Beranda Views Opini Seharusnya Industri Karet Indonesia Tetap Elastis di Tengah Pandemi Covid-19

Seharusnya Industri Karet Indonesia Tetap Elastis di Tengah Pandemi Covid-19

408
BERBAGI

 Zulfikar Halim Lumintang*

Elastis adalah sifat dari bahan karet. Tidak hanya sifat dari bahannya saja, ternyata sifat elastis juga harusnya ada pada industri karet, khususnya di Indonesia. Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun. Habitus tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15 – 20 meter. Modal utama dalam pengusahaan tanaman ini adalah batang setinggi 2,5 sampai 3 meter dimana terdapat pembuluh latek. Oleh karena itu fokus pengelolaan tanaman karet ini adalah bagaimana mengelola batang tanaman ini seefisien mungkin. Deskripsi untuk pengenalan tumbuhan karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.).

Tanaman karet memiliki sifat gugur daun sebagai respon tanaman terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (kekurangan air/kemarau). Pada saat ini sebaiknya penggunaan stimulan dihindarkan. Daun ini akan tumbuh kembali pada awal musim hujan.

Tanaman karet juga memiliki sistem perakaran yang ekstensif/menyebar cukup luas sehingga tanaman karet dapat tumbuh pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan. Akar ini juga digunakan untuk menyeleksi klon-klon yang dapat digunakan sebagai batang bawah pada perbanyakan tanaman karet.

Pandemi Covid-19 yang sudah hinggap di Indonesia selama kurang lebih tiga bulan ini mampu meluluhlantakkan banyak sektor perekonomian di Indonesia. Namun pantaskah hal itu juga terjadi pada tanaman karet?

Statistik Karet di Indonesia

Selama ini, kita mengenal karet hanya sebatas pengikat bungkus makanan, sebagai ban dalam maupun luar kendaraan, ya, sangat minim sekali pengetahuan kita mengenai hasil produksi karet. Namun, kebanyakan orang baru menyadari bahwa hasil produksi karet yang mereka jumpai dalam keseharian, ternyata berasal dari sebuah tanaman. Lebih tepatnya tanaman perkebunan.

Di Indonesia sendiri, tanaman karet hampir tumbuh di setiap provinsi di Indonesia. Hal tersebut terbukti dengan tercatatnya Indonesia menjadi negara dengan luas lahan tertinggi di dunia pada tahun 2017. Luas lahan karet di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 3.659.090 Ha. Di bawah Indonesia, ada Thailand yang memiliki luas lahan karet mencapai 3.146.330 Ha, kemudian disusul oleh Malaysia yang memiliki luas lahan karet mencapai 1.081.889 Ha pada tahun 2017.

Namun, dengan memiliki lahan tanaman karet yang paling luas di dunia, tidak serta merta menempatkan Indonesia menjadi negara yang memiliki produksi karet tertinggi di dunia. Data FAO 2017 menunjukkan, Thailand sebagai penghasil karet terbesar dunia memiliki produksi karet sebesar 4.600.000 ton dan diikuti oleh Indonesia yang berada di peringkat kedua dengan produksi sebesar 3.629.544 ton. Sementara itu Vietnam berada di urutan ketiga dengan 1094.519 ton.

Pulau Sumatera bisa dibilang menjadi sentra karet di Indonesia. Hal itu bisa dipahami, karena pada tahun 2017 tercatat 70,71% luas areal perkebunan karet di Indonesia ada di Pulau Sumatera. Kesepuluh provinsi yang ada di Pulau Sumatera pun juga terdapat perkebunan karet, yang produktif. Selain memiliki areal perkebunan karet terluas di Indonesia, produksi karet di Indonesia juga didominasi oleh Pulau Sumatera, tercatat pada tahun 2017, produksi karet di Pulau Sumatera sebanyak 2.802.806 ton, angka ini setara dengan 76,15% produksi karet nasional pada tahun 2017.

Perkebunan Rakyat (PR) mengambil peran penting dalam usaha perkebunan karet di Indonesia. Baik dari segi luas areal, produksi, maupun jumlah petani. Tercatat pada periode tahun 1970-2017, luas PR Karet di Indonesia selalu menunjukkan tren positif. Yakni meningkat 71,16% luas arealnya. Berbeda dengan luas areal Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) yang selalu mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun.

Dari segi produksi karet, PR Karet di Indonesia selalu menyumbang lebih dari 50% produksi karet nasional. Hingga pada tahun 2017, PR Karet di Indonesia menyumbang 82,88% produksi karet nasional. Berbanding lurus dengan produksi yang melimpah, PR Karet di Indonesia juga menampung banyak tenaga kerja perkebunan karet. Pada tahun 2011 saja, jumlah tenaga kerja PR Karet di Indonesia sudah mencapai 2.110.603 orang. Jumlah tersebut selalu mengalami peningkatan tiap tahun, hingga pada tahun 2017 mencapai 2.268.116 orang.

