Beranda Kolom Kopi Pagi Seandainya Pilgub Lampung 2018 Tanpa Ridho Ficardo dan Herman HN

Seandainya Pilgub Lampung 2018 Tanpa Ridho Ficardo dan Herman HN

2451
BERBAGI
Ilustrasi

Oyos Saroso H.N.

Saya bukan seorang fatalis dan tidak suka (merasa kasihan dengan) orang yang berlaku fatalis. Saya tidak akan tega, misalnya, melihat orang bunuh diri sambil siaran langsung di Facebook. Atau, menonton orang nekat menabrakkan diri ke mobil yang sedang melaju kencang. Jangankan melihat, membuat atau menerima berita tentang hal semacam itu pun saya ogah.

Bagaimana dengan fatalis di Pilkada, semisal pemilihan Gubernur Lampung? Saya melihat satu di antara orang yang digadang-gadang bakal maju Pilgub nyerempet-nyerempet ke fatalis: Herman HN. Ia terlalu nekat dengan hanya mendaftar di penjaringan PDIP. Jika PDIP mencalonkan nama lain, berarti Herman HN harus mengubur mimpi menjadi Gubernur Lampung.

Skenario Buruk

Pilgub Lampung mestinya adalah pesta demokrasi yang riuh dengan peran calon pemilih untuk menentukan pilihannya berdasarkan keyakinannya bahwa jagonya adalah yang terbaik. Hal itu bisa berlangsung bila para kandidat bertarung secara jantan, penyelenggara profesional, dan para calon pemilih tidak gelap mata.

“Babak awal” riuh rendah Pilgub Lampung kini hampir sampai pada “etape” menentukan: para pasangan bakal calon gubernur-wakil gubernur mendapatkan perahunya masing-masing. Mustafa hampir pasti maju setelah didukung PKS, Nasdem, dan Hanura. Arinal Djunaidi juga bisa melenggang ke gelanggang setelah didukung Golkar, PKB, dan PAN.

Hingga 8 Oktober 2017, tinggal Partai Gerindra, PDIP, dan PPP yang yang belum memutuskan jagoannya yang akan diusung pada Pilgub Lampung 2018. Kabarnya, Ridho sudah berkomunikasi secara intensif untuk memuluskan koalisi Demokrat-Gerindra-PPP. Ia kabarnya juga mendapatkan sinyal bagus untuk didukung PDIP. Sedangkan Herman HN, nasibnya sangat bergantung pada PDIP. Ridho tak akan bisa maju tanpa tambahan dukungan partai, karena jumlah kursi Demokrat dan PPP di DPRD Lampung tidak sampai 17.

Jika skenario buruk terjadi, misalnya, Ainal Djunaidi memborong PDIP dan Gerindra, maka dipastikan cuma hanya ada dua pasangan calon gubenur – calon wakil gubernur pada Pilgub Lampung 2018. Namanya saja politik, bukan tidak mungkin hal itu bisa benar-benar terjadi. Dan, jika hal itu terjadi, maka akan banyak hal yang “tergadai”. Setidaknya, harapan rakyat Lampung untuk terlibat dalam Pilgub yang seru yang membuncahkan adrenalin tidak akan terjadi.

Pilgub tidak akan menarik karena dua sosok yang sejak awal diyakini “kuat” dan punya kans besar menang serta mengubah Lampung lebih baik tidak bisa bertarung.

Jika Pilgub Lampung 2018 hanya diikuti Arinal Djunaidi dan Mustafa, “lesu darah massal” di Lampung kemungkinan akan terjadi. Kemungkinan besar para pendukung setia Herman HN dan Ridho akan ogah-ogahan ke TPS. Pertarungan yang sudah diselesaikan sebelum Pilgub pun akan membuat Pilgiub kurang meriah karena calon pemilih hanya disodori dua pasangan calon.

Semoga skenario buruk ini tidak benar-benar terjadi.

 

Loading...