Beranda Views Kopi Sore Sekincau

Sekincau

1510
BERBAGI
Warga Sekincau bergotong royong menggali liang lahat untuk tetangganya yang meninggal dunia karena virus corona.
Juwendra Asdiansyah
Bukan Jakarta, bukan Bandung, Surabaya, Bandarlampung, atau kota-kota besar lainnya. Wilayah itu bernama Sekincau. Satu nama yang ketika disebut, mungkin kebanyakan orang Indonesia akan berguman, “Itu di mana?”
Di Google, tak banyak informasi tentangnya. Wikipedia hanya menulis Sekincau adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Barat, Lampung, Indonesia.
Merujuk Google Maps, Sekincau berjarak lebih 200 km dari Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung. Ia bisa ditempuh dalam empat-lima jam perjalanan berkendara.
Kemarin, Sabtu, 4 April 2020, Sekincau yang bersahaja, tiba-tiba menjadi berita. Ia dibicarakan, bukan hanya di Lampung, namun hingga seantero Nusantara.
Bukan tentang Gunung Sekincau nan memukau, bukan tentang udara yang sejuk, panorama nan indah mempesona, tanah yang subur, atau tentang buah-buahan, sayur-mayur yang melimpah ruah.
Bukan pula ihwal petani-petani yang berseri memetik kopi, penduduk yang ramah, atau masyarakatnya yang sejak puluhan tahun silam sudah menyeberang ke tanah Jawa demi bersekolah.
Bukan. Bukan itu semua. Kemarin, Sekincau ditulis dengan huruf tebal karena masyarakatnya dengan hebat, dengan tanpa syarat, menerima jenazah korban Covid 19 untuk dikuburkan di sana. Tangan mereka terbentang, tanpa banyak berteori, tanpa debat sarat apologi.
Tempat Pemakaman Umum Dusun Sri Galuh menjadi saksi jembarnya hati ulun Sekincau. Sejak pagi, mereka bergotong royong, bergantian menggali liang lahat untuk salah satu warganya yang segera “pulang”.
Dia, lelaki berusia 71 tahun yang lewat tengah malam dijemput el maut di ruang isolasi RS Abdul Moeloek, Bandar Lampung. Dia yang dipaksa menyerah oleh sergapan virus Corona yang tak pernah disangka dan diinginkannya.
Tak ada penolakan di Sekincau. Tak ada teriakan-teriakan, tak ada aksi demonstrasi yang membuat jenazah sang syuhada harus terlunta-lunta.
Bersama kumandang azan magrib eks pasien dengan nomor 10 tersebut dimakamkan oleh belasan petugas. Jasadnya menyatu dengan bumi Skala Bekhak diiringi lantunan doa semua yang hadir di pekuburan.
Terima kasih Sekincau. Dengan sederhana kalian mengajarkan banyak hal. Bahwa pada akhirnya keikhlasan, kegotongroyongan, cinta kasih, dan kemanusiaan adalah laku, adalah tindak nyata. Bukan sekadar pengetahuan, konsep, atau pidato indah di mimbar-mimbar ceramah.
Nerima nihan, Sekincau.
Loading...