Beranda Ruwa Jurai Lampung Utara Sekolah Ambruk, Laporan Sekolah tak Pernah Direspons Dinas Pendidikan

Sekolah Ambruk, Laporan Sekolah tak Pernah Direspons Dinas Pendidikan

213
BERBAGI
SDN Sidodadi atapnya nyaris ambruk dan sangat membahayakan keselamatan para siswa.
SDN Sidodadi atapnya nyaris ambruk dan sangat membahayakan keselamatan para siswa.

Feaby/Teraslampung.com

KOTABUMI–olikun, salah seorang guru di SD Sidodadi, Sungkai Selatan, Lampung Utara (Lampura) menyatakan pihak sekolah telah berulang kali melaporkan kondisi bangunan sekolahnya yang nyaris ambruk kepada Dinas Pendidikan sekitar 1,5 tahun silam.

Sayangnya, Dinas Pendidikan tak meresponsnya dengan dalih sekolah itu belum lima tahun mendapat bantuan rehabilitasi sekolah yang bersumber dar Dana Alokasi Khusus (DAK). Alhasil, atap ruang kelas I atau II pada sekolah tersebut akhirnya ambruk.

“Pihak sekolah juga telah melaporkan secara langsung kepada pak Bupati saat berkunjung di Desa Bangun Mulyo. Tapi menurut pejabat Dinas Pendidikan yang menemani pak Bupati kala itu, sekolah kami belum bisa diperbaiki,” kata dia, di kediamannya yang berada tepat di depan sekolah, Selasa (2/6) sekitar pukul 10:30 WIB.

‎Menurut pejabat Dinas Pendidikan itu, ‎kata Solikun,
Sebuah sekolah baru dapat diberikan bantuan rehabilitasi ruang kelas/sekolah yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) jika telah lima tahun lamanya tak mendapat bantuan DAK. Sementara, SD Sidodadi sendiri terakhir mendapat bantuan DAK pada tahun 2012. “Alasannya sekolah kami belum bisa diusulkan karena belum lima tahun direhab dengan menggunakan DAK,” terangnya.

Masih menurut Solikun, atap ruang kelas yang ambruk tersebut merupakan ruang kelas I, dan II yang siswanya mencapai sekitar 100 orang lebih. Di mana ruang kelas itu digunakan secara bergantian. Karena siswa  kelas I masuk sekolah pada pagi hari. Sementara siswa kelas II masuk sekolah seusai siswa kelas I pulang. ‎Sedangkan, ruang kelas III yang masih satu atap dengan kelas I atau II tersebut masih tetap digunakan karena masih cukup baik kondisinya. Namun, ‎saat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) siswa kelas III berlangsung, pihak sekolah selalu mewajibkan pintu kelas terbuka agar saat terjadi hal yang tak diinginkan, para siswa dapat segera menyelamatkan diri. ‎”‎Tentu kami, seluruh wali murid berharap sekolah kami segera diperbaiki,” harapnya.‎

Di tempat yang sama, Lela, penjaga sekolah juga mengatakan tanda – tanda kerusakan terhadap bangunan tersebut telah terlihat sejak satu tahun lalu dan semakin parah sejak beberapa bulan terakhir. “Kondisinya semakin parah dalam beberapa bulan belakangan ini,” tutur Lela.‎

Sebelumnya, ‎Camat Sungkai Selatan, Sofian Suut melalui telepon, Senin (1/6)‎ membenarkan bahwa kondisi sekolah yang berada di wilayah yang dipimpinnya tersebut sudah nyaris ambruk. Menurutnya, kondisi memprihatinkan terhadap sekolah itu telah berlangsung lama dan semakin parah sejak beberapa bulan terakhir. “Wah sudah lama itu (ambruknya). Ada sekitar 3 kelas yang atapnya mulai ambruk. Tapi kelas itu sudah dikosongkan (agar tak memakan korban jiwa),” kata dia.

Diketahui, akibat kebijakan ‘pilih kasih’ dari Dinas Pendidikan Lampura dalam menyalurkan bantuan rehabilitasi bangunan sekolah tahun 2014 silam, sejumlah sekolah yang mestinya  layak diprioritaskan mendapatkan bantuan rehabilitasi dari Dana Alokasi Khusus (DAK) harus merasakan dampak buruknya. Satu-per Satu sekolah yang terlewatkan oleh Dinas Pendidikan Lampung Utara dalam pemberian bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2014 mulai ambruk mulai dari SD 3 Abung Jayo, Abung Selatan, dan SMP 2 Abung Tinggi.

Dinas Pendidikan Lampura yang kala itu dinakhodai oleh M. Isya Sulharis lebih suka menyalurkan bantuan DAK kepada berbagai sekolah yang boleh dikatakan masih baik kondisinya. Parahnya lagi, dari 33 sekolah penerima DAK 2014, 7 di antaranya pernah mendapat DAK pada tahun 2013 silam alias dua tahun berturut – turut. Ketujuh sekolah itu yakni SDN 3 Kotabumi Ilir, SDN 2 Kotabumi Udik, SDN 6 Kelapa Tujuh, SDN 1 Kota Alam, SMPN 7 Kotabumi, SMPN 9 Kotabumi. SMPN 1 Abung Timur, SMAN 1 Kotabumi.‎

Loading...