Beranda Seni Puisi Sejumlah Politikus Siap Baca Puisi di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS

Sejumlah Politikus Siap Baca Puisi di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS

193
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Sejumlah politikus Lampung menyatakan siap berpartisipasi pada perhelatan Politisi Baca Pusi di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS,  Jalan Raden Saleh Tanjungsenang, Bandarlampung, Sabtu, 3 Agustus 2019 mulai pukul 19.30 WIB.

Mereka antara lain Yuhadi (Golkar), Siti Rahma (PPP), Yozi Rizal (Demokrat), Ade Utami Ibnu (PKS), Rakhmat Husen (PDIP), Muchlas E Bastari (PKS), Akhmadi Sumaryanto (PKS), Himawan Imron (Golkar), Patimura (Gerindra), Abdullah Fadri Auly (PAN), Mingrum Gumay (PDIP), Andika Wibawa (Gerindra), Gindha Ansori Wayka (Golkar), Rosdiana, Apriliati (PDIP), Aep Saipudin (PKS), Rahmad Mirzani Djausal (Gerindra), dan lain-lain.

“Kini saatnya politisi ambil bagian di ranah sastra, khususnya puisi. Jika Chairil Anwar pernah berujar, yang bukan penyair tak ambil bagian. Justru kini saatnya politisi naik panggung ikut meramaikan guna memasyarakatkan karya sastra,” kata  Direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan (LSIS) sekaligus ketua pelaksana panggung Politisi Baca Puisi, Agusri Junaidi didampingi Sekretaris Syaiful Irba Tanpaka, Rabu (24/7).

Menurutnya, Politisi Baca Puisi merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan sastra kepada para politikus.

“Acara Politisi Baca Puisi ini kami beri tema ‘Membaca Kembali Indonesia’. Ada 32 politikus yang kami undang. Merreka antusias menyambut,” kata dia.

Sementara pengampu Lamban Sastra, Isbedy Stiawan ZS, menilai panggung sastra ini telah membuat ‘virus’ positif di kalangan politisi. Beberapa di antaranya sudah membuat puisi untuk dibacakan. Seperti Ade Utami Ibnu dan Muchlas E Bastari.

“Panggung sastra ini memang bebas bagi politisi memilih puisi untuk dibacakan. Boleh karya sendiri, bisa juga memilih dari puisi yang disediakan panitia,” ujar penyair berjuluk Paus Sastra Lampung ini.

Ditambahkannya, kalau ini virus ya virus positif. Setidaknya para politisi berlomba membuat karya puisi. “Jangan dicap baik atau buruk. Mereka mau menulis puisi saja sudah bagus,” lanjut Isbedy.

Apalagi, kata dia, sekarang siapa pun boleh ambil bagian dalam dunia sastra (puisi). Yang bukan penyair juga boleh menulis puisi.

“Persoalan puisinya itu sudah layak disebut puisi atau baru rangkaian kata dari apa yang akan dikatakan, itu soal lain. Soal jam terbang, penguasaan bahasa, mahir memilih kata yang kuat dan puitik (diksi) dan mampu menghidupkan kalimat dan bait dengan imajinasi, metafora,ironi, hyperbola, interpretasi, dan struktur puisi: enjambemen, dan sebagainya,” kata Isbedy.

Loading...