Beranda Teras Berita Sebelum Bunuh Diri, Andri Pernah Ingin Kuliah di UBL

Sebelum Bunuh Diri, Andri Pernah Ingin Kuliah di UBL

182
BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Ngadimin, ayah almarhum Andri Agustiawan, saat memberikan keterangan kepada para wartawan tentang kematian anak kandungnya, Selasa (2/6/2015).

BANDARLAMPUNG- Andri Agustiawan (21), remaja yang bunuh diri dengan cara terjun ke dalam sumur sedalam 12 meter, Selasa pagi (2/6), ternyata masih ingin mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, Ia pernah cerita kepada ayahnya bahwa dirinya sangat bisa kuliah di Universitas Bandar Lampung (UBL).

Keingian itu pernah disampaikan Andri tiga hari lalu (Sabtu, 30/5)). Niat itu diungkapkan Adri setelah ia  membaca iklan di sebuah media.

Menurut Ngadimin (55), ayah Andri, semenjak lulus dari sekolah SMAN 12 Bandarlampung pada tahun 2014 lalu, putranya tersebut menganggur.

“Ia hanya di rumah saja. Setelah membaca iklan,  putra saya Andri tertarik untuk kuliah. Lalu saya bilang, nanti dulu dan mengurungkan niatnya karena adiknya ini kan baru mau masuk sekolah SMP. Nah semenjak itulah Andri banyak melamun dan bengong lalu dia nekat bunuh diri. Ya kalau mengenai ada hal yang lain, saya tidak tahu apa hal yang lainnya itu,”ungkapnya Ngadimin, Selasa (2/6).

Sejak tiga bulan teraljir Andri  tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah kontrakan  milik Hj Sukarsih di Jalan Pangeran Antasari Gang Man II RT 05 RW 02, Kelurahan Kalibalok Kencana, Kecamatan Kedamaian, Bandarlampung.

Andri  tewas bunuh diri dengan cara terjun kedalam sumur sedalam 12 meter yang hanya berjarak sekitar 70 meter dari depan rumah kontrakannya, Selasa (2/6) sekitar pukul 08.30 WIB.

 Ngadimin menduga anak kesayangannya nekat bunuh diri karena  depresi.

Saat peristiwa tragis  terjadi,kata Ngadimin, ia melihat tiba-tiba anaknya berlari kencang keluar rumah, menuju sumur milik Ibu Jujuk yang ada di depan rumah kontarakannya, lalu terjun ke sumur.

“Saya tidak bisa mencegahnya, karena dia berlari sangat cepat. Ia tiba-tiba lari keluar rumah dan langsung masuk kedalam sumur. Saat itu juga saya langsung lihat dan teriak minta tolong karena airnya dalam. Warga lalu berdatangan, selang taklama kemudian petugas juga datang dan langsung mengambil jasad anak saya didalam sumur,”kata Ngadimin.

Dikatakannya, Saat dirinya masih tinggal di Tanjung Baru, Kedamaian. Ngadiman pun tak menampik kalau putranya Andri, pernah mengalami sakit jiwa dan pernah di rawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Kemiling selama dua bulan pada akhir Tahun 2013 silam.

“Menurut dokternya sudah bisa dibawa pulang, lalu Andri kami bawa pulang. Sejak saat itulah, anak saya Andri hari-harinya dirumah saja dan jarang keluar. Saya pindah dari Tajung Baru dan tinggal didaerah ini dengan mengontrak baru sekitar tiga bulan,”ujarnya.

Sementara saat kejadian, ibu korban Suharti (55) sedang tidak ada di rumah. Suharti saat itu sedang dagang sayur mayur di Pasar Desa Sidodadi, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.

Setelah dikabari, sekitar pukul 10.30 WIB ibu korban tiba di rumahnya. Karena tak kuasa menahan kesedihan putra pertamanya meninggal dengan cara yang tak wajar , ibu korban pun terjatuh dan sempat pingsan ketika turun dari mobil. Setelah sadar dari pinsannya, Suharti pun meraung-raung layaknya anak kecil.

“Ya ampun nak kenapa kamu tinggalin emak. Bapak dan emak rela nak kita sudah tak punya rumah lagi meski semuanya sudah habis. Apa yang kurang nak, semua permintaan kamu sudah emak turuti. Tapi kenapa kamu tinggalin emak saying jangan pergi tingalin emak,”kata Suharti sembari menangis saat dipapah oleh warga ketika turun dari mobil.

Loading...