Sayonara, Pak

  • Bagikan
Uki M Kurdi (Ist)
Juwendra Asdiansyah (Foto: Istimewa)
Juwendra Asdiansyah (Foto: Istimewa)

Juwendra Asdiansyah

Tuhan sedang menguji saya dengan duka.

Kemarin, Kamis 17 Juni 2021, kurang dari 24 jam, Dia memanggil pulang dua orang yang pernah sangat dekat dengan saya. Dua orang yang begitu penting dan berjasa dalam hidup saya.

Yang pertama Uki M Kurdi. Pak Uki, wafat dinihari dalam usia 67 tahun karena sakit. Beliau Pemimpin Redaksi Tribun Lampung 2009-2014. Saya menjadi anak buahnya selama 4 tahun 9 bulan, sejak Tribun masih dipersiapkan pada April 2009 hingga saya mengundurkan diri pada Desember 2013.

Yang ke dua, Mohammad Ridwan. Senior saya di pers kampus Teknokra Universitas Lampung. Kak Iwan, demikian kami para juniornya memanggil, mangkat dalam usia 49 tahun, tadi malam sekira pukul 19.00 WIB.

Saya akan kisahkan secara khusus soal Kak Iwan pada tulisan berikutnya. Kali ini saya fokus menulis tentang Pak Uki.

Tidak mudah sebenarnya. Berat sekali. Dalam kesedihan, lama saya merenung. Dari mana memulainya? Bagian apa saja yang perlu ditulis? Terlalu banyak kisah haru biru, tawa canda, antara saya dengan Pak Uki. Belum termasuk banyak wejangannya yang sangat layak diceritakan karena sarat inspirasi.

Pak Uki memang sosok istimewa. Dia pintar, wawasannya luas, ilmunya banyak, matang, berani, dan kaya pengalaman.

Berkat pengalaman dan tangan dingin pria asal Brebes ini, Tribun Lampung melesat menjadi koran dengan tiras terbesar di Lampung hanya dalam hitungan bulan sejak diluncurkan pada 8 Juni 2009.

Berkat visi, idealisme, dan kepemimpinannya, media milik Kompas Gramedia ini juga memberi warna baru dan perubahan besar dalam khazanah jurnalisme/pers di Lampung sehingga menjadi lebih bermutu.

Bukan sekadar bos, Pak Uki juga guru bagi saya. Dalam soal jurnalisme/pers, dia merupakan salah satu dari dua guru utama saya. Demikian besar jasanya kepada saya dalam membentuk pemikiran, sikap, pengetahuan, dan skill jurnalistik-media massa.

Darinya saya belajar bahwa tulisan, apa pun jenisnya, apa pun genrenya, harus memilki benefit bagi pembacanya. Benefit dimaksud antara lain practical benefit, intelectual benefit, dan spiritual/emotional benefit.

Kalau menulis berita pembukaan restoran baru jangan cuma menulis siapa pemiliknya, atau apa alasan membuka restoran. Tulis juga alamat lengkapnya. Tidak cukup nama jalannya, tapi juga nomornya, dekat atau di depan bangunan apa. Varian menu, komposisi bahan, dan cara membuatnya saja tidak cukup. Tulis juga rincian harganya.

Dengan semua informasi itu, orang yang kemudian memutuskan untuk datang ke restoran tersebut tidak akan kesasar dan tahu dengan pasti akan memesan menu apa sesuai selera dan isi kantong. Itu namanya practical benefit.

Meskipun tidak bisa pergi ke Mars, tetapi setelah membaca tulisanmu tentang planet tersebut, orang menjadi tahu berapa besar ukurannya, berapa jauh jaraknya dari bumi, adakah oksigen di sana, apakah memungkinkan manusia hidup di sana, dan seterusnya, itu namanya intelectual benefit. Orang menjadi pintar, bertambah pengetahuannya setelah membaca tulisanmu.

Hanya tulisan dengan benefit yang akan memberi manfaat bagi pembacanya. Hanya media dengan berita/artikel yang dijejali benefit yang bakal meraih cinta-loyalitas pembacanya.

****

Pak Uki adalah wartawan yang cerdas. Namun sebagai pemimpin media besar dan senior di grup koran daerah Kompas Gramedia, dia juga memiliki visi bisnis dan tahu betul bagaimana caranya membuat koran yang bukan hanya bagus secara mutu, tapi juga laku dijual dan jitu memikat para pemasang iklan.

