Beranda Teras Berita Sekali Lagi, Soal Seks dan Obat Kuat yang Bisa Salah Alamat*

Sekali Lagi, Soal Seks dan Obat Kuat yang Bisa Salah Alamat*

256
BERBAGI

Handrawan Nadesul

dr. Handrawan Nadesul

OBAT kuat seks acap salah alamat. Orang jadi sesat memakainya sebab problematika seksual ternyata bukan melulu cuma urusan bisa ereksi, lalu ejakulasi, seperti janji yang kini banyak diiklankan, dan pil biru berani membuktikannya. Bukan pula percaya pada janji Mak Erot, saya kira.

Kuat seks bukan pada ukuran kingsize tidaknya milik suami. Tidak pula sebatas mendongkrak potensi seks suami, melainkan juga apa di depan suami respons seksual istri sudahkah juga memadai. Apa istri memperoleh full sex dari suami, sekiranya benar suami sungguh luar biasa poten.

Barisan pertanyaan lain yang perlu dimunculkan, apa ketika suami mau, istri juga suka? Dan apa ketika istri mau dan suka, suami bisa. Atau ketika kedua-duanya butuh, apa ada cukup waktu buat seks?
Sepasang pengantin baru mengeluh tak bisa main dengan istrinya sebab pengalaman waktu lajangnya baru bisa main kalau diisap (felatio). Pengakuan yang sama juga diungkap banyak suami yang mulai jenuh dengan menu seks yang tetap konvensional.

Tidak sedikit suami yang cuma bisa main dengan istri muda, dan mendadak jadi loyo kalau berhadapan seks dengan istri tua. Untuk kasus-kasus semacam ini tentu yang dibutuhkan bukanlah obat kuat, atau yang sejenisnya, melainkan terapi jiwa. Ini sebuah bukti, bahwa pil biru bukan obat kuat segalanya, yang orang anggap bisa serbaguna.

Itu pula sebabnya, tidak semua kasus seks bisa selesai dengan “obat kuat”. Obat yang mengaku paling menjanjikan sekalipun. Namun, karena konotasi “obat kuat” telanjur membangun persepsi keliru dalam khazanah seks awam, “obat kuat” seks masih dianggap obat yang mampu serba menambah hebat tanpa jelas apa sebetulnya makna kuat yang tersirat di sana.

Kita mahfum betul bahwa problematika seks bukan semata urusan ketidakkuatan semata. Seks lelaki menjadi loyo atau disfungsi ereksi hanya satu kasus dari puluhan, boleh jadi ratusan problematika seksual kaum Adam. Kita juga masih membaca begitu banyak kasus seks yang acap dihadapi peradaban kaum Hawa. Kasus libido rendah, bisa ereksi, tapi tak kunjung ejakulasi, bisa ejakulasi tapi tidak merasa nikmat, bisa ereksi tapi begitu masuk jadi layu lagi, untuk menyebut beberapa kasus seks lelaki beristri.

Problematika seksual istri mungkin lain lagi. Sering-sering lebih ruwet sebab seks pada wanita berlaku dalil selalu bisa, namun belum tentu mau. Tidak semua wanita punya interes seks yang sama besarnya sejak lahir (low sex desire). Atau kasus tetap bisa baku intercourse dengan suami, namun belum tentu ia merasakan apa-apa di sana. Boleh jadi merasakan nikmat seks, tapi belum tentu memetik puncak seksnya (klimaks). Atau puncak seks terpetik juga, namun cuma kadang-kadang saja. Jangan kaget gara-gara punya suami yang seksnya dungu, ada istri baru tahu rasanya seks setelah kawin perak.

Pada kasus-kasus seks seperti di atas, pil biru atau obat sejenisnya tentu salah alamat. Begitu pula apabila istri selalu jelek respons seksualnya. Jangan pula salah memilih obat kuat jika istri tidak bergeming sekalipun pasangan seksnya sudah susah payah jumpalitan di ranjang kamar tidur istrinya.

Kita melihat bahwa problematika seks perkawinan ternyata bukan cuma urusan suami atau istri semata. Dalam perkawinan modern, ketika visi seks sudah sedemikian direkayasa buat rekreasi selain prokreasi, sehingga urusan seks dalam perkawinan harus menjadi persoalan interaksi antara suami dan istri. Soal komunikasi seks mereka berdua.

