Beranda Kolom Sepak Pojok Sejumlah Kata Menunggu Dipakai

Sejumlah Kata Menunggu Dipakai

345
BERBAGI

Sunu Wasono

Sejumlah kata menunggu dipakai. Mereka heran kenapa kata yang muncul akhir-akhir ini hanya kata itu-itu saja: bohong, pembohong, hoax, digoreng, dizolimi, dilaporkan, fitnah, kebencian, publik, dungu, bodoh, cebong, kampret, pilpres, ganti presiden, pasal, uu it, diperiksa, saksi, tersangka, korupsi, pengalihan isu, rupiah, gempa, dolar, ulama, kriminalisasi, twit, pembodohan, rakyat, polisi, asing, aseng, bbm, alumni, rekam jejak, prestasi, tekanan, massa, keadilan, ksatria, jujur, grusa-grusu, azab, kemiskinan, pengangguran, infrastruktur.

Sejumlah kata bilang bahwa mereka tidak semuanya tua. Kalau yang tua dirasa tidak bertenaga, ada dan banyak yang muda yang siap dipakai. Para peminat dipersilakan memakai. Siapa pun boleh memakai dan tidak dipungut biaya. Adapun dampak dari pemakaian kata–kalau ada–silakan ditanggung sendiri. Dengan kata lain, dampak penggunaan kata menjadi tanggung jawab pemakainya atawa di luar tanggung jawab kata.

Sejumlah kata bertanya kapan mereka akan dipakai. Sudah sekian lama dicatat di kamus kenapa jarang atau bahkan tidak dipakai. Apakah manusia tidak bosan menggunakan kata yang itu-itu juga. Katanya kreatif, tapi kenapa terkesan miskin kosakata? Apa kata yang lain tidak perkasa. Manusia selalu ingin keadilan, tapi terhadap kata mereka tidak adil. Begitu antara lain kata mereka.

Sejumlah kata bilang capek dan kesepian. Kalau saja ada yang menjamah dan memakai, mereka senang. Ketika ditanya apakah mereka akan mengajukan tuntutan dan ultimaum bila akhirnya tak dipakai, mereka menjawab tidak akan pernah. Kata mereka, kata tidak seperti manusia: suka menuntut dan mengancam. Kata juga tidak suka berbohong dan memfitnah. Meski jarang dipakai, mereka tidak akan pernah berdemo, memprotes, atau mengajukan resolusi. Hanya karena desakan Lek Mukidi, kali ini kata bertanya. Setelah ini, kata mereka, kata tak akan bertanya atau berkata-kata lagi. Terserah manusia saja.

* Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia

Loading...