Beranda Views Opini Seandainya Badak Lampung Membuka Saham untuk Publik

Seandainya Badak Lampung Membuka Saham untuk Publik

576
BERBAGI

Oleh Dedi Dero Rahman*

Awal tahun ini dunia sepakbola Indonesia dihebohkan dengan proses akuisisi saham dan atau merger kepemilikan klub Perseru serta Tira. Kita tahu pada akhirnya Tira merger dengan  Persikabo yang berhomebase di Stadion Pakansari Bogor. Dan Perseru diakuisisi secara mayoritas oleh Badak Lampung FC.

Proses ini tentu menggembirakan bagi masyarakat sepakbola Lampung karena strata liga tertinggi di Indonesia sekarang berada di Lampung, Stadion Sumpah Pemuda Wayhalim.

Gebrakan Perseru Badak Lampung FC (BLFC) ditandai dengan perbaikan infrastruktur Stadion PKOR Sumpah Pemuda Way Halim agar sesuai standar regulasi Liga 1.

Namun, gebrakan BLFC terkesan setengah hati dalam komposisi skuat untuk mengarungi kerasnya persaingan di Liga 1. Ini tampak dari nilai skuat pemain BLFC di situs Transfermarkt.com: hanya nomor dua dari bawah dengan estimasi nilai 2,1j uta Euro dan hanya setingkat di atas Kalteng Putra yang berada di posisi buncit senilai 1,95 juta Euro.

Posisi nilai skuad BLFC masih jauh dari pemuncak nilai skuat klub di Liga 1 yakni Bali United yang diestimasi bernilai 4,7 juta Euro. Bali United sendiri adalah klub yang juga melalui proses akuisisi Persisam Putra Samarinda. Pada Juni Bali United sudah melakukan IPO alias melantai di bursa saham. Mereka menerima saham publik sebesar  33,3% dari seluruh kepemilikan saham Bali United. Langkah aksi korporasi Bali United yang listing di bursa efek dengan nama eminten BOLA berhasil mendapatkan dana segar tidak kurang sekitar Rp300 miliar.

Langkah Bali United ini menjadi trigger tersendiri dalam industri sepakbola nasional. Semoga aksi ini menjadi preferensi olahraga nasional untuk mendorong industri olahraga secara terbuka dan profesional sebab publik akan mengawasi kinerja korporasi yang menaungi klub olahraga.

Melihat sepak terjang BLFC dalam mengarungi kompetisi Liga 1 sampai pertandingan ke-14 pada pekan ini, terlihat sekali kualitas skuad BLFC yang tergambar dari perjalanan posisi BLFC dalam klasemen sementara Liga 1.

Sebagai penikmat sepakbola di Lampung, tentu kita tidak ingin BLFC hanya numpang lewat satu musim di Liga1 hingga terdegradasi ke Liga 2. Dalam sebuah industri yang ukurannya adalah performance sebuah badan usaha selalu dipengaruhi oleh arus kas dalam menjalani kompetisi industri dalam hal ini Liga 1.

Sebagai awam yang hanya penikmat sepakbola dan mengetahui kulit manajemen klub modern dari literasi, menurut saya  harus ada terobosan yang luar biasa dari BLFC untuk membenahi manajemen dan skuat agar posisi panggung klasemen bisa bertahan di Liga 1.

Salah satunya adalah bagaimana secara injeksi arus kas bisa jadi prioritas. Minimal ada pembenahan dalam skuad BLFC dalam mengarungi sisa gameweek Liga1. Namun, dalam memperoleh injeksi aruskas tidak mudah harus ada “orang gila” selevel Yabes Tanuri. Lalu bagaimana jika tokoh itu tidak ada apa skema yang harus dilakoni BLFC?

Pilihannya adalah dibuka akses publik dalam kepemilikan BLFC entah dalam bentuk saham atau obligasi yang di garansi oleh Pemprov Lampung agar publik gila bola hingga base pendukung dapat dikolektifkan dalam memberikan support “darah segar” agar BLFC bisa lebih kokoh lagi hingga bertahan di Liga 1. Secara manajemen juga tidak ada salahnya share publik ini digunakan untuk membangun ekosistem sepakbola amatir di lampung yang bisa jadi “pabrik” pemain berbakat untuk lampung.

Juga dana segar itu pun bisa di alokasi kan untuk memperkuat akademi BLFC yang sedang ikut liga pro academy usia muda.

Tapi kembali semua terbilang kepada roadmap BLFC dalam membangun ekosistem industri sepakbola di Lampung dan nasional, toh Bali United sudah membuktikan mereka bisa. Saya kira tidak ada salahnya untuk mereplikasi sesuatu yang baik demi kemajuan industri sepakbola nasional dan Lampung pada khususnya.

Masih ada waktu utk berkreasi agar aura sepakbola di Lampung bisa terjaga dengan baik.

Tabik pun!

* Dedi Dero Rahman adalah penikmat sepakbola, tinggal di Bandarlampung

Loading...