Pola dan gaya hidup suami-istri modern pun menambah risiko tidak sinkronnya kehidupan seks di kamar tidur. Bukan jarang libido, potensi seks, dan waktu yang tersedia di antara suami dan istri, tidak selalu bisa sinkron. Obat kuat bukan pilihan tepat buat kasus seks yang seperti ini. Tapi seks yang sepi lagi sunyi di antara suami istri juga sering menjadi bagian yang tidak kecil dalam kehidupan perkawinan modern.

Buku dr. Handrawan Nadesul: segera terbit

Dalam dunia seksualitas, kebanyakan suami modern acap disibukkan oleh sederetan panjang bahan berkhasiat yang mengaku dan menjanjikan diri sebagai obat kuat seks. Mulai dari kerang laut Karibia, cula badak, kuku beruang, tangkur buaya, pasak bumi, sampai Spanish fly. 

Orang juga meributkan hewan kuda lambang pertamina. Boleh dibilang segala jenis makanan atau bahan alam yang digunjingkan bersinggungan dengan perangkat kemaluan pria maupun wanita, serta merta orang reputasikan sebagai obat kuat (Doctrine of signature).

Barangkali itu sebabnya begitu gampang orang memproklamirkan entah apa saja seolah layak untuk dipakai sebagai “obat kuat” tanpa perlu lewat telaah ilmiah begitu saja dikategorikan sebagai obat kuat seks. Padahal, faktanya, tidak semua obat yang mengaku obat kuat seks bikin seks sungguh menjadi kuat.
Namun, suara burung dan mitos jauh lebih perkasa. Fakta kedustaan obat kuat nyatanya tidak membuat lelaki menjadi kapok dan merasa terkecoh. Buktinya pengasong obat dengan layanan antar masih menjamur di mana-mana kota besar, seolah supaya kuat seks semudah buka baju.

Makna kuat seks berbeda pada lintas bangsa dan etnis. “Good sex” bagi orang Amerika belum tentu sama dengan seks hebat buat bangsa lain. Bagi orang Amerika, seks lebih berorientasi pada “goal” dan performance seks. Bagi rata-rata orang kita, seks barangkali sudah dianggap yahud cukup asal bisa ereksi doang.

Stereotipe lelaki mencari solusi gangguan seks sering hanya berkutat pada janji obat kuat. Makanya, banyak lelaki ujung-ujungnya kecewa juga. Merasa “obat kuat” tidak memberi koreksi dalam penampilan, kemampuan, maupun potensi seksnya, itu yang kemudian membuat lelaki yang punya akal sehat merasa sia-sia.

Orang bertanya, apa semua yang mengaku “obat kuat” sungguh menambah kuat seks lelaki seperti yang orang kira selama ini? Kita mengenal “obat kuat” yang berisi hormon untuk menggenjot libido. Tapi libido itu gejala, dan sembuh dari kehilangan libido mestinya tidak serta merta membuat lelaki berubah perkasa.
Libido saja juga tidak cukup kalau organ seks sudah peot dan kuncup. Pasien kencing manis, misalnya. Disfungsi seksual bisa dikoreksi dengan obat. Tapi potensi seks yang sudah pol, yang sudah optimal, tak bisa dikatrol supaya bertambah kuat. Kuat di sini bisa berarti lamanya ereksi dan menunda ejakulasi. Sementara lama kohabitasi bukan jaminan buat kepuasan istri jika kualitas seks berkategori jongkok.

Sebut saja obat golongan amphetamine, misalnya. Lewat otak, zat berkhasiat ini bisa memperpanjang waktu ereksi dan menunda ejakulasi selain orgasmus yang mungkin bisa terjadi berulang. Efek begini hanya berlaku bagi para suami, dan malah bisa berefek sebaliknya pada kaum wanita.

Hampir semua jenis aphrodisiaca atau obat pendongkrak seks diniscaya berisikan bahan alam atau senyawa yang sejatinya hanya mengungkit libido, memberi sensasi seksual, dan mengkatrol respons seksual belaka, tanpa menjadikan pemakainya jadi kuat seks dalam arti potensinya bisa ditingkatkan.

Sensasi seksual begini barangkali yang bisa jadi orang kategorikan sebagai penambah kuat seks. Sensasi badan yang menjadi lebih “panas” seperti sehabis makan sate kambing, misalnya, itu yang sering dipersepsi sebagai “obat kuat” juga yang biasa disantap sebelum seorang lelaki menuju medan ranjang seks. Betulkah?

Penambah seks sejati sebetulnya hanya dimiliki oleh bahan alam atau senyawa yang mampu memperbaiki ereksi dan ejakulasi. Ereksi dan ejakulasi faktor primer potensi seks lelaki. Tak ada obat dengan indikasi yang sama buat potensi seks wanita. Bukankah dalam hal seks wanita senantriasa poten, kendati belum tentu selalu mau.