Di saat yang sama, dia juga jurnalis dengan idealisme yang teguh. Tak ada dalam kamusnya urusan bisnis koran bisa mengangkangi kepentingan redaksional, wabil khusus prinsip-prinsip, nilai-nilai jurnalisme.

Pernah suatu kali dia menolak mentah-mentah tawaran kerjasama (pemberitaan dan iklan) salah satu pemerintah daerah di Lampung meski nilai kontraknya cukup menggiurkan.

“Enak saja, mereka ngajak kita kerjasama tapi tidak boleh memberitakan jika ada yang buruk-buruk tentang mereka, termasuk tentang bupatinya. Cuma boleh berita pembangunan yang bagus-bagus. Itu sama saja mereka kasih kita uang tapi leher kita, kita kasih ke mereka!” ujarnya berang.

Suatu hari pada Oktober 2012 ketika pecah konflik berdarah di Balinuraga, Lampung Selatan, Pak Uki bahkan berani mengambil kebijakan yang sangat tidak populer. Hari itu, eskalasi konflik yang sempat mereda kembali memanas menyusul ditemukannya sejumlah mayat dari salah satu kelompok.

Mudah diduga, kebanyakan media, terutama media lokal, akan menjadikannya sebagai berita utama alias headline di halaman satu. Dalam teori jurnalistik klasik, ini peristiwa dengan news value yang tinggi sehingga potensial mendongkrak tiras koran.

Lain halnya dengan Pak Uki. Dia meminta saya sebagai manajer produksi, termasuk penanggung jawab halaman satu, untuk mencari angle yang lebih soft dan tidak menjadikan fakta terbaru dalam konflik Balinuraga tersebut sebagai headline, bahkan tidak juga sebagai second headline.

Meski tetap di halaman satu, cukup berita kecil dengan angle pernyataan Kapolda Irjen Pol Jodie Rooseto bahwa situasi berangsur kondusif dus sebuah foto seorang ibu, warga yang mengungs di SPN Kemiling, Bandarlampung.

Masalahnya kemudian, lantas apa yang bakal menjadi headline koran besok? Ciloko, tidak ada berita kuat yang cukup memenuhi syarat menjadi headline halaman muka. Mendekati kuat pun tidak ada.

Tapi situasi itu tak lantas membuat Pak Uki tergoda untuk kembali melirik berita Balinuraga. Sikapnya tegas, jelas.

“Juwe, jangan pernah menjadikan konflik sebagai kesempatan untuk meraih pembaca sebanyak-banyaknya. Tugas kita ikut meredam konflik, bukan malah manas-manasi, bukan bikin perang semakin besar.

Kalaulah karena sikap itu pembaca meninggalkan kita, tidak apa-apa. Itu risiko yang harus kita tanggung. Tapi kita tidak ikut berdosa membuat orang bertikai karena pemberitaan kita.

Yakin saja, mereka (pembaca yang pergi) pasti kembali, karena mereka tahu kita melakukan hal yang benar.”

Apa boleh buat, the show must go on. Koran harus tetap terbit besok dengan headline. Akhirnya dipilihlah satu berita yang paling mendingan di antara yang lemah: preview pertandingan sepakbola Liga Inggris.

Maka esoknya, ketika semua koran arus utama menurunkan update Balinuraga sebagai headline, Tribun Lampung lain sendiri, tampil beda dengan headline Liga Inggris.

Dan nyatanya keputusan Pak Uki tepat. Laporan penjualan koran hari itu hingga beberapa hari ke depan tidak ada penurunan oplah. Koran pun stabil dicetak dalam kisaran 31.000-33.000 eksemplar per hari.

D luar dugaan, alih-alih dari luar (pembaca), reaksi atas headline lain sendiri tersebut justru datang dari internal redaksi Tribun. Sejumlah awak redaksi menganggap hal itu merupakan keputusan/kebijakan redaksional yang salah, aneh, bahkan bodoh. Sebagian mereka bahkan menjadikan cover koran tersebut sebagai bahan olok-olok di Facebook seraya membandingkannya dengan cover Tribun daerah lain yang justru menjadikan berita Balinuraga sebagai headline.

