
dan sampai akhir pertemuan saya tetap bersikeras menolak pesanan itu. Tapi,
Fatin terus merajuk, dan rajukannya terus berlanjut lewat sms sampai saya
pulang. Sialnya, sekitar dua hari kemudian, saya terdesak kebutuhan dana sosial
(ya beginilah nasib penyair, sering kekurangan uang untuk mememuhi kebutuhan
mendadak). Akhirnya, karena perlu dana mendesak, tawaran Denny lewat Fatin itu
saya jawab dengan lebih lunak,”Oke saya akan tulis puisi esai, asal
honornya Rp 10 juta.”

Setelah sempat tawar menawar (mirip
pelacur ditawar lelaki hidung belang lewat mucikari ) akhirnya Denny sepakat
membayar puisi esai saya Rp 10 juta. “Yah, sesekali tak apalah jadi
pelacur sastra asal pelacur yang mahal,” pikir saya. “Kan hebat, satu
puisi dibayar 10 juta…. He he he.”

Ternyara dugaan saya benar. Denny JA
kini mulai mempolitisasi puisi esai karya 23 penyair Indonesia penerima pesanan
itu yang akan segera diterbitkan (termasuk karya saya, Isbedy Stiawan ZS, Agus
Nur, Sujiwo Tejo, Zawawi Imron, Kurnia Effendi, Fatin Hamama, Sihar Ramses
Simatupang, Dad Murniah, dan Chavcay Syaifullah). Ada kesan kuat, bahwa Denny
ingin menempatkan kami sebagai para pegikutnya dalam “mazhab puisi esai” yang
diklaim sebagai idenya untuk memperkuat “politik sastra” Tim 8 yang menempatkan
Denny sebagai salah satu dari 33 tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh
dan mengundang kontroversi.

Tapi, nanti dulu. Denny jangan berbangga
dulu. Kami, 23 penyair itu tak bisa begitu saja diklaim sebagai pengikut Denny.
Sebab, banyak di antara kami (bahkan mungkin semuanya) yang menulis puisi esai
itu bukan atas keinginan kami sendiri, bukan pilihan hati nurani, tapi karena
“dipesan”. Sebagai konsultan politik yang hebat, Denny pasti dapat
membedakan antara “pengikut” dan “pekerja kreatif” yang
melayani order karya. Pengikut itu mengikuti sesuatu sebagai pilihan hati,
bukan karena pesanan. Jadi, kami bukanlah pengikut “mazhab puisi
esai”, tapi hanya sekali itu menempatkan diri sebagai “pekerja
kreatif” yang melayani pesanan “puisi esai” Denny JA lewat Fatin
Hamama.

Kalau kemudian dipolitisir dan
dikesankan sebagai pengikut “mazhab puisi esai”, itu saya kira model
politisasi sastra yang bodoh dan murahan, yang sangat tidak patut dilakukan
oleh seorang konsultan politik yang hebat. Itu adalah pembodohan publik yang
dilakukan secara bodoh pula.

Jadi, setidaknya sudah dua kali Denny,
ataupun “tim sukses” Denny, melakukan pembodohan terhadap publik
sastra Indonesia. Pertama, penempatan dia sebagai salah satu tokoh sastra
Indonesia yang paling berpengaruh. Kedua, pencitraan terhadap 23 penyair (kami)
sebagai pengikut mazhab puisi esai. Itu sungguh “kejahatan sastra”
yang sulit dimaafkan. Denny dan “tim sukses”nya harus bertobat dan
meminta maaf pada publik sastra Indonesia.

Melalui media sosial ini, kepada publik
sastra Indonesia, dengan tulus saya mengaku “bertobat”, meminta maaf,
dan menyesal sedalam-dalamnya telah tergoda untuk ikut menulis puisi esai hanya
demi uang Rp 10 juta. Betapa murahnya, “prinsip estetik” yang sudah
30 tahun lebih saya perjuangkan dan pertahankan, saya gadaikan begitu saja
untuk puisi esai sehingga saya menjadi korban politik sastra abal-abal.

Kepada Allah SWT saya juga mohon ampun,
karena tidak mau mendengar suara hati nurani saya sendiri, yang saya yakin
berasal dari-Nya. Saya akan kembali pada niat awal, bahwa menulis puisi adalah
“ibadah kreatif” seperti tercermin pada puisi “Sembahyang
Rumputan” saya, dan sekali-kali bukan karena uang. Memang boleh-boleh saja
dari menulis puisi itu kita menerima uang sebagai honor, termasuk honor yang besar
sebagai penghargaan bagi kerja kreatif kita. Tapi, itu bagi saya bukanlah
tujuan utama, apalagi dengan “menggadaikan” prinsip dan idealisme kesastraan.

Ya Allah, ampunilah kekhilafan saya, dan
kekhilafan sahabat-sahabat saya yang sempat tergoda oleh iming-iming uang besar
dari “dajjal sastra” itu – dajjal adalah mahluk dalam mitologi Islam yang
mencari pengikut dengan iming-iming minuman segar di bawah terik matahari (bisa
berupa iming-iming uang di tengah kemiskinan). Ya Allah, kembalikanlah sahabat-sahabat
saya itu, termasuk sahabat-sahabat saya dalam Tim 8, ke “jalan sastra” yang
lurus, jalan sastra yang Engkau ridloi, dengan lindungan kekuatanMu. Amin!


*Penyair