Obat perangsang seks buat wanita dipakai hanya untuk wanita yang libidonya tergolong rendah dan lemah. Tidak semua wanita dilahirkan dengan libido yang sama. Dan upaya mendongkrak libido tidak ada urusannya dengan menambah kekuatan seks wanita. Temuan senyawa PCPA, misalnya. Senyawa ini mampu menggelitik libido wanita sehingga respons seksualnya bisa berubah binal.

Bahwa seks wanita boleh dibilang selalu kuatnya, sehingga sebetulnya apa gunanya diperkuat lagi. Persoalan seks wanita konon lebih pada seberapa memadai respons seksual yang ditampilkannya sehingga lelaki pasangan seksnya merasa bahwa kerja keras seksualnya tidaklah sia-sia, yang akan memberi porsi kegairahan seks yang lebih besar.

Senyawa dalam marijuana berkategori aphrodisiaca juga, sebab membangkitkan gairah seks selain menambah enjoyment seks pada pemakainya. Demikian pula sensasi seksual yang dirasakan pemakai cocaine maupun heroin. Obat golongan ini yang bisa mengubah persepsi peristiwa seksual selain mengkatrol mood. Dengan demikian, kenikmatan seks terasa lebih intens dan panjang.

Namun, tak perlu berharap obat jenis itu akan menambah potensi seks lelaki, atau siapa pun. Buat kalangan homoseksual, apahrodisiaca turunan amylnitrate acap dipakai untuk memberikan sensasi orgasmus yang lebih lama. Dan tentu ini pun tidak berarti menambah kuat seks.

Perangkat seks pria maupun wanita dibangun oleh beberapa jenis hormon, dan sistem persarafan yang tentu tidaklah sederhana. Pusat seks itu sebetulnya ada di otak. Sebuah temuan baru mengungkap bahwa seks lelaki seperti halnya wanita, juga punya G-Spot. G-Spot wanita di saluran Mrs VG miliknya, sedang G-Spot lelaki ada di otak.

Di G-Spot otak inilah bermuara kontrol dan potensi seks lelaki. Sedang G-Spot seks wanita berada di sepertiga kedalaman lorong Mrs VG, hanyalah sebuah sensor paling sensitif penerima persepsi seks, sementara gairah, libido dan bagaimana respons seksualnya tumbuh, juga tersimpan di otaknya.

Seks lelaki maupun wanita berada dalam sebuah sistem bernama reproduksi. Itu amat terkait dengan kondisi kesehatan fisik maupun jiwa. Adanya penyakit, terutama penyakit jantung, ginjal, stroke, kencing manis, kerusakan saraf tulang belakang, dan penyakit menahun lain, berkorelasi erat dengan potensi seks lelaki. Kasus demikian tak sanggup dikatrol hanya dengan obat kuat belaka.

Kasus seks lelaki berusia lanjut yang surut hormon seksnya hanya bisa ditebus dengan pemberian hormon seks. Tapi hormon seks lebih untuk menggelitik libido ketimbang mengangkat barang yang paling berat di dunia itu. Satu salah kaprahnya, hormon seks dianggap sebagai obat kuat lelaki manula juga. Padahal, tidak tentu begitu.

Buat pemakai obat kuat golongan pil biru sendiri sebetulnya tidak serta merta bisa langsung “jadi bisa” bila sehabis meminumnya tak kunjung disenggol istri, dan cuma dibiarkan menganggur termangu di tepi ranjang saja. Tanpa istri rela lebih centil, obat jadi sia-sia. Namun, bukan itu alamat obatnya jika yang lumpuh libidonya.

Ada pula kasus lesu seks yang sebetulnya tidak memerlukan obat kuat apa pun selain perlu pindah tempat tidur ke hotel buat honeymoon kedua, mengoreksi buntunya komunikasi seks suami-istri, atau dengan resep selalu memberi cukup waktu luang lebih buat seks.

Soal aksesori seks, dan teknologi seks tinggi boleh-boleh saja diadopsi sebagai pelengkap belaka, dan bukan kunci pembuka potensi seks yang layu. Perlu disebut lagi, bahwa potensi seks sejatinya ada di otak. Tubuh yang sehat hanya kendaraan untuk mengangkutnya ke mana saja kita suka. Termasuk kalau mau kecemplung ke sumur seks.

*Bagian dari materi buku dr. Handrawan Nadesul yang akan segera terbit

Loading...