Mereka mengira “keputusan bodoh” itu lahir dari saya. Mereka tidak tahu, itulah salah satu “keputusan adiluhung” seorang Uki M Kurdi yang memahami dengan baik apa itu “jurnalisme perdamaian”, jauh sebelum ia dibicarakan di ruang-ruang diskusi dan diajarkan di kelas-kelas jurnalistik.

***

Pak Uki layaknya ayah bagi saya. Kami begitu dekat. Ada masa sekira 3,5 tahun di mana kami “menghabiskan banyak malam berdua”. Hanya berdua. Bukan cuma ngobrol dan rapat berjam-jam di ruangannya membahas berita-berita dan sajian halaman satu untuk terbit besok, seringkali kami juga menjadi dua penghuni terakhir lantai dua kantor Tribun Lampung di Jalan ZA Pagaralam, Gedongmeneng, Bandarlampung.

Setelah semua urusan produksi kelar, tengah malam, saya serng mengetuk lagi pintu ruang kerjanya untuk sekadar ngobrol ringan sembari numpang merokok (karena “hanya” di ruangannyalah bebas untuk merokok), atau meminta rokok Dji Sam Soe miliknya yang seperti tak habis-habis.

Ada kalanya kami asyik saja depan komputer masing-masing. Dini hari atau jelang subuh baru kami bubar. Biasanya Pak Uki yang pulang duluan, karena tentu saja saya sungkan untuk mendahuluinya.

“Belum pulang, Ju?”
“Belum, Pak. Sebentar lagi.”
“Oke, aku duluan ya.”
“Siap, Pak. Hati-hati di jalan.”

Begitulah dialog rutin kami selama bertahun-tahun sebelum berpisah di kantor.

23 Desember 2013, hari terakhir masuk kantor, saya mengetuk pintu ruang Pak Uki untuk pamit. Tak sampai lima menit, sambil berdiri, tak banyak saya berkata-kata. Demikian pula Pak Uki. Selebihnya, saya meraih dan mencium punggung tangannya, memeluknya, lalu menangis sesenggukan layaknya anak kecil.

Saya meninggalkan ruangannya tanpa sanggup melihat wajahnya. Saya tahu, dia sangat kecewa dengan keputusan saya. Selama bertahun-tahun, rasanya itulah kali pertama saya meninggalkan kantor lebih dulu dari Pak Uki.

Sejak itu, tak pernah sekalipun kami berjumpa. Kurang setahun setelah saya resign, saya dengar Pak Uki ditarik kembali ke kantor pusat di Jakarta, dan tak lama kemudian pensiun.

Kemarin pagi, saat menghidupkan ponsel, beberapa pesan WhatsApp masuk. Salah satunya dari Yoso Muliawan, Manajer Liputan Tribun Lampung.

“Bang, sudah dapat kabar?” tanyanya seraya mengirim sebuah screen shoot bertuliskan, “Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Telah meninggal dengan tenang sahabat kita, guru kita, Bapak Uki M Kurdi, di kediamannya di Jakarta, Kamis dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa tabah. Amin.”

Saya terdiam. Terkejut. Lemas. Ya Allah, Pak Uki sudah tidak ada. Ayah tiga anak, suami seorang perempuan blasteran Madura-Jepang, muslim yang taat, haji sejak 1993, alumnus Pondok Pesantren Gontor Ponorogo yang mahir berbahasa Arab itu, kali ini benar-benar “pulang” dan tak akan pernah kembali.

Dalam duka yang dalam, dialog rutin kami beberapa tahun silam melintas di kepala.

“Belum pulang, Ju?”
“Belum, Pak, sebentar lagi.”
“Oke, aku duluan ya.”
“Siap, Pak. Hati-hati di jalan.”

Maafkan saya, Pak. Hari ini, mestinya saya sedang berbahagia. Ini hari ulang tahun ke-15 pernikahan saya. Tapi sembari menulis obituari ini, saya malah menangis layaknya anak kecil, persis seperti dulu saat pamit ninggalin Bapak. Bedanya, kali ini saya ingin melihat wajah Bapak, tetapi sayangnya tidak bisa.

Selamat jalan, Pak. Bapak orang hebat. Bapak orang baik. Sangat baik. Insya Allah Bapak masuk surga.

Mata aimasho, Pak.
Sayonara…

Bapak duluan, saya pasti nyusul….

 

  • Bagikan