Namun, dengan dominannya PR dalam perkebunan karet di Indonesia, hal ini masih menyisakan permasalahan yang perlu dibenahi. Diantaranya produktivitas PR masih kalah dari produktivitas PBS. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2017, dengan luas areal 322.733 Ha perkebunan karet, PBS berhasil memproduksi karet sebanyak 380.910 ton, sehingga produktivitasnya mencapai 1.549 kg/Ha. Sedangkan PR menghasilkan 3.050.232 ton karet dari luas areal yang mencapai 3.103.271 Ha. Atau setara dengan produktivitas 1.153 kg/Ha karet saja. Hal ini perlu mendapat perhatian, khususnya bagi penyuluh perkebunan karet di Indonesia. Agar tetap bisa mensosialisasikan cara tanam yang baik, supaya menghasilkan produksi yang melimpah. Mengingat PR menampung banyak sekali tenaga kerja, tentu penghasilan tenaga kerja tersebut juga bergantung dari hasil produksi PR.

Indonesia juga dikenal sebagai pengekspor karet terbesar di dunia. Hal tersebut dapat dilihat dari neraca perdagangan karet Indonesia yang selalu memiliki tren positif dari tahun 1970 hingga tahun 2017. Hingga, pada tahun 2017 tercatat ekspor karet Indonesia mencapai 2.991.909 ton dengan nilai ekspor mencapai 5.100.920.000 US$. Sedangkan impor karet Indonesia pada tahun yang sama mencapai 29.773 ton dengan nilai impor mencapai 41.527.000 US$.

Dengan surplus yang begitu tinggi, sangat disayangkan jika Indonesia hanya mengekspor karet mentah yang nilainya jelas lebih rendah dibandingkan karet olahan. Alangkah baiknya jika Indonesia lebih maksimal dalam mengembangkan industri pengolahan karetnya, agar tidak hanya berjalan di tempat saja. Setelah itu, Indonesia bisa memasarkan produk olahan karetnya ke luar negeri dengan nilai ekspor dan nilai tambah yang pasti jauh lebih tinggi, dibandingkan karet mentah saja.

Industri Karet Bertahan di Tengah Pandemi

Sektor industri sedikit banyak juga pasti merasakan efek dari Covid-19. Apalagi di Indonesia didominasi oleh para pelaku industri kecil. Namun, di tengah kesulitan ini, para pelaku industri karet harusnya tetap bisa bertahan, bahkan bisa menciptakan produk olahan yang baru.

Dengan produksi karet mentah yang sangat melimpah, wajib rasanya kita menengok pada harapan industri karet di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa karet merupakan tanaman tahunan yang beberapa bagian tanamannya bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam industri. Mulai dari kayu tanaman karet. Kita mungkin biasa mendengar kayu jati, kayu merbabu, kayu ulin dan kayu akasia digunakan sebagai bahan bangunan. Dan sebaliknya sangat jarang mendengar pemanfaatan kayu karet sebagai bahan bangunan. Ternyata, kayu tanaman karet bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan furniture

Kayu karet memiliki kerapatan atau berat jenis yang tergolong setengah berat, yaitu 0,62-0,65 g/cm3. Sehingga bisa dikatakan, bahwa kayu karet setara dengan berat jenis dari kayu akasia yang memiliki berat jenis 0,61 g/cm3, pundengan kayu mahoni yang berat jenisnya sama dengan kayu akasia. Serta berada sedikit di bawah berat jenis kayu jati yang mencapai 0,69 g/cm3.

Berbagai macam furniture yang bisa dihasilkan dari kayu karet gelondongan diantaranya adalah perangkat meja dan kursi makan, meja komputer dan rak buku. Dan yang lebih penting lagi, ternyata kayu karet bisa digunakan konstruksi bangunan ringan, seperti dinding, bingkai pintu, bingkai jendela, kusen pintu, dan kusen jendela. Selain kayu gelondongan, kayu karet dapat diolah menjadi kayu lapis atau plywood atau tripleks.

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kemampuan memanfaatkan limbah dengan baik, termasuk kayu karet limbah. Di Indonesia, kayu karet limbah bisa diolah menjadi papan partikel, papan serat, kayu lamina, arang, kertas, hingga kerajinan tangan. Hal seperti inilah yang perlu dikembangkan di Indonesia, karena kemampuan ini jarang dimiliki oleh negara lain. Sehingga, secara tidak langsung akan memberikan nilai tambah bagi industri karet di Indonesia.

Ternyata potensi industri karet Indonesia sangat cemerlang di masa lalu dan sekarang. Tugas kita bersama adalah menjaga kecemerlangan industri karet Indonesia di masa yang akan datang. Oleh karenanya, industri kecil harus tetap diperhatikan oleh pemerintah baik dari segi permodalan maupun kesejahteraan tenaga kerja.

